Langsung ke konten utama

Tidak Ada yang Baik-baik Saja Dari Sebuah Perpisahan. Benarkah?



Hidup ini tak akan selamanya lurus-lurus saja, begitulah beberapa orang mendefinisikannya. Aku rasa itulah salah satu kalimat paling filosofis dalam memaknai kehidupan. Entah seperti apa “lurus” yang dimaksudkan. Barangkali semua akan baik-baik saja atau pemaknaan lain untuk menjalani saja apa yang Tuhan telah berikan? Terlepas dari apapun pengungkapan yang ditautkan, kalimat itu menarasikan dengan elok bahwa segala sesuatu atau mungkin sebagian saja dari apa yang kita miliki itu bersifat dinamis, setidaknya hal itu berlaku dari sudut pandangku.

Mari membicarakan contoh sederhananya, ketika meletakkan perasaan pada orang lain. Boleh jadi hari ini kamu mengagungkan dirinya, dia – siapapun itu – orang yang begitu kamu suka, sebab merasa memiliki banyak kemiripan, kesamaan, bahkan kecocokan. Esok atau beberapa hari ke depan jika Semesta perkenankan, hatimu bahkan takkan lagi sama. Perasaan itu menghilang. Perasaan yang baru beberapa hari kemarin membuncah, tiba-tiba hanya mampu kau kenang. Jika sudah demikian, hidup sudah takkan lurus-lurus saja, bukan?

Selanjutnya,

Seandainya kita berbicara mengenai seseorang yang paling kau sanjung kehadirannya. Katamu, ia adalah kawan diskusimu yang kau jumpai dalam waktu yang cukup lama dan kau senang akan hal itu. Menurutmu, ia menghadirkan banyak hal baru. Bagimu, tak ada yang lebih baik daripada menempatkannya dalam bagian terpenting di hidupmu. Kemarin, mungkin saja semua demikian, tapi sayangnya – sekali lagi jika semesta perkenankan – mungkin ia takkan lagi menjadi sosok yang sama dan kau memilih menarik lagi ucapanmu. Lalu di bagian mana kita bisa katakana bahwa hidup memang lurus-lurus saja?

Aku lupa,

Benar-benar sangat lupa,

Ketika menuliskan ini, sesungguhnya bukan mengenai “hidup yang lurus-lurus saja” yang ingin kubahas. Coba berputar arah sedikit, barangkali ada hal yang bisa dilihat dari sudut pandang berbeda. Dan ternyata memang iya, kamu bisa melihatnya dari sudut pandang berbeda.

Jadi begini, hidup yang dinamis – yang tidak hanya menawarkan garis lurus – seringkali melahirkan dua sisi yang berbeda. Kamu – aku – dan kita, tentu saja pernah ada di kondisi itu. Kamu pernah merasakan kehilangan akibat sebuah perpisahan? Ya, itulah contohnya. Kamu bertemu – berteman – berkawan – dan berakhir dalam perpisahan. Barangkali bukan garis lurus kehidupan lagi yang ditawarkan, bukan juga garis lengkung, tapi garis titik-titik yang kamu pun bahkan dibuat bingung oleh keadaan.

Jika sudah demikian, lantas bagaimana kamu akan memaknai sebuah perpisahan? Dengan perasaan kecewakah atau dengan senyum sumringah sebab hal itulah yang kau tunggu-tunggu? Apapun yang menjadi alasan perpisahan itu, rasanya tidak akan ada yang baik-baik saja dari sebuah perpisahan. Bukan karena kau diharuskan untuk berhenti mencintai orang lain saat itu juga, tapi karena tidak akan ada lagi kesempatan untuk menjalani hari-hari seperti sedia kala. Sebab pada detik itu juga segala cerita takkan lagi sama. Sayangnya, memang begitulah kenyataan yang harus diterima.

Tunggu, cukup sampai sini dulu kita membicarakan perpisahan. Esok atau lusa kita akan menuliskannya kembali, dalam lembaran yang berbeda. Dan dalam jeda waktu ini, perasaan mu – yang sedang sendu akibat perpisahan – aku memberi doa yang terbaik, semoga akan tetap baik-baik saja. 

Mari saling menyapa kembali, di pertemuan berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den