Langsung ke konten utama

STEREOTIP TENTANG MENJADI PEREMPUAN SINGLE: BAGAIMANA KITA HARUS MEMAKNAINYA?


Source: https://cdn.idntimes.com/

“Sudah umur berapa sekarang? Kok belum nikah juga?”

“Jangan sekolah terus, nikahnya kapan?”

“Kapan mau nikah? Nanti malah kehabisan stock laki-laki, lho.”

Sudah berapa banyak kalimat seperti di atas yang kita dengar? Yang mungkin saja tidak hanya disampaikan oleh orang-orang yang tanpa sengaja bercengkerama dengan kita, tetapi juga oleh orang terdekat seperti keluarga. Bagaimana rasanya ketika mendengar kalimat-kalimat itu? Mengapa kita harus mengalah pada sesuatu yang terasa mengerdilkan perempuan?

Membicarakan mengenai perempuan dan segala pencapaian yang mengiringi perjalanannya memang selalu menjadi hal yang menarik, tetapi tidak bagi mereka yang masih terjebak dalam pola pikir patriarki. Perempuan di-nomorduakan, dibatasi kebebasannya, dan dilabeli dengan berbagai stereotip apabila tidak sejalan dengan tradisi yang dipegang teguh oleh perempuan lain pada umumnya. Ketika perempuan membuat pilihan yang tidak biasa, maka akan dianggap pembangkang. Ketika perempuan memilih jalan yang berbeda, maka akan dianggap tidak menghargai nilai-nilai yang telah ada.

Sejak kecil, sebagian dari kita mungkin pernah berfantasi mengenai pernikahan kita kelak, membayangkan siapa laki-laki yang akan menjadi sosok pendamping dan betapa bahagianya kehidupan setelah pernikahan nantinya. Konsep itu kemudian semakin terbentuk ketika ada pemberian label bahwa pernikahan adalah salah satu puncak kehidupan yang harus dituju sehingga kita mengimajinasikan tentang pernikahan dengan segala sesuatu yang indah.

Semakin dewasa, kita kemudian semakin menyadari dan belajar bahwa menjalin sebuah hubungan tidak semudah ketika kita mengimajinasikannya. Pada akhirnya, kita mungkin sering mendengar pesan-pesan yang berbahaya untuk kaum perempuan, pesan yang menyiratkan bahwa sebagai perempuan kita cukup ditentukan oleh siapa kita berkencan atau bagaimana status hubungan romantis kita dengan orang lain, bukan ditentukan oleh definisi unik mengenai siapa diri kita sebenarnya, segala pencapaian, dan tindakan yang kita lakukan untuk membangun kesejahteraan orang-orang di sekeliling kita.

Barbara DiGangi, seorang Pekerja Sosial Master Berlisensi dan ahli gender pernah berkata:

"Unfortunately, both the direct and implicit messages women receive from an early age is that our self-worth is attached to our attractiveness and our dating life. Women tend to be perceived by their peers in how they are valued by men. We see women all the time referred to as 'so-and-so's wife'. We are held to expectations that one of the greatest things to be celebrated in life is a wedding. These messages are harmful because they imply that we are defined by who we date and our marital status instead of our unique definition of who we are."

Mengapa ada perbedaan pandangan antara seorang perempuan dan laki-laki yang memilih untuk melajang? Laki-laki yang memilih untuk menjalankan hidupnya tanpa seorang pendamping hanya akan dinilai “kesepian” dan orang lain yang melihatnya tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh. Berbeda halnya dengan perempuan yang memilih untuk tetap menjadi seorang single, akan ada anggapan mereka adalah perawan tua yang sulit menemukan pasangan hidupnya, entah karena terlalu keras kepala atau memang terlalu pemilih.

