Langsung ke konten utama

Book Review - Man's Search for Meaning

Sebuah Perjalanan Pencarian Makna Hidup Viktor E. Frankl

“JIka hidup benar-benar memiliki makna, maka harus ada makna di dalam penderitaan. Karena penderitaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Meskipun penderitaan itu merupakan nasib dan dalam bentuk kematian. Tanpa penderitaan dan kematian, hidup manusia tidak sempurna.”



Sepenggal kalimat yang ditulis oleh seorang Psikiater asal Austria, Viktor E. Frankl, cukup membuat diri ini kembali merenungi betapa banyaknya makna dan pembelajaran yang bisa kita dapatkan selama menjalani hidup. Dari hal yang paling sederhana hingga hal yang rasanya sangat sulit dan berat untuk dijalani. Frankl mengajak kita untuk berkelana lebih jauh dalam tulisan yang ditekuninya selama menjadi salah satu tawanan di empat kamp kematian Nazi yang berbeda. Tak hanya sampai di situ kesulitan yang dialaminya, ia juga kehilangan orang tua, saudara laki-laki, dan istrinya yang tengah mengandung, semua anggota keluarganya tewas dalam kamp kematian. Sungguh menjadi salah satu cerita yang mengisahkan pedihnya kehidupan di rentang tahun 1942 – 1945.

Buku yang ditulis Frankl menyajikan dua bab besar, mengenai pengalamannya selama menjadi tawanan di Kamp Konsentrasi Nazi dan bahasan mengenai Logoterapi secara ringkas. Di bagian akhir, Frankl juga melengkapinya dengan catatan akhir tahun 1984. Buku ini dikemas dengan bahasa yang ringan, namun banyak kisah-kisah mengharukan yang ditekankan untuk para pembacanya. Tidak perlu mengulang dalam memahami setiap kalimatnya, hanya sekali membaca pun kita akan memahami sisi lain yang coba disampaikan oleh Frankl melalui pemaknaan hidup yang ia suratkan dalam tulisannya. Sehingga sangat tepat rasanya jika buku ini telah menginspirasi banyak orang dan menjadi salah satu dari sepuluh buku paling berpengaruh di Amerika.

Di bab pertama yang membahas mengenai pengalamannya selama 3 tahun berada di 4 Kamp yang berbeda, Frankl seperti menarik kita pada momen di mana manusia betul-betul hanya berada pada dua pilihan, yakni antara hidup dan mati. Frankl menjelaskan dengan detail betapa kejamnya kehidupan di Kamp yang ia jalani selama bertahun-tahun. Beberapa hal yang dikisahkannya melalui tulisan, antara lain: cerita mengenai sepotong roti yang menjadi bekal para tawanan setelah seharian penuh bekerja, wabah tifus dan serangan edema, melihat mayat yang ditarik ke ruang pembakaran karena mati akibat kelaparan, melihat rekan sesama tawanan yang menunggu kematiannya hanya dengan sekali panggilan ke kamar gas, hingga menyaksikan praktik kanibalisme. Sungguh tidak terbayangkan betapa pedihnya hidup di zaman itu.

Dalam bukunya, Frankl juga menuliskan mengenai reaksi psikologi fase pertama hingga fase ketiga yang dialami para tawanan ketika berada di Kamp Kematian Nazi, yaitu:

-          Reaksi Psikologi fase pertama

Fase ini dialami tawanan ketika baru saja tiba di Kamp Konsentrasi. Mereka akan mengalami siksaan emosional yang sangat berat, yang berusaha mereka lenyapkan. Perasaan rindu tak terhingga terhadap rumah dan keluarga muncul pada fase ini. Kemudian muncul rasa benci; kebencian terhadap segala keburukan di sekelilingnya, seperti: ketika melihat penggunaan pakaian bekas untuk seluruh tawanan dan melihat jalan-jalan di antara barak tawanan yang dipenuhi kotoran manusia. Pada fase ini, seorang tawanan akan memalingkan wajah apabila melihat tawanan lain yang sedang dihukum.

-          Reaksi Psikologi fase kedua

Fase ini dialami oleh seorang tawanan yang sudah tinggal di kamp selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Mereka yang sudah berada pada tahap ini tidak akan lagi mengalihkan pandangannya ketika melihat tawanan lain yang sedang disiksa. Perasaannya sudah bebal sehingga dia melihat kejadian tersebut tanpa merasakan apapun. Perasaan jijik, seram, dan kasihan adalah emosi yang tidak bisa lagi dirasakan oleh tawanan yang menyaksikan penyiksaan-penyiksaan di Kamp. Penderitaan dan kematian sudah dianggap menjadi hal yang biasa oleh tawanan yang berada pada tahap ini sehingga keadaan tersebut tidak lagi bisa menyentuh perasaan mereka.

