Langsung ke konten utama

Book Review - Why Does He Do That?

 

Di akhir 2022 lalu, memilih untuk menutup tahun dengan menamatkan satu buah buku yang saya baca karena tanpa sengaja memperoleh rekomendasi bacaan dari salah seorang Psikiater di Media Sosial. Konten yang dibuatnya muncul dalam timeline media sosial Instagram yang saat itu sedang saya buka. Sejujurnya, buku ini belum begitu familiar bagi, tetapi menjadi sangat menarik untuk dipelajari lebih lanjut ketika Psikiater tersebut menjelaskan salah satu informasi pengetahuan yang ternyata selama ini keliru saya ketahui dan pahami. Buku ini berjudul "Why does he do that?".

Buku dengan total halaman 424 ini pertama kali diterbitkan pada musim dingin tahun 2002. Penulisnya sendiri adalah Lundy Bancroft, seorang workshop leader dan konsultan kekerasan dalam rumah tangga serta kekerasan pada anak. Bancroft sendiri, melalui buku ini, mengatakan bahwa melakukan konseling untuk laki-laki yang menjadi pelaku kekerasan adalah pekerjaan yang sulit. Mereka biasanya sangat enggan untuk menghadapi kerugian yang telah mereka timbulkan terhadap perempuan bahkan anak-anak. Mereka akan berpegang teguh pada alasan mereka dan justru menyalahkan korban. 

Seperti klaim yang ditulis pada cover bukunya, inside the minds of angry and controlling men, buku ini betul-betul mengupas tuntas mengenai kekerasan (dalam bentuk apapun) yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan maupun anak-anak. Bahkan, buku ini juga membahas mengenai ketika kita menjalin hubungan dengan "Controlling Partner", mereka biasanya akan membuat kita berpikir keras, ragu akan diri sendiri, merasa tidak berharga mengenai persepsi dan apa yang kita yakini. 

Berikut ini adalah rincian sederhana mengenai part dan sub-bab yang tertera dalam buku ini:

Part 1 - The nature of abusive thinking:

  1. The mystery
  2. The mythology
  3. The abusive mentality
  4. Thee types of abusive men
Part 2 - The abusive man in relationships:
  1. How abuse begins
  2. The abusive man in everyday life
  3. Abusive men and sex
  4. Abusive man and addiction
  5. The abusive man and breaking up
Part 3 - The abusive man in the world:
  1. Abusive men as parents
  2. Abusive men and their allies
  3. The abusive man and the legal system
Part 4 - Changing the abusive man:
  1. The making of an abusive man 
  2. The process of change
  3. Creating an abuse-free world

"The purpose of this book is to equip women with the ability to protect themselves, physically and psychologically, from angry and controlling men."

Begitulah Lundy Bancroft memaknai buku ini. Memang benar, setelah menamatkan sekian belas bab buku ini, selain meningkatnya pengetahuan saya soal kekerasan, saya merasa ada hal lain yang juga tumbuh dalam diri saya: Kekuatan, independensi, kemampuan untuk melindungi diri sendiri, secara fisik dan psikologis, hingga besarnya keinginan untuk menyuarakan isu-isu soal kesetaraan perempuan, Jujur saja, setelah buku ini selesai menjadi list bacaan selama sekian bulan, saya juga semakin gencar untuk membuka buku-buku lainnya agar wawasan yang sebelumnya sudah saya dapatkan dari buku ini semakin mendalam.

Pembahasan buku ini cukup luas, bukan hanya berisi kisah para pria yang pemarah dan suka mengontrol, serta bagaimana perempuan harus menghadapinya, buku ini betul-betul mengulas isu mengenai "kekerasan" dan bagaimana kita perlu memahaminya. Tidak mengerdilkan siapapun, sebab buku ini menyajikan diksi dengan sangat ilmiah dan berdasarkan pengalaman kisah nyata penulis sebagai seorang konselor pelaku kekerasan. Sebagai seorang perempuan, rasanya "Why does he do that?" ini perlu menjadi bacaan wajib. Buku ini jelas akan mempertebal semangat dan keteguhan perempuan dalam melawan ketidaksetaraan hingga kekerasan. 

Terakhir,
Buku ini di tutup dengan kalimat dan pesan yang semestinya tersampaikan untuk semua laki-laki dan perempuan:

"Abuse is the product of a mentality that excuses and condones bullying and exploitation, that promotes superiority and disrespect, and that casts responsibility on to the oppressed. All efforts to end the abuse of women ultimately have to return to this question: How do we change societal values so that women’s right to live free of insults, invasion, disempowerment, and intimidation is respected?

Encourage the women in your life—your friends, sisters, mothers, daughters—to insist on dignity and respect, to have faith in themselves, to be proud. Expect boys and men to be respectful, kind, and responsible, and don’t settle for less. Again, men have a particularly important role to play in cultural change. When a father tells his son, “I don’t want to hear you saying bad things about girls,” or “No, I’m not going to let you have a ‘boys only’ birthday party, that’s prejudiced,” the boy sits up and takes notice. Anger and conflict are not the problem; they are normal aspects of life. Abuse doesn’t come from people’s inability to resolve conflicts but from one person’s decision to claim a higher status than another."

Kekerasan adalah produk dari mentalitas yang membiarkan terjadinya intimidasi serta ekspolitasi, mempromosikan superioritas dan perasaan tidak menghargai satu sama lain. Semuanya perlahan bisa diubah, bahkan dari hal-hal paling dasar, yakni dengan membimbing diri sendiri serta mengajarkan anak-anak hormat, baik hati, dan bertanggung jawab dalam memperlakukan orang lain. Ajarkan pula mengenai kesetaraan dan bagaimana seharusnya seorang perempuan diperlakukan.

Selamat membaca buku ini. Mari mulai melakukan perubahan, dari diri sendiri, dan orang-orang di sekeliling kita :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den