Langsung ke konten utama

BURUNG-BURUNG TAK BERSAYAP


“Aku seharusnya telah lama pergi. Sebagai perempuan, aku merindukan kebebasan. Aku ingin mewujudkan segala impian. Lembah ini cantik, tetapi menyakitkan.” batinku.

Aku berjalan dengan kaki telanjang di pesisir Pantai Lembah Seroja. Sore itu, mentari beranjak malu-malu. Tampak lelah, sebab hampir sehari penuh membersamai hiruk-pikuk kehidupan penduduk Lembah Seroja. Gerombolan burung wallet berterbangan hendak kembali ke peraduannya. Mungkin terlalu asing bagi mereka, terbang dengan pendaran cahaya sang surya. Maka kembalilah mereka ke dalam gua, menuntaskan tugas ‘tuk membangun sarang dalam gelap dengan lelehan air liurnya.

“Tarik! Menepi!” teriak nelayan, memekakkan telinga.

Tiga orang lelaki paruh baya menarik tambang yang melilit bagian depan kapal. Dua orang lainnya mendorong dengan seksama bagian belakang. Kapal kayu itu terombang-ambing sejak mesinnya menderu-deru di tengah laut hingga menyentuh bibir pantai. Bagian atasnya beratapkan kayu yang telah merapuh. Serbuk kayunya bercecaran di lambung kapal bergerak kesana-kemari dalam genangan air laut yang terhempas masuk ke badan kapal bersamaan dengan gulungan ombak lautan. Beberapa lubang menganga tertinggal di sebagian sisi kapal, seperti bekas patukan burung- burung pencakar langit.

“Perutnya mengembung.” Mayat ini jelas berada di lautan lepas selama sekian hari, sebab tubuhnya lebam membiru, nyaris tak dapat dikenali. Tidak ada bau yang menyeruak dari tubuhnya, barangkali ini terjadi sebab ada banyak akar wangi yang tumbuh liar di sepanjang delta yang bermuara ke lautan lepas. Tapi mayat ini jelas perempuan, rambutnya terurai, dan di lengan kanannya terdapat gelang perak yang melingkar indah. Sungguh naas nasibnya.

Seorang perempuan tua dengan rambut yang sepenuhnya telah memutih menghampiri dengan gamang. Berlari pelan menghampiri kami sambil memapah kendi berukuran kecil dengan kepulan asap sesajen di tangan kanannya. Mak Kunir, kami memanggilnya.

“Gadis ini, Saraswati. Perempuan 25 tahun yang tak kawin, kabur ke kota dua bulan yang lalu.” kata Mak Kunir. Dia Saraswati. Saraswati-kah?

Sulaeman, salah satu nelayan dengan tubuh yang gempal hampir menyentuhnya sebelum ditepis oleh Mak Kunir dan ia berkata, “Berani-beraninya kau sentuh dia. Petaka!” Sulaeman kemudian mundur dan mengernyitkan dahi. Keringat mulai bercucuran. Tampak takut dan bertanya-tanya.

“Apa kamu melihatnya?” Matanya menatapku tajam, perempuan itu. “Nenek buyutku baru saja berbisik, sampeyan sabanjuré.” Kamulah yang selanjutnya.

Mak Kunir meruntuhkan pertahananku. Aku menarik nafas dan menatapnya dengan singkat, berbalik, lalu meninggalkan tempat itu. Sore itu, aku tak langsung pulang. Kabar penemuan mayat seorang “gadis pembangkang” pasti sudah berhembus membelah kesunyian desa. Aku mengerti sekali lagi, perempuan tetap terpojokkan, meskipun mayatnya telah tergeletak tak karuan.

***

Hari ini, temaram di Lembah Seroja agak berbeda. Langit sore tak seteduh biasanya. Semilir anginnya tak lagi mengusap lembut wajah. Kabar duka yang berhembus memupuk gelisah. Banyak Ibu menggandeng anaknya agar segera berdiam diri di dalam rumah. Desa sedang tidak baik-baik saja, aku pun bisa merasakannya.

“Kamu pasti sudah dengar, Laksmi.” Menur memiringkan wajahnya, menatapku. Aku mengangguk pelan.

