Langsung ke konten utama

Book Review - Gema Suara Perempuan yang Kehilangan Ibu

"Duka cita berlangsung dalam siklus tertentu, seperti musim dan bulan. Tak seorang pun diciptakan untuk memahaminya lebih baik selain wanita, yang memiliki kondisi fisik ditandai dengan ritme bulanan lebih dari separuh masa hidupnya..."

Masa berkabung berlangsung seperti serangkaian siklus: satu berakhir dan yang baru dimulai, mungkin sedikit berbeda dari tahap sebelumnya, tapi dengan bagian pokok yang sama. Anak perempuan yang kehilangan ibunya memang melalui beberapa tahap penyangkalan, kemarahan, kebingungan, dan reorientasi, tapi respons itu berulang dan berputar kembali ketika setiap tahap perkembangan yang baru membangkitkan kebutuhannya akan seorang ibu."

Hope Edelman, dalam buku-nya berjudul "Motherless Daughters"

 


Memiliki kesempatan untuk menamatkan buku bacaan berjudul Motherless Daughters rasanya memang menakjubkan. Selepas kepergian mama beberapa tahun silam, ada banyak hal yang terjadi dan turut mengiringi perkembangan diri ini, khususnya secara psikologis. Selama ini banyak sekali pertanyaan yang menggantung, namun sulit sekali terjawab sebab rasanya kesedihan masih terlalu menggaung. Pertanyaan-pertanyaan selalu muncul dan terngiang-ngiang, sebetulnya benarkah yang saya rasakan ini? Apakah memang akan seperti ini rasanya? Atau pertanyaan serupa, apakah semua orang merasakan hal yang sama? Saya pun seringkali merasa bingung bagaimanakah cara agar menemukan jawabannya.

Buku berjudul Motherless Daughters yang ditulis oleh Hope Edelman ini betul-betul seperti membawa kesejukan untuk siapapun yang selama ini perasaannya meradang akibat kehilangan. Sejumlah gema suara perempuan yang telah kehilangan ibunya terangkum rapi dalam buku ini. Jika sebelumnya saya bertanya-tanya, apakah demikian rasanya kehilangan ibu, maka saya menemukan seluruh jawabannya dari berbagai kisah perasaan anak perempuan yang terangkum dalam buku ini. Jika boleh dikatakan, buku ini adalah salah satu buku favorit yang pernah saya baca. Bukan hanya menambah wawasan baru, buku ini juga turut mengiringi fase dalam memulihkan diri.

Melalui tulisan ini akan saya rangkum beberapa kalimat yang begitu menarik perhatian saya dan telah saya jadikan highlight dengan pena berwarna:

Anak-anak perempuan yang ditinggalkan bersama ayah mereka, berada dalam kondisi tertentu yang tidak menguntungkan dalam budaya yang masih mendorong perempuan untuk mengekspresikan perasaannya dan sebaliknya menuntut pria agar menekannya. 

Duka cita tidak akan hilang kalau kita mencoba menyimpannya dalam laci yang terkunci, tapi sebagian besar kita didorong melakukan cara seperti itu untuk menghadapinya: abaikan kepedihan hatimu, maka akan hilang dengan sendirinya. Akhirnya satu hal yang membuat kita merasa terpuruk bukan kematian ibu kita, tetapi karena kita tidak bisa membicarakannya, dan bahkan tidak mengizinkan diri kita memikirkannya. 

Kepergian seorang Ibu tetap menyisakan lubang gelap menganga yang menakutkan bagi seorang anak... Tak ada tempat untuk pulang pada liburan hari raya. Tak ada seorang pun yang memberitahu apakah kita seperti anak kecil, atau menghibur atau menenangkan kita sebagai ibu baru. Tak ada nenek yang penuh perhatian bagi anak-anak kita. Kemarahan dan kesedihan yang pernah dirasakan ketika melihat seorang ibu bersama anak gadisnya berbelanja atau makan siang bersama, telah digantikan oleh kebencian ketika melewati tiga generasi perempuan yang berjalan hilir mudik, nenek dan ibu yang mendorong kereta bayinya bersama-sama, tertawa-tawa keras karena lelucon yang tak bisa didengarkan. 

Anak perempuan tidak hanya meratapi apa yang hilang, tapi juga yang tak pernah hilang dan, kalau ibunya tidak memberikan perlindungan dan dukungan semasa hidupnya, anak itu juga berduka cita untuk apa yang pernah diperlukannya tapi tak pernah didapatkannya. 

Anak-anak perempuan yang ibunya meninggal ketika mereka masih bayi atau baru belajar berjalan, tumbuh besar dengan memiliki kesadaran kuat tentang ketidakhadiran daripada kehilangan. 