Sayangnya, anggapan itu hanyalah penilaian subjektif. Mereka lupa untuk mempertimbangkan kenyataan bahwa beberapa perempuan tidak mempercayai pernikahan dan memilih untuk tetap sendiri karena alasan-alasan tertentu, yang salah satunya adalah gambaran peristiwa di masa lalunya. Barbara DiGangi dalam artikelnya yang berjudul “The Most Ridiculous Stereotypes About Single Women” juga menyebutkan:

"Many women feel the need to defend why they're single when it can very much be a choice or "I know what I want and I just haven't found it." Perhaps as a society we should be focusing on how men can treat women better instead of how women "should" or can alter themselves to attract men."

Perempuan yang tetap memilih untuk sendiri perlu membela diri mereka dan harus menegaskan bahwa mereka tahu apa yang sebetulnya mereka inginkan dan saat ini mereka memang belum menemukannya. Lebih lanjut, Barbara DiGangi menuliskan 10 hal-hal keliru yang diasumsikan untuk seorang perempuan, tidak peduli berapapun usianya, yang belum menikah, antara lain:

  1. Mereka diam-diam ingin menikah
  2. Mereka adalah “Cat Ladies”
  3. Mereka tidak menginginkan anak
  4. Mereka kesepian
  5. Mereka tidak terpenuhi
  6. Mereka terlalu fokus pada karir
  7. Mereka tidak berhubungan seks
  8. Mereka Benar-benar melawan pernikahan
  9. Mereka adalah “bitches”
  10. Mereka mengintimidasi

Asumsi-asumsi di atas sungguh menyakitkan bagi kaum perempuan dan harus benar-benar dihentikan.

Lebih lanjut, terdapat sebuah penelitian ilmiah yang menganalisa mengenai perbedaan keinginan menikah pada perempuan dan laki-laki. Patricia Frazier, Nancy Arikian, dan Steven Maurer melakukan sebuah penelitian berjudul “Desire for Marriage and Life Satisfaction among Unmarried Heterosexual Adults” untuk mengkaji faktor-faktor yang mungkin mendasari tren pernikahan, alasan seseorang melajang, keinginan untuk menikah dan kepuasan hidup. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel komunitas dari 217 orang dewasa yang belum menikah berusia di atas 30 tahun. Dari penelitian tersebut ada beberapa point penting yang ditemukan, antara lain:
  1. Orang dewasa yang belum menikah menyebutkan bahwa memilih menjadi lajang adalah baik untuk hambatan maupun pilihan
  2. Pria lebih menginginkan pernikahan daripada perempuan. Pria memiliki keinginan yang lebih untuk menikah daripada perempuan karena mereka memiliki lebih sedikit dukungan sosial
  3. Perempuan yang bercerai memiliki keinginan paling sedikit untuk menikah
  4. Individu yang bercerai juga melaporkan lebih banyak kepuasan hidup daripada individu yang belum pernah menikah
  5. Individu yang belum pernah menikah memiliki lebih banyak keinginan untuk menikah
Membangun hubungan romantis yang serius bahkan hingga ke jenjang pernikahan bukanlah pilihan yang mudah, dan hal itupun sudah dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian yang dilakukan oleh Patricia Frazier dan kawan-kawan. Maka kita pun sebagai perempuan perlu menanamkan keyakinan pada diri sendiri bahwa tidak apa-apa untuk memilih sendiri saat ini, tidak apa-apa untuk tidak memilih pilihan yang sama seperti perempuan lainnya. Tidak apa-apa, tidak perlu kita membandingkan diri dengan siapapun. Sebab kita memiliki cara yang berbeda untuk mencari kebahagiaan dan memaknai hidup yang kita jalani. Lalu dari segala stereotip mengenai menjadi perempuan single, bagaimana kita harus memaknainya?

1.    Mari mencintai Kebebasan

Dilansir dari laman herworld.co.id, seorang Psikolog dan peneliti dari Burke Hagemeler Universitas di Jerman mewawancarai sekitar 1.000 orang perempuan berusia 18-73 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan merasa lebih nyaman hidup sendiri dibandingkan dengan pria.

"Bisa melakukan apa yang saya inginkan" jadi alasan utama perempuan sangat menghargai kebebasan melajang dan tidak merasa kesepian meski hidup sendiri. Oleh karena itu, cintailah apapun yang saat ini menjadi pilihan kita, termasuk mencintai kebebasan yang kita pilih.