“Kata Mak Kunir, aku yang selanjutnya.” kataku singkat, sambil memilin ekor baju, seperti anak kecil yang dilanda gelisah.

“Mana bisa begitu?” Menur, sekali lagi bertanya. Kami menoleh dan saling berpandangan sesaat. Kepakan burung-burung camar menyadarkan kami.

Rumah Menur memang tak pernah sepi, meski berada di Muara sungai. Beberapa warga memilih mendiami daerah itu. Jika membuka pintu belakang rumah, akan dijumpai barisan bukit hijau yang memagari desa. Beberapa ratus meter ke depan terhampar lautan biru dengan pasir putih yang berkilauan diterpa cahaya matahari. Pantai itu nampak cantik, meski tak sepenuhnya, sebab beberapa bagian di bibir pantai ditumbuhi karang-karang besar. Karang itulah yang dijadikan alat oleh para Ibu di kampung kami untuk membuat anak-anaknya gusar. Jika sampai sore tak satupun anaknya beranjak pulang, mereka bilang akan ada dedemit yang datang dari karang-karang itu dengan rambut tergerai hingga mata kaki dan kulit wajah menghitam. Cukup menakutkan, tetapi semakin dewasa kami justru menyadari, itu hanya akal-akalan.

Kembali ke pembicaraanku dan Menur sore ini.

Aku mengangkat kedua bahuku. “Dia terlalu mengada-ada. Kamu ingat kan, dulu Mak Kunir yang bilang kalau anak Gendis itu kutukan?”

Menur terbahak-bahak. Sadar tindakannya berlebihan, ia segera menutup mulut, tapi suara cekikikan-nya masih jelas melintas di telingaku. “Kutukan dari mana? Dokter di kota jelas-jelas sudah berikan diagnosanya.” jelasnya.


“Habislah sudah kalau ada dua perempuan macam Mak Kunir di desa kita ini.” kataku, sambil menggeleng-gelengkan kepala, menyadari betapa konyolnya apa yang perempuan tua itu sampaikan pada Gendis, teman satu sekolah kami dulu.

“Satu saja sudah bikin kita gila.” Menur meneruskan kegirangannya.

Kami tertawa singkat, memecah kesunyian sore di beranda rumah milik keluarga Menur. “Mak Kunir mau meneruskan pemikiran gilanya, kan?” tanyaku.

“Ia benar-benar mengkambing-hitamkan perempuan-perempuan kampung ini yang tak tau apa-apa, Menur.” lanjutku.

Menur mengangguk pelan, ia menyetujuinya. “Tapi bahkan orang tua di kampung ini mempercayai kegilaannya. Kita tidak diperbolehkan untuk sekolah lagi. Tiga tahun setelah kelulusan dari SMA Muara Seroja, kita bahkan tak pernah jadi apa-apa. Kalau Bapak kita bilang harus kawin malam ini, ya harus kawin, bahkan dengan laki-laki gila sekalipun. Kasihan sekali ya kita ini.” Menur berbicara dengan tatapan nanar ke depan. Apa yang Menur katakan sepenuhnya benar.

Kami ini seperti burung tanpa sayap, batinku.


“Kamu bilang kita ini bagai burung tanpa sayap, kan?” Ia mengulangi kalimatku.

“Punya keinginan untuk terbang jauh meninggi, keinginan itu menderu-deru, tapi orang lain mematahkan sayap-sayapmu. Jadi kita bisa apa? Jangankan terbang, berjalan saja sudah pincang tak karuan.” lanjutnya.

Aku merangkul bahunya. “Kamu benar. Tak ada satu bagian pun dari kalimatmu yang keliru. Tapi jangan lupa, negeri ini pernah punya perempuan setangguh Dewi Sartika, seteduh Kartini, dan semenakjubkan Cut Nyak Dien. Kalau semesta merestui, bukan tidak mungkin kita bisa jadi salah satu penerus mereka.” kataku menghibur.

Menur mengangguk. Aku tahu, dia tak sepenuhnya setuju. Kalimat itu hanya menghiburnya, tapi tak akan mengubah apapun. “Paling tidak, kalau mimpi-mimpi kita tidak nyata, maka kalimatmu barusan lah yang paling nyata.” katanya dengan wajah sedikit menunduk. Menur, si gadis paling cantik di Lembah Seroja, sore itu tampak mengeluh. Kami, mengeluhkan kehidupan.

