Langsung ke konten utama

How To Pursue Your Dream to be An LPDP Awardee?


"Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu."

Itulah sepenggal kalimat dari salah satu penulis kesukaanku, Andre Hirata. Penggalan kalimat ini aku temui beberapa bulan lalu saat memperjuangkan salah satu mimpi terbesarku tahun ini, yakni menjadi Awardee Beasiswa LPDP tahun 2022. Alhamdulillah... Tahun ini ternyata Tuhan kabulkan doa dan niatku ini.

Aku selalu percaya bahwa apa yang Tuhan gariskan untuk kita adalah apa yang terbaik bagi diri kita. Meskipun terkadang apa yang terjadi tak seiring dengan apa yang kita kehendaki, tetapi Tuhan selalu punya cara untuk membolak-balikkan hati, memberikan apa yang sesungguhnya terbaik, dan.menguji kita dengan segala harapan yang barangkali datangnya dalam momen yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sudah sejak tahun 2020 lalu, aku mencoba peruntungan dengan mengikuti beberapa seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri untuk melanjutkan studi S2 Magister Psikologi Profesi Klinis. Terhitung sudah tiga kali mengikuti Seleksi UI, satu kali mengikuti seleksi UGM, dan satu kali mengikuri seleksi UNAIR. Sayangnya dalam lima kali percobaan tersebut, aku dihadapkan pada kenyataan yang membuatku jatuh terpuruk. Kamu pasti tahu betul rasanya, ketika berusaha sekuat tenaga menggenggam mimpi-mimpimu, kau perjuangkan setiap waktu, tetapi apa yang kamu harapkan ternyata berakhir dengan kenyataan yang membuatmu termangu. Kenyataan yang mungkin saja membuatmu ragu, dan akhirnya memilih untuk berhenti melangkah sebab kamu merasa semuanya hanya menhgabiskan banyak energi juga waktumu.

Sebetulnya, aku seperti melihat ada baiknya juga di beberapa kali percobaan tersebut aku belum berhasil lolos untuk melanjutkan studi. Mengapa? Di pikiranku, beberapa kali aku merasakan kegelisahan akan beban biaya studi yang ditanggung nantinya. Bagaimana caranya aku membayarkan uang semester? Sementara aku harus berhenti bekerja, karena di jurusan yang aku tuju memang mewajibkan perkuliahan reguler, sehingga aku tidak dapat membagi waktu untuk bekerja. Berulang kali aku mengakali, berulang kali pula aku merasa buntu. Bapak memang mendukungku untuk melanjutkan studi, termasuk terkait pembiayaan, tetapi memiliki biaya untuk melanjutkan studi S2 bukan perkara yang mudah. Terlebih lagi, biaya nya pun mencapai dua sampai tiga kali lipat biaya ketika menempuh studi S1 dulu. Tabungan yang selama ini aku kumpulkan dari hasil bekerja pun hanya akan cukup membiayai kuliahku hingga beberapa semester saja. Memang, berat sekali rasanya...

Hingga sampai di penghujung tahun lalu, tepatnya November 2021, aku memutuskan untuk menyibukkan diri dengan segala persiapan mengikuti seleksi Beasiswa LPDP Tahap 1 Tahun 2022 dengan jalur Reguler. Beasiswa Reguler LPDP adalah beasiswa jenjang Magister dan Doktor yang diperuntukkan bagi Warga Negara Republik Indonesia melalui mekanisme dan prosedur yang ditetapkan oleh LPDP. Entah darimana datangnya keyakinan itu, aku justru memilih untuk mencari nasib baikku dengan mengikuti seleksi Beasiswa ini. Tak terhitung sudah berapa kali aku mendengar istilah "LPDP", tetapi niat ku untuk mendaftarkan diri justru baru muncul beberapa bulan sebelum seleksi dilaksanakan. 

Dalam mengikuti seleksi beasiswa LPDP ini, ada beberapa tahapan yang mesti dilalui, di antaranya:

1. Tahap Seleksi Administrasi

Dalam mengikuti seleksi administrasi ini, ada beberapa dokumen yang harus kita persiapkan, antara lain:

  • Biodata Diri
  • Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  • Scan Ijazah S1/S2 (Asli atau Legalisir) atau SKL (Surat Keterangan Lulus)
  • Scan Ijazah S1/S2 (Asli atau Legalisir) atau SKL (Surat Keterangan Lulus) 
  • Dokumen penyetaraan ijazah dan konversi IPK dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, melalui laman https://ijazahln.kemdikbud.go.id/ij azahln/ (bagi lulusan Luar Negeri)
  • Sertifikat Bahasa Asing yang dipersyaratkan dan Masih Berlaku (Asli)
  • Letter of Acceptance (LoA) Unconditional yang masih berlaku dan sesuai dengan Perguruan Tinggi serta Program studi yang dipilih 
  • Surat Rekomendasi dari tokoh masyarakat atau akademisi 
  • Surat pernyataan pada aplikasi pendaftaran saat akan melakukan submit 
  • Surat usulan dari pejabat setingkat eselon II/setara yang membidangi SDM (Khusus pendaftar yang berprofesi sebagai PNS/TNI/POLRI)  
  • Profil diri pada formulir pendaftaran online
  • Komitmen kembali ke Indonesia, rencana pasca studi, dan rencana kontribusi di Indonesia
  • Proposal Penelitian (khusus Doktor)