2.    Tetaplah berjuang untuk pulih dari pengalaman traumatis di masa lalu

Memberikan label negatif pada perempuan yang memilih untuk menghindari hubungan romantis maupun pernikahan rasanya bukan keputusan yang bijaksana, sebab bisa saja alasan mereka menghindari suatu hubungan karena pengalaman traumatis di masa lalu. Barangkali mereka tidak mempunyai role model mengenai hubungan yang baik untuk dijalani itu seperti apa. Oleh karena itu, akan sulit bagi mereka untuk mendefinisikan bahwa sebuah pernikahan akan memberikannya kebahagiaan.

3.    Tidak apa-apa untuk fokus menggapai mimpi terlebih dahulu

Ketika menjadi seorang single, akan lebih mudah bagi perempuan untuk menentukan pilihannya sendiri. Namun ketika berada di dalam suatu hubungan, ada banyak hal yang tentu saja harus dipertimbangkan bersama.

Dilansir dari laman herworld.co.id, penelitian dari Pew Research Center mengungkapkan bahwa pria lebih mudah melakukan hobinya meski ia sudah menikah. Penelitian ini didasari dari survei 73% pria yang mengutarakan mudah saja melakukan apa yang ia suka saat bersama istri. Lalu bagaimana dengan perempuan? Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika selama melajang kita memfokuskan diri untuk menggapai mimpi-mimpi yang dimiliki terlebih dahulu. 

4.    Belum merasa cukup secara emosional untuk membangun hubungan yang serius? Maka tidak apa-apa!

Ada yang mengatakan bahwa membangun pernikahan akan membuat kita belajar untuk dewasa. Ungkapan tersebut tidak salah, tetapi juga tidak benar sepenuhnya. Bagaimana kita akan membangun hubungan pernikahan jika kita masih dalam proses mematangkan kondisi emosional kita?

Pernikahan memang akan membuat kita mempelajari banyak hal, tetapi bukan berarti kita menjatuhkan diri dalam hubungan tersebut tanpa persiapan apapun. Maka tidak apa-apa, untuk mempersiapkan diri perlahan-lahan saja.

5.    Kita membutuhkan waktu untuk bertemu sosok yang tepat

Membangun suatu hubungan jangka panjang artinya akan banyak waktu yang kita lakukan bersama dengan pasangan. Akan menjadi hal yang tidak mudah terlebih kita datang dengan karakter yang berbeda. Untuk itu, kita membutuhkan banyak waktu untuk kembali mengenali diri mengenai pasangan seperti apa yang kita inginkan untuk mendampingi kita ke depannya.

Ladies, tidak apa-apa jika saat ini kita memilih untuk tetap sendiri. Tidak perlu ragu apalagi sampai malu untuk memilih itu sebagai sebuah keputusan. Kita berhak memilih jalan yang berbeda, selama itu membuat kita nyaman dan dapat dipertanggung jawabkan, maka lakukanlah. Kita tidak perlu izin siapa-siapa untuk bisa bahagia dengan cara kita sendiri😊

 

REFERENCES:

Howard, Laken. 2016. The Most Ridiculous Stereotypes About Single Women. (2016). Retrieved from: https://www.bustle.com/articles/189282-10-stereotypes-about-unmarried-women-that-have-got-to-go (28 September 2022)

Riama Priskila, Kiki. (2021). Alasan Wanita Tidak Mau Menikah. Retrieved from: https://www.herworld.co.id/article/2021/4/18203-Alasan-Wanita-Tidak-Mau-Menikah (28 September 2022)  

Frazier, Patricia, et al. (1996). Desire for Marriage and Life Satisfaction among Unmarried Heterosexual Adults. Journal of Social and Personal Relationship. Retrieved from:  https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0265407596132004

Baron, R.M. & Kenny, D.A. (1986) `The Moderator-Mediator Variable Distinction in Social Psychological Research: Conceptual, Strategic, and Statistical Considerations', Journal of Personality and Social Psychology 51: 1173-1182.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den