“Tapi Laksmi, Raden Ajeng Kartini punya suami yang mendukung mimpinya. Kalau kita?” Aku terdiam, Pertanyaan Menur barusan cukup menusuk.

“Maka menulislah.” kataku singkat.

Menur menautkan kedua alisnya, dia terlihat bingung. “Apa gunanya?”

Aku merangkulnya singkat. “Tentu ada. Sastra pernah mengubah pandangan negeri ini di era tahun 1920 1940an. Tulisan yang terkadang hanya dianggap deret kata melahirkan pandangan baru, memprotes keyakinan-keyakinan yang dianggap terlalu mengekang perempuan, mendobrak kepercayaan dominan yang pada akhirnya mengerdilkan perempuan. Menulislah, Menur. Maka kita akan tetap hidup.”

“Darimana kau tau itu, hei?” Dia tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.

“Cora Vreede-De Stuers, penulisnya. Ia menuliskan gerakan dan pencapaian perempuan- perempuan Indonesia. Aku begitu mencintai apapun yang ditulis dalam bukunya.” jelasku.

“Dua bulan lalu Paman datang dari Pulau Jawa, dan buku itu aku temukan di sudut rumah panggungnya. Hampir menjadi bungkus gorengan, sebab beberapa halaman sudah dirobek menjadi dua bagian.” lanjutku.

“Kamu memang menakjubkan, Laksmi.” puji Menur.

“Dan betapa beruntungnya aku, punya sahabat secantik Menur ini.” kataku membalas.

Kami tersenyum bersamaan dalam balutan langit desa yang sudah sepenuhnya menggelap. Bapak pasti mengomeliku kalau tahu aku menghabiskan sore di rumah Menur. “Perempuan itu jangan keluyuran terus, diam saja di rumah dan urus keluargamu.” Pasti kalimat itu yang akan aku dengar. Angin malam mulai turun dari bukit, hembusannya membuat kulit-kulit meremang. Tidak ada yang perlu ditertawakan lagi hari ini, bahkan ucapan Mak Kunir seperti hilang tak berbekas. Aku (memilih) melupakannya.

Menur hampir meneruskan percakapan kami sebelum sorotan lampu dari truk-truk besar mengepung halaman rumahnya. Aku mengernyitkan dahi, menoleh pada Menur dan bertanya lewat tatapan mata.

“Itu truk-truk Batalyon. Bapak bilang bulan ini Tentara-Tentara akan mulai menjaga

perbatasan.” katanya menjelaskan.

Aku mengernyitkan dahi, sekali lagi. “Apa yang membuat kampung ini harus dijaga?” batinku. Berharap-harap cemas, barangkali kedatangan prajurit negeri akan mengubah nasibku dan Menur. Aku tersenyum singkat.

***

“Laksmi mau kuliah Pak, kalau menyeberang ke Pulau Jawa, Laksmi bisa ikut ujian salah satu Universitas di sana. Ada beasiswa juga, nanti Laksmi akan usaha untuk dapatkan itu.” Kalimat ini tak pernah berganti susunannya. Aku sudah mengatakannya bahkan beratus-ratus kali, entah Bapak sedang menyibukkan diri di Kandang sapi, sedang menyusun karung-karung gerabah, sedang tenggelam dalam koran-koran yang setiap pagi tergeletak di beranda rumah, atau sedang menyesap kopi hitam di atas kursi.

Bapak tetap tak menjawab. Aku memainkan kuku jari, sesekali memilin ujung baju yang kukenakan. Berharap pagi ini keberuntungan memihakku. Kalau saja dengan memelas Bapak bisa mengiyakan, maka akan kulipat kedua telapak tangan dan memohon padanya agar sekali ini saja mengabulkan keinginan terbesarku, tapi nihil, Bapak tetap tak bergeming. Aku berusaha memecah keheningan di atas meja makan. Ibu dan Bayu, adik laki-lakiku, pun dibuat tak bergeming. “Kalau aku kuliah, aku bisa….”

“Bisa apa?” tanya Bapak singkat. Aku bertanya-tanya dalam hati, Bapak sedang mengajakku berdiskusi atau ingin memulai peperangan di meja makan.