"Karena  orang tua itu tak pernah dikenal, anak itu tak punya pengalaman terpisahkan dari orang tua yang dicintai dan dikenang." - Maxine Harris

"Kehilangan memerlukan beberapa hubungan yang mendahului. Namun mereka dapat merasakan kehampaan, ketika hanya mengenal ketidakhadiran. Bagi anak-anak yang bertahan akibat kematian orang tua sebelum waktunya, kehampaan dan kekosongan tak dapat dihindarkan terikat dengan gambaran orang tua yang sukar dimengerti dan tak pernah dikenalnya." Maxine Harris

John Bowlby dalam Buku Motherless Daughters karya Hope Edelman menyebutkan bahwa anak-anak sekecil apapun akan mencari sosok ibunya di tempat terakhir ia terlihat, dan hubungan ini tertanam hingga dewasa. Misalnya, anak perempuan yang ibunya menyukai kursi yang berlengan agak tinggi, mungkin terus menantikan kursi seperti itu dengan penuh kerinduan pada waktu ia bertumbuh dewasa, dan menghubungkan kursi-kursi seperti itu dengan kerinduan dan kesedihan setelah dewasa.

Anak-anak perempuan yang kehilangan ibunya selama masa kanak-kanak akhir ditinggalkan dengan memori cukup terperinci tentang kebersamaan mereka, dan lalu ia akan bergantung pada meomori-memori itu untuk mencari petunjuk-petunjuk tentang kewanitaan. Ibu adalah contoh pertama dan paling berpengaruh bagi anak perempuan untuk belajar tentang perilaku wanita. Dialah orang yang memberi pelajaran pertama tentang hubungan dengan pria, menjalankan rumah tangga, atau menggabungkan keluarga dan karier, lalu menjadi ibu. Identitas anak perempuan terbentuk dari sebagian besar pengalaman yang dimiliki bersama ibunya, perilaku yang diamatinya dan kualitas hubungan mereka.

Benteng pertahanan secara psikologis yang dikembangkan oleh anak lebih rentan dan primitif dibanding pertahanan orang dewasa. Sementara orang dewasa memperlihatkan kedewasaan secara kognitif dan emosional terhadap situasi kehilangan, anak-anak biasanya mengambil langkah mundur, memproyeksikan, mengenalinya atau berbalik melawan dirinya sendiri pada tingkat yang lebih dramatis:

-      Pemindahan (Displacement), benteng pertahanan secara psikologis yang dikembangkan oleh anak itu, lebih rentan dan primitif disbanding pertahanan orang dewasa. Sementara orang dewasa memperlihatkan kedewasaansecara kognitif dan emosional terhadap situasi kehilangan, anak-anak biasanya mengambil langkah mundur, memproyeksikan, mengenalinya atau berbalik melawan dirinya sendiri pada tingkat yang lebih dramatis.

-      Pengalihan atau (Transference), orang dewasa yang kehilangan pasangannya dapat berusaha tidak berhubungan dekat dengan orang lain selama beberapa waktu. Namunanak yang kehilangan orang tuanya tidak tahan berada sendirian secara emosional tanpa mengorbankan perasaannya. Ia ditinggalkan dalam keadaan seperti yang disebut Anna Freud “tanah gersang dalam kasih sayang”, tertutup dan menarik diri dari siapa pun, serta memiliki kemampuan lemah untuk berhubungan dengan orang lain di masa mendatang. Dengan cepat dan terarah anak itu mencoba mengalihkan semua perasaan ketergantungan, kebutuhan, dan harapannya pada orang dewasa terdekat di sekitarnya.

-       Perkembangan yang tertahan (Arrested Development), anak yang perkembangannya tertahan di bagian tertentu, akan mengalami gangguan emosional yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab yang secara normal terkait dengan urutan waktu usia. Tanpa pengaruh hubungan persahabatan dengan ibunya, ia punya kesulitan mencapai kedewasaan secara intelektual dan emosional.

-        Reaksi yang tertunda (Delayed Reactions), setelah mencapai batas dua tahun, anak-anak yang kehilangan orang tuanya memperlihatkan perilaku yang lebih agresif dan mengganggu dibandingkan kawan-kawan sebayanya yang tidak kehilangan. Mereka juga lebih menutup diri dalam pergaulan, dan menderita akibat penilaian diri yang rendah.

     Tak ada hal lain selain kematian salah satu orang tua yang membuat anak remaja tumbuh dewasa lebih cepat. Pemikiran, tanggung jawab, dan kesadarannya lebih matang sepuluh kali lipat dalam semalam, tapi tubuh dan lingkungannya selalu mengingatkan bahwa ia belum benar-benar bertumbuh besar.