-          Reaksi Psikologi fase ketiga

Fase ini merupakan fase yang menggambarkan kondisi psikologis tawanan setelah dibebaskan. Pada fase ini, para tawanan benar-benar kehilangan kemampuan untuk merasa gembira dan harus mempelajarinya kembali secara perlahan. Secara psikologis, apa yang dialami para tawanan ini disebut “depersonalisasi”. Sebuah kondisi yang membuat semuanya tampak tidak nyata, tidak mungkin, dan terasa seperti berada dalam mimpi. Seorang tawanan yang baru saja dibebaskan membutuhkan perawatan spiritual. Mereka yang hidup di bawah tekanan mental yang sangat besar untuk jangka waktu yang panjang pasti akan menghadapi bahaya sesaat setelah dibebaskan. Jika dianalogikan, tekanan mental ini selayakanya bahaya fisik yang dialami oleh penyelam dalam lautan dengan tekanan yang sangat besar. Penyelam yang meninggalkan lokasi penyelamannya (dengan tekanan yang besar) secara mendadak tentu akan membuat kesehatan fisiknya terancam.

Pada fase psikologis ini juga akan tampak bahwa orang yang sifatnya berjenis lebih primitif tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh kebrutalan yang menyelimuti mereka selama hidup di Kamp. Setelah dibebaskan, mereka berpikir bahwa mereka bisa menggunakan kebebasan tersebut secara semena-mena. Satu-satunya yang bertahan untuk orang-orang seperti ini adalah mereka sekarang menjadi penindas, bukan yang tertindas. Mereka mencari pembenaran atas tingkah laku berdasarkan pengalaman mereka yang mengerikan.



Satu kisah yang betul-betul menarik perhatian saya adalah ketika Frankl menuliskan mengenai pengalamannya saat melakukan perawatan medis bagi jiwa para tawanan yang seharian penuh tidak mendapatkan jatah makanan. Dalam kondisi perut yang lapar dan kedinginan, Frankl tetap menguatkan para tawanan dalam kalimat-kalimat penuh penghiburan. Ia mengajak para tawanan untuk bertanya pada dirinya sendiri mengenai kehilangan terbesar apa yang mereka derita yang tak bisa tergantikan, membicarakan mengenai masa depan, menceritakan tentang masa lalu dan segala kebahagiaannya, dan membicarakan banyaknya kesempatan untuk memberi makna pada hidup. Frankl begitu menitikberatkan bahwa hidup manusia, dalam keadaan apapun, tidak pernah kehilangan maknanya.

Dalam tulisannya, Viktor Frankl juga membahas keunikan setiap individu melalui penderitaan yang dialami. Beginilah kalimat yang ia tuliskan: "Jika seseorang ditakdirkan untuk menderita, dia harus menerima penderitaan tersebut sebagai tugasnya; tugas yang tunggal dan unik. Dia harus menyadari kenyataan bahwa bahkan di dalam penderitaannya dia tetap unik dan hanya satu-satunya di jagat raya. Tidak ada orang yang bisa mengurangi atau menanggung penderitaannya."

Dalam tulisannya yang berjudul “Man’s Search for Meaning” betapa Frankl mengajak kita untuk memandang segala sesuatu dalam pemikiran yang positif. Sederhananya, sepedih apapun penderitaan yang kita alami, akan tetap ada makna yang mengiringinya. Penderitaan dalam bentuk apapun tentu saja tidak bisa kita hindari, tetapi kita selalu punya cara untuk mengatasinya, menemukan makna, dan melangkah maju ke depan. Begitulah pemikiran Frankl yang amat membuat saya takjub. Selepas membaca buku ini saya semakin yakin dengan apa yang selama ini saya pikirkan, bahwa di setiap kondisi kita lah yang mampu menentukan pilihannya dan segala sesuatunya akan terjadi melalui apa yang ada dalam pikiran kita sendiri.

Sempatkanlah untuk membaca buku ini, sebab ada banyak perubahan besar yang mungkin akan terjadi ke depannya :)


Referensi:

Frankl, Viktor E. 2017. Man's Search for Meaning. Jakarta: Noura Books.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den