“Bapak tau, Mak Kunir sudah mengutukmu.”

Aku tercengang. “Dia mengada-ada. Dia dukun palsu.” kataku membantah.

“Saraswati, mati karena lehernya dicekik, mayatnya dibuang. Beruntung hiu-hiu tak mencabiknya. Dia tidak kawin di usianya yang ke 25 tahun. Kamu masih mau bilang apa, Laksmi?” ujar Bapak.

Di kampung ini tidak ada hiu, bantahku dalam hati. Aku cukup malas untuk memulai perpecahan. Bapak terlalu keras kepala, dan sebaliknya, ia pun menganggapku keras kepala. Kami sama-sama keras kepala.

“Kamu harus segera dikawinkan. Biar terbangun kewarasanmu.”


Aku membelalakkan mata. “Aku tidak gila.”

“Kamu tidak gila, tapi mimpimu itu yang buatmu gila.” katanya, menjawabku.

Kamu tidak gila, tapi mimpimu itu yang buatmu gila.

Menur benar. Kami akan tetap menjadi burung. Manusia tanpa mimpi, bagai burung tanpa sayap. Dan aku percaya sekali lagi, orang yang paling mudah mematikan mimpi-mimpi kita adalah orang yang paling dekat dengan kita. Bapakku, menganggapku gila, dan akan segera mencarikan lelaki untuk mengawiniku. Kenyataan yang sungguh pahit.

***

“Yudhistira.” katanya, memperkenalkan diri. Dia Letnan Satu, pikirku. Ada dua balok emas di bahunya. Pak Karim, guru kewarganergaan di SMA Muara Seroja, pernah menjelaskan singkat.

“Letnan Yudhistira. Panggil saja Letnan… Yudhis…” Menur melengkapinya. Aku mengangguk, mengiyakan.

Aku menatapnya sejenak. Letnan Yudhis tingginya jauh di atasku, sekitar 185 sentimeter. Kulitnya menggelap, aku paham, itu karena ia ditempa sekian tahun di medang perang. Ia menautkan alisnya yang tebal sesaat. Ada lesung pipi di kedua sisi wajahnya. Dari perawakannya, Letnan Yudhis adalah laki-laki yang tegas dan dingin, sepertinya. Dia membalas tatapan dan menjabat tanganku dalam sekali sentakan.

“Laksmi.” kataku singkat, memecah perasaan canggung di antara kami.

Dari pertemuan pertama kami, aku menyadari bahwa usianya beberapa tahun di atasku. Benar saja, Menur yang mengatakannya, bahwa usia lelaki ini 7 tahun di atas kami. Pantas saja aku begitu segan padanya.

“Kenapa datang ke kampung kami, Letnan?” tanyaku, memberanikan diri.

“Kami ini Satgas, yang menjaga perbatasan.”

Aku terdiam dan menimbang sejenak untuk kembali bertanya. “Aku sering dengar itu, tapi ini kali pertama kampung kami kedatangan puluhan tentara, atau ratusan, ya?”

“Pertama kali, dan jumlahnya banyak.” katanya singkat. Ternyata Letnan ini pelit sekali bicara. Menur menyela percakapan singkat kami. “Letnan Yudhis ini bawa pasukan banyak, Laksmi. Hebat-hebat.”

Aku mematung, mencari-cari jawaban untuk menyudahi basa-basi ini. “Kalau memang hebat, coba tunjukkan caranya membebaskan perempuan di kampung ini.”

Laki-laki itu menautkan kedua alisnya, lagi. Ia tampak bingung dengan respon yang aku berikan. “Kenapa?”

“Tidak ada kenapa. Letnan, kau hanya perlu mengajari kami, bagaimana burung bisa terbang, jika sayap-sayapnya telah dipatahkan?”

Sekali lagi, kami ini burung-burung tanpa sayap.

Laki-laki itu tak bergeming. Ia tetap berdiri di tempatnya mencerna kalimat yang baru saja didengarnya, meskipun aku dan Menur telah berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kami membelah desa pagi itu. Aku bisa merasakan dari ekor mataku, ia menatap kepergian kami dengan seribu pertanyaan yang menumpuk di dadanya.