"Pada usia dua puluhan dan tiga puluhan, ada kerinduan yang sangat besar untuk berhubungan dengan rumah tinggal kita. Dan ibu adalah dasar pegangan kita. Kita mungkin marah padanya dan tak ingin seperti dia, tapi ibu adalah sumber dan asal-usul kita. Kita selalu menoleh ke belakang padanya untuk melihat di mana kita berada sekarang." - Naomi Lowinsky

Kematian mendadak lebih sukar dihadapi dalam jangka pendek, karena semua penyesuaian utama dalam keluarga itu harus terjadi sementara guncangan dan kebimbangan masih meliputi rumah. Kematian yang diantisipasi sebelumnya – memberikan fakta-fakta yang jauh lebih terbuka dan dapat didiskusikan – memberi waktu bagi keluarga untuk mempersiapkan diri secara bertahap dalam menghadapi kehilangan itu.

Psikolog Lula Redmood mengamati karakteristik serupa pada ratusan anggota keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih karena pembunuhan. Bahkan meskipun tidak menyaksikan kematian itu secara langsung, namun anak-anak dan orang dewasa mengalami mimpi buruk, kilas balik peristiwa itu, gangguan makan dan tidur, takut orang asing, sifat mudah marah, dan amarah yang meledak cepat setelah pembunuhan itu, dengan beberapa gejala yang terus bertahan selama lima tahun.

Konselor di Dougy Center for Grieving Children di Portland, Oregon, telah menemukan bahwa anak-anak yang kehilangan orang-orang yang dicintainya karena pembunuhan sering berkata bahwa perasaan mereka “tertahan” hingga penyelidikan atau pemeriksaan dalm sidang pengadilan berakhir, hingga guncangan mulai berkurang, atau karena kekacauan meliputi fakta-fakta yang ada.

Anak-anak perempuan yang ibunya pergi, berisiko sangat besar secara psikologis, dibanding wanita yang ibunya meninggal. Karena dalam hal tertentu, jika Ibu kita meninggal, kita dapat berkata, “Aku tahu ia tak mau pergi. Ia tak memilih mati. Ini adalah penyakit atau peristiwa yang tidak dapat dikendalikannya. Namun anak-anak yang orang tuanya memang memilih untuk pergi, ditinggalkan bersama beban ini, “Apa yang sudah kuperbuat? Mungkin aku belum benar-benar menjadi anak yang baik. Aku kurang menyenangkan. Aku pasti sudah membuatnya begitu sengsara sehingga ingin pergi.”.

Anak-anak yang ditelantarkan dapat menderita kehilangan empati, depresi, perasaan hampa, kenakalan remaja, kecanduan, kemarahan tak terkendali, tindakan berdusta yang tak wajar, prasangka hypochondriacal (kegelisahan yang tidak wajar tehadap kesehatan tubuh seseorang), dan khayalan diri yang terlalu besar.

Lila J. Kalinich menerangkan bahwa meskipun seorang pria memiliki kehilangan nyata dan potensial sepanjang hidupnya, wanita menghadapi pengalaman kehilangan yang penting kira-kira sekali setiap decade; pemisahan individu dari ibunya semasa masih bayi belajar berjalan; akhir masa kanak-kanak ketika menstruasi berawal; pemisahan individu kedua selama masa remaja; kehilangan keperawanan selama masa dewasa muda; krmungkinan kehilangan nama keluarga aslinya setelah menikah; pengorbanan bagian-bagian tertentu dari kodrat keibuan atau karier seandainya ia memutuskan untuk menolak menggabungkan keduanya; kepergian anak-anak meninggalkan rumah; kehilangan kemampuan mengandung bayi sehubungan dengan menopause dan akhir masa ovulasi; dan, karena wanita mungkin hidup lebih lama dari suami mereka, maka ada kemungkinan menjanda. Secara biologis dan sosial, wanita dikelilingi oleh kehilangan.

Kebanyakan anak perempuan lain dari ayah yang dingin, mengembangkan kesadaran kuat akan kebebasan. Sementara anak perempuan dari ayah yang tak berpengharapan mengembangkan kepercayaan pada diri sendiri secara fisik yang terlalu kompeten mendorongnya bertanggung jawab pada orang-orang di sekitarnya, anak perempuan dari ayah yang dingin menjadi lebih bebas secara emosional. Setelah dewasa, ia berhati-hati untuk bergantung pada orang lain. Anak-anak perempuan dari ayah yang dingin, sangat pandai menjaga diri sendiri sehingga ia enggan mempersilakan siapapun untuk mencobanya – terutama seseorang yang sebelumnya mengecewakannya.