Dalam menuliskan essay komitmen kembali ke Indonesia, rencana pasca studi, dan rencana kontribusi di Indonesia, aku menuliskannya dengan revisi hingga lima belas kali dengan dimentori oleh salah satu Awardee yang aku temui dari salah satu platform sosial yang diperuntukkan bagi para scholarship hunters. Karena aku juga bekerja, maka seluruh kegiatanku terkait dengan seleksi beasiswa LPDP ini aku lakukan sebelum dan selepas bekerja di kantor. 

2. Tahap Seleksi Tes Bakat Skolastik

Pada tahap kedua ini, kemampuan akademik kita memang akan diuji melalui beberapa subtes soal bakat skolastik, antara lain:

  • Penalaran Verbal (analogi, penalaran logis, dan penalaran analitis)
  • Penalaran Kuantitatif (deret bilangan, aritmatika & aljabar, dan kecukupan data)
  • Pemecahan Masalah (pemahaman bacaan mengenai grafik, tabel, dan diagram)

Bagi kita yang sudah lama tidak bersentuhan dengan soal-soal akademik seperti TBA maupun TBS ini, tentu saja akan terasa sangat sulit untuk kembali mengerjakan soal-soalnya. Untuk itu, perlu bagi kita untuk membagi waktu, khususnya bagi kita yang bekerja.

Karena aku juga bekerja, maka sekali lagi aku buat agenda dengan jadwal yang terstruktur, seperti: mempelajari soal-soal verbal di tengah malam, mempelajari soal-spal penalaran kuantitatif di sepanjang perjalanan untuk pergi bekerja, dan mempelajari soal-soal pemecahan masalah di malam hari sepulang bekerja. Setiap orang memang memiliki waktu produktifnya masing-masing, tetapi jangan pernah lupa niat yang kita miliki juga turut menjadi penentu seberapa besar kemungkinan mimpi kita akan tercapai ke depannya.

Salah satu referensi buku untuk bahan pembelajaran

3. Tahap Seleksi Tes Substansi (Wawancara)

Tahap terakhir yang akan dilalui adalah tahap seleksi substansi, yakni proses wawancara dengan 3 orang panelis. Sebelum mengikuti seleksi tahap ini, aku beberapa kali mengikuti latihan mock up interview dengan beberapa orang Awardee dari Program Studi yang berbeda. Dengan megikuti kegiatan latihan ini, aku betul-betul memahami apa hal yang perlu dipersiapkan kembali untuk menghadapi ujian substansi yang sesungguhnya.

Hingga sampailah pada sebuah momen di mana aku dinyatakan lolos sampai di tahap akhir, tahap seleksi tes substansi. Sungguh tiada kata apapun yang dapat mewakili perasaanku saat itu. Terharu, senang, dan kebahagiaan bercampur menjadi satu. Mengingat kembali momen perjuangan beberapa tahun belakangan yang ternyata Tuhan hantarkan aku akhirnya berdiri di titik ini. 

Aku akhirnya kembali mengingat lagi, bahwa garis takdir yang senantiasa Tuhan berikan memang tidak pernah main-main. Dia tahu segala yang terbaik dan kita butuhkan. Hanya karena mimpi yang tertunda, bukan berarti Tuhan menolaknya. Percayalah, bahwa di setiap hembusan nafas yang bergetar dari dalam diri kita, Tuhan selalu siapkan rencana yang paling baik. Rencana yang mungkin tidak pernah kita pikirkan atau bahkan harapkan. Segala perjuangan dan doa-doa terbaik yang disematkan tidak akan pernah berakhir sia-sia, sebab aku telah membuktikannya.

Selamat berjuang kawan, yakinlah selalu bahwa kamu tidak sendirian, Tuhan akan selalu mendampingimu dalam setiap perjalanan.


Note:

Untuk masing-masing tahapan seleksi, akan kita bahas pada kesempatan berikutnya ya:)

Berikut ini adalah beberapa platform instagram yang bisa teman-teman follow untuk update informasi seputar beasiswa LPDP:

  • @pejuangbeasiswalpdp 
  • @lpdphunters
  • @tanyaawardee.official


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den