***

Hari ini berbeda, langit kelabu menggantung di langit-langit desa. Gerimis kecil membungkus keheningan Lembah Seroja. Tak ada nelayan yang mengaitkan perahunya di Pelabuhan. Mungkin mereka sudah terlelap di kasur kapuk setelah semalaman mencari peruntungan di tengah lautan. Dua orang petani berjalan di depan kami dengan potongan daun pisang yang memayunginya. Di ujung jalan nampak anak kecil mengayuh sepeda dengan cekatan, baju putihnya berubah kecokelatan karena tempias air hujan, di keranjang sepedanya berjejer kaleng-kaleng berisikan susu kambing. Ah, Imron. Anak kecil itu, Imron.

Keheningan nampak menggema sepagi ini. Aku berdiri sekian puluh meter dari bibir pantai. Bapak bilang, pagi ini akan ada ikan dari Pulau seberang yang di lelang di sekitaran pantai. Sudah tiga puluh menit berlalu, tak ku temukan apapun. Tak ada lelang, hanya dua tiga nelayan sibuk mengepak ember dan jaring sisa tangkapan semalam. Sepertinya ini masih terlalu pagi, kataku dalam hati.

Aku hampir berbalik. “Kamu berhutang penjelasan padaku.”

Aku berjingkat hampir jatuh ke belakang, tapi tangannya menahan lengan kiriku yang tak memegang apapun. “Penjelasan apa, Letnan?”

“Pembebasan seperti apa yang kau maksud?” Ah, dia meneruskan pembahasan kami yang sengaja kuputus kemarin sore. Ternyata, dia tertarik.

“Letnan, kau itu lelaki kota. Tak mungkin rasanya kau tak memahami apa-apa.”

“Aku datang untuk menjaga perbatasan, bukan untuk menjamin kebebasan.” katanya tak acuh.


Aku tersenyum masam. “Kamu tak menjaga apapun bagiku. Mau di perbatasan atau tidak, kamu bahkan tak pernah bisa menjaga apapun yang kami miliki.” Aku mengalihkan pandangan ke lautan lepas. “Siapapun yang datang ke Lembah ini, bagiku takkan pernah mengubah apapun. Kami tetap tak punya kebebasan yang sedikitpun bisa dicicipi. Siapapun yang meminta kami untuk dikawini hari ini, maka harus kami terima meski dengan setengah hati. Apapun mimpi dan cita-cita kami, tak ada seorangpun yang mau peduli dan belajar memahami. Kami ini seperti burung, burung-burung tak bersayap.”

“Kami?” tanyanya bingung.

“Ya, kami. Aku dan gadis-gadis Lembah Seroja.”


Kami saling terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hembusan angin laut mengusap lembut wajah, membuat sesekali mengerjap dengan gelisah. Masing-masing dari kami menggenggam payung, tapi tak bisa dipungkiri, kami berdiri dengan sebagian tubuh yang basah. Burung-burung laut tak lagi menggaungkan nyanyian, sebab deru kapal-kapal ikan lebih dulu memecah kesunyian. Bapak tak bergurau, lelang ikan akan segera dimulai. Aku beralih, meski sisa hujan menggenangi jalan-jalan pelabuhan dan membuatku beranjak dengan enggan.

“Yang kau maksud terjebak dalam patriarki, itukah?” Pertanyaannya menghentikan langkahku. Aku menoleh dan menatapnya singkat.

“Kau memang lelaki cerdas.” pujiku.

Dia tersenyum kecut. “Jangan berlebihan, aku datang untuk menuntaskan pengabdianku. Bukan untuk menyembuhkan kegalauanmu.”

“Jangan salah mengartikan, Letnan. Itulah mengapa sejak awal aku bilang, bahwa kedatanganmu takkan mengubah apapun.”

Aku meninggalkannya, sekali lagi. Belum puas menjawab kalimatnya, aku pun berbalik. “Dan aku lupa, kamu tak ada bedanya dengan Mak Kunir. Dukun palsu yang membuat gadis-gadis kampung ini hidup dalam penderitaan. Berhati-hatilah dengannya.” Dia menatapku nanar dan tenggelam dalam kebingungannya.