Psikolog Maria Ainsworth mewawancarai 30 ibu muda yang mengalami kehilangan figur yang mengikat mereka selama masa kanak-kanak. Mereka menemukan bahwa wanita yang paling berhasil dalam mengatasi kehilangan itu terbagi dalam dua karakteristik: mereka menikmati rasa solidaritas yang kuat dalam keluarga, dengan adanya penghiburan timbal balik, ungkapan perasaan, dan berbagi dukacita bersama. Mereka punya peluang untuk bertanggung jawab bagi anggota keluarga lain selama masa berkabung.

Menurut Psikolog Margaret M. Hoopes, Ph.D., dan James M. Harper, Ph.D., kematian orang tua mengubah perhatian tentang tugas-tugas peran saudara kandung yang diterima oleh seorang anak pada waktu kelahiran. Anak tengah yang terbiasa bersandar pada saudara lainnya, tiba-tiba harus menjadi pengasuh bila saudara yang lebih tua tidak ada atau meninggalkan keluarga. Anak yang lenbih muda yang terbiasa dimanja, mungkin perlu menerima lebih banyak tanggung jawab bagi dirinya sendiri daripada sebelumnya.

John Bowlby mengatakan bahwa anak perempuan tanpa dasar emosional yang kokoh bisa jadi nekat mencari pria yang memperhatikannya dan, itu dikombinasikan dengan gambaran dirinya yang negatif, juga membuatnya bersedia menerima beberapa pemuda yang sama sekali tak tepat… setelah menikah dengannya, dampak pengalaman yang kurang baik sebelumnya cenderung membimbingnya untuk mengajukan tuntutan-tuntutan yang terlalu berat pada pria itu dan/atau memperlakukannya dengan buruk.

Mereka yang mengingat kembali orang tua mereka sebagai pemberi perhatian yang dingin atau mudah berubah-ubah mungkin lebih takut kalau ditinggalkan atau tdiak dicintai, memperlihatkan cara mengasihi yang obsesif dan mulai bergantung, dan menderita akibat penilaian diri sendiri dan kepercayaan diri yang rendah dalam bergaul, dibanding mereka yang merasa ibu dan ayah mereka sangat hangat dan responsive pada masa kanak-kanak mereka.

Ketika seorang wanita sangat takut terhadap kehilangan yang tak terelakkan, ia menghindari pembentukan hubungan yang akan membimbingnya pada keintiman mendalam yang dirindukannya. Wanita ini menghindari hubungan asmara, memiliih pasangan yang suka menyendiri, atau menarik diri setiap kali hubungan menunjukkan tanda pertama komitmen jangka panjang. Ia menolak mengumbar janji atau merespon setiap tuntutan, takut kalau tindakan seperti itu menjurus pada keintiman yang akan direngut darinya lagi. Ia mungkin menjadi mahir dalam memutuskan hubungan dengan kejam sebelum mencurahkan emosi. Sebagai pelarian bersambung yang berhati-hati meninggalkan semua kekasih sebelum mereka dapat meninggalkannya, ia bukan hanya menghindari keintiman, tetapi juga mencari pembuktian kebenaran karena ditinggalkan tanpa peringatan sebelumnya.

Ketika perempuan tak beribu melihat anaknya, dan terutama putrinya, mendekati usia ibunya ketika ia meninggal, dia berhubungan kembali dengan semua ketakutan dan kegelisahan yang dirasakannya pada waktu itu. Ia melakukan identifikasi ganda dengan anak dan ibunya. Apakah aku akan mati sekarang? Bagaimana nanti anakku bisa bertahan hidup tanpaku?

Ribuan anak di Amerika mengembangkan sifat anak-anak tak beribu, meskipun ibu mereka masih hidup, karena mereka telah dibesarkan oleh wanita-wanita tak beribu. Ketika kehilangan sejak dini dimasukkan ke dalam bagian pembentukan kepribadian anak, kemampuan bertahan hidup yang dikembangkannya pada waktu itu diterapkannya pada tugas-tugas berikutnya – termasuk peran pengasuhan orang tua.

Bukan kebetulan kalau wanita-wanita tak beribu meraih puncak dalam bidang mereka masing-masing. Banyak kondisi mereka yang menguntungkan untuk mencapai prestasi – kondisi-kondisi di mana wanita-wanita lain khususnya harus bekerja keras untuk meraihnya. – yang sudah ada dalam kehidupan perempuan tak beribu, menjadikannya calon berbakat alami untuk kreativitas, prestasi, dan kesuksesan yang superior.

Dukacita memerlukan penyaluran, kreativitas menawarkannya.  


Akan tepat sekali rasanya jika teman-teman berkenan untuk meluangkan waktu membaca buku ini. Percayalah, apa yang disampaikan oleh Hope Edelman bukan hanya menjadi sesuatu yang informatif, lebih daripada itu, kita akan belajar untuk mengenali diri sendiri lebih jauh lagi.

 

Referensi:

Edelman, Hope. 2006. Motherless Daughters. Boston: Da Capo Press

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den