***

Sudah tujuh bulan berlalu, sejak kedatangan Tim Satuan Tugas di Lembah kami. Hampir seluruh penduduk Lembah Seroja menyambut dengan riang kehadiran mereka. Setiap pagi buta nelayan datang dengan wajah yang terlampau senang, ikan tangkapannya bergelimang, kapal-kapal dimodifikasi dengan deru mesin yang lebih tenang. Petani-petani berjalan berjingkrakan, sebab Tim Satgas memperkenalkan mesin-mesin penggembur tanah yang lebih modern. Tak perlu berlelah-lelah memecut kerbau agar berjalan di atas tanah yang berlumpur. Mereka mendatangi sekolah-sekolah, sesekali memandu pelajaran dengan begitu gagah, murid-murid menyambut kedatangannya dengan sumringah.

Mereka memang mengubah segalanya, Lembah Seroja nampak berbeda beberapa bulan belakangan. Namun aku dan Menur tak merasakan apapun. Kami tetap bagaikan burung yang mengepak-ngepakkan bayang-bayang dari dua helai sayap. Sudah sekian tahun berlalu, mimpi kami untuk pergi ke Pulau Jawa kini terasa membenam tak berarti. Aku dan Menur yang dulu begitu menggebu, lambat laun merasakan lelah dan ingin berhenti, sebab tak satupun keyakinan kami yang terealisasi. Bagiku, kami bukan lagi burung tak bersayap, tapi burung yang hampir mati.

Di hari keempat puluh kematian Saraswati, Tetua Kampung mengadakan ritual pengepulan asap di atas ubun-ubun kami. Kami, gadis-gadis di Lembah Seroja. Mak Kunir si pencetus ide, Wak Iwak lah yang mengeksekusi. Ide gila, yang akupun tak tahu apa pemaknaannya. “Bencana ini tak boleh terulang lagi. Nenek moyang kita pasti menangisi nasib Lembah ini. Terlalu banyak gadis-gadis yang membangkang.” Mereka menjelaskan, ketika aku penasaran mengapa ritual ini diadakan.

Di akhir kegiatan, Kepala Desa berkata, “Ini harus jadi yang terakhir. Perempuan tak boleh menikah di usia yang tua. Buat apa sekolah tinggi-tinggi, tak akan ada gunanya. Perempuan harus meniup tungku di dapur, mencuci baju, menjaga rumah agar tak dimasuki maling.”

Bahkan, arwah Kartini barangkali menertawakan ritual busuk ini, batinku. Ada sekitar sebelas gadis yang duduk dengan kaki dilipat ke belakang. Aroma sesajen mengepul di atas kepala kami. Dalam jarak beberapa puluh meter aku bisa melihat puluhan tentara memenuhi balai desa. Ritual ini memang diadakan secara terbuka, sebagai bentuk pembuktian dan ancaman (sepertinya) agar ke depan tak ada lagi gadis-gadis yang kukuh dengan keyakinannya.

Di ujung acara, tetua mengingatkan kami, para gadis, agar tak keramas selama tiga hari. Untuk meyakinkan roh-roh bahwa kami penuh kesungguhan melakukan ritual ini, katanya. Menur tersenyum kecut mendengarnya, aku hanya mengangkut bahu tak peduli. Omong kosong, batinku.

Letnan Yudish menatap dua bola mataku dari kejauhan. “Inikah kebebasan yang kau maksud telah direnggut?” Mungkin itulah yang ingin ditanyakannya saat itu. Aku merasakannya, lewat tatapan kedua matanya.

***

Senja sore itu, di beranda rumah kami.

“Temanmu, Menur, bulan depan akan melangsungkan pernikahan.” Ibu menatapku nanar. “Aku tau.”

“Maka artinya, kamu akan menjadi yang berikutnya.” kata Bapak dalam satu tarikan nafas.

Aku tak menepis kalimat Bapak, sudah begitu putus asa. “Lakukan saja apa yang Bapak kehendaki. Kami tak punya kuasa apapun.”

Ibu memegang pundakku, tapi aku tetap tak bergeming. Kami menikmati angin sore yang berhembus malu-malu. Suasananya terlampau syahdu, tapi lebih mengarah ke pilu. Aku, pilu.

“Aku cuma mau bilang…. Kalau suatu saat aku jadi orang tua, aku akan belajar banyak caranya bagaimana mencintai anak-anakku dengan benar. Sebentar, aku tidak bilang bahwa Bapak dan Ibu tidak mencintaiku maupun Bayu.” kataku cepat-cepat, sebelum Bapak dan Ibu salah mengartikan.

“Mempercayai anak-anakku dan mendukung apapun yang mereka impikan adalah caraku mencintai dengan benar.” Aku memeluk lutut dan menenggelamkan wajah di antara kedua lutut, menarik nafas singkat, dan mengangkat kepala kembali. “Paling tidak, jika burung-burung itu tak bersayap, maka induknya lah yang akan memeluk mereka untuk terbang bersama. Burung-burung tak bersayap, istilah itu takkan lagi ada. Ibu dan Bapak harus mengerti pilihanku yang satu itu.”

Burung-burung tak bersayap, istilah itu takkan lagi ada. Ibu dan Bapak harus mengerti pilihanku yang satu itu.

***

Aku mengenal Letnan Yudish sebagai sosok yang begitu dingin dan pelit bicara. Beberapa bulan lalu setelah perjumpaan kedua kami di Pelabuhan, ternyata ia mendatangi rumahku, mengajak Bapak secara langsung untuk menghadiri undangan diskusi di Balai Desa.

Dari sanalah semua bermula.

“Pak, bolehkah saya izin menemui Laksmi?” katanya dengan ragu-ragu. Ia terlihat khawatir Bapak tak memberikan izin. Di luar dugaan, Bapak mengangguk dan tersenyum membalasnya.

“Ada apa Letnan?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Aku minta maaf.” ujarnya singkat.

“Untuk apa?” tanyaku, sekali lagi.

Dia menatapku. “Aku membutuhkan waktu yang lama untuk memahami apa yang kamu

katakan.” Aku tahu, dari kalimatnya ia bersungguh-sungguh.

“Terlambat. Aku sudah katakan sejak awal, kedatanganmu takkan mengubah apapun untuk kami. Kami, si gadis-gadis Lembah Seroja.” Aku tersenyum masam. Menangisi kalimatku dalam hati.

“Belum terlambat.” katanya meyakinkan. Aku menjawab, “Apa yang membuatnya belum terlambat?”

“Kamu   bisa   menolak   perjodohan   atau   kabur   ke   Pulau   Jawa.”.   Aku   tertawa  lebar mendengarkan kalimatnya yang terasa seperti rengekan. “Kedua pilihan itu tidak pernah ada, Letnan.”

Dia menatapku dalam gamang, keberaniannya meremang, dan dilanda kebingungan. Apakah dia sedang merasa salah berkata-kata? Pikirku. “Kamu hampir mengerti keinginanku dan gadis-gadis lain. Kalau aku ajukan pertanyaan ini, apa jawabanmu? Di pilihan pertama, aku akan menolak, dan kamu apa mau menggantikannya, Letnan?”

Dia membelalakkan mata. “Kamu mengajakku menikah seperti sedang mengajak bermain biji karet. Ringan sekali gurauanmu.” Aku mengedikkan kedua bahu, tak acuh dengan jawaban basa- basinya. Dia tetap sama, tidak pada intinya.

Letnan Yudish tersenyum samar, aku tahu, dia telah menolak perkataanku yang hanya dia anggap gurauan belaka. “Kamu tau Laksmi, menjadi isteri Tentara itu sulit. Hari ini aku menjadi pendukung nomor satu mimpi-mimpimu, tapi kalau kamu kehilanganku karena kematianku yang tiba- tiba, maka aku takkan pernah kembali. Kamu bukan hanya kehilangan mimpi, tapi juga aku, yang menjadi penopang mimpi-mimpimu.”

“Apa itu yang menjadi alasanmu dingin kepada semua perempuan di Lembah ini, Letnan?” Dia menutup kedua matanya lama, menyetujui kalimatku. Kami tak melanjutkan percakapan sore itu, tenggelam dalam perasaan masing-masing. Rimbunan ilalang yang memagari rumah kami bergerak dibelai angin sore, mentari hendak kembali ke peraduannya, langit sore mulai menguning, burung- burung camar berterbangan hendak kembali ke sarangnya. Iya, kami memilih menyudahi percakapan itu. Satu sama lain tak menyadari, bahwa itulah percakapan terpanjang dengan pesan yang digali dari masing-masing hati di antara kami. Percakapan Panjang, yang sekaligus menjadi salam perpisahan.

***

Tak ada yang lebih menyakitkan, dibanding dirampasnya hak-hakmu sebagai perempuan. Kami dinomor dua-kan, diputus akses mengenyam pendidikan, dikawinkan dengan lelaki yang tak sama sekali diinginkan. Sahabatku, Menur, agaknya sedikit beruntung. Dia dinikahi Samsul, kakak kelas kami saat SD dulu. Aku tak pernah mendengar kisah sendu dari Menur, dia bilang hidupnya cukup bahagia dengan dua anak laki-laki yang begitu lucu. Tuhan mengabulkan salah satu doanya, barangkali.

Dua tahun telah berlalu, di usia ku yang ke dua puluh empat, aku seharusnya sudah dinikahkan tahun lalu, batas usia seorang gadis Lembah Seroja melepas masa lajangnya. Aku memohon pada Bapak siang dan malam, agar mendatangi Mak Kunir dan tetua kampung. Apapun ritual yang diwajibkan, aku menjalaninya, sebagai syarat agar petaka tak menyandera kampung ini. Omong kosong, kedua kalinya.


Letnan Yudish tak meninggalkanku begitu saja. Lengkap satu tahun pengabdiannya, siang itu ia mendatangi rumahku kembali. Satu buah kardus berisi buku-buku ia hadiahkan untukku. “Burung- burung tak bersayap hanya tak bisa terbang, tapi ia tetap bisa melihat betapa dunia ini begitu besar dan luas. Buku-buku ini adalah hadiah untukmu, kamu bisa membangun rumah dengan jendela selebar cakrawala setelah membacanya.” katanya menutup perjumpaan terakhir kami kala itu.

Aku tersenyum melepas kepergiannya. “Letnan, semoga kau selalu ingat Lembah Seroja. Kau bisa kembali kapanpun kau mau, dan aku akan jadi orang pertama yang menyambut kedatanganmu nanti.”

“Terima kasih. Buku-buku ini, aku akan mencintainya, seperti saat aku mencintai mimpi- mimpiku.” lanjutku.

Perpisahan kami sedemikian singkat. Aku menatap nanar kepergiannya dengan lembayung yang membentang luas membelah semesta. Bagaimanapun, Letnan Yudish adalah salah satu orang yang tak membuat mimpiku padam. Bahkan di akhir kepergiannya, dia tetap meneguhkanku dengan secuil harapan. “Mimpimu tak boleh padam.” katanya dengan satu kalimat yang membuat air mataku menggenang dan akhirnya meluncur menganak sungai.

Letnan,


Tak ada musim gugur di Lembah Seroja, tetapi kenapa hawanya terlalu dingin dan membekukan harapan? Seperti kataku terakhir kali di perjumpaan kita sore itu, Lembah Seroja tetap tak bergeming, meski seribu gadis meneriakkan kesakitan.

Jika bertemu Komandanmu, cobalah sedikit berbaik hati pada kami di sini. Katakan, betapa gadis- gadis Lembah Seroja merindukan kebebasan. Aku akan tetap menepati janjiku, mimpiku takkan pernah padam.

Laksmi

Tepat sebulan yang lalu, aku mengirimkan surat untuk Letnan Yudhis, tapi belum juga ku terima balasan darinya. Tidak seperti biasanya, saat ia buru-buru membalas surat dariku. Ia telah menjadi kawanku dalam bertukar cerita. Setidaknya, penggalan suratnya cukup menenangkan, meski aku tak pernah luput dari bayang-bayang kegelisahan. Aku berdiri dan tenggelam dalam langit-langit desa yang perlahan meremang. Lembah ini penuh luka. Ada berapa banyak perempuan yang tak punya kebebasan? Ada berapa banyak burung-burung tak bersayap?

Pada akhirnya, aku tetap sendiri, terpisah jauh dari segalanya yang begitu aku cintai. Semuanya tetap sama. Kami, tetap menjadi burung-burung tak bersayap. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den