Langsung ke konten utama

Book Review - Koella [Bersamamu dan Terluka]

 Sebuah Novel mengenai cerita cinta yang menghentak dan penuh kejutan!

 

“Esta, kumohon, aku belum selesai,” pinta Makula.

“Tidak. Aku mencintaimu, dan selesai! Tak ada kalimat lain. Aku mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu,” ungkap Esta.

“Esta, bapakku PKI!”


Kisah cinta antara Smesta Mahatvavirya dengan Makula memang dipenuhi lika-liku. Esta (Panggilan akrab Smesta) adalah seorang Taruna muda di Lembah Tidar, sedangkan Makula adalah anak dari seorang laki-laki yang (konon) di PKI-kan. Masa lalu yang terbangun sungguh memilukan, sebab Makula harus menanggung beban bahwa ia kini hidup dalam bayang-bayang wajah yang beraliran “merah”. Kisah cinta dua sejoli ini cukup manis, tapi terasa getir sebab ada jarak yang membentang dan sulit untuk dirobohkan.

Antara Esta dengan Koella (sapaan akrab Makula) memang saling mencintai. Jalinan asmara antara keduanya memang bukan hal yang mengada-ngada. Namun melihat bagaimana gelisahnya seorang Makula sebab ia terlahir dengan kondisi orang tua yang di PKI-kan, kisah cinta itu pun seperti tak akan pernah sampai pada titik yang mengantar keduanya pada kondisi yang dipenuhi kebahagiaan. Makula ragu dan merasa bersalah jika ia memilih untuk mempertahankan Esta, maka ia juga akan turut menjadi orang yang paling jahat sebab telah menghancurkan karir seorang laki-laki yang begitu dicintainya.

Dalam novel berjudul Koella ini, dikisahkan akhirnya Makula pergi meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studinya di Belanda. Ia menjalin hubungan jarak jauh dengan Esta sambil meyakinkan kembali hatinya mengenai hubungannya dengan Esta. Ia rajin menghubungi Yasmin, sahabatnya, menceritakan kegundahan serta kerinduan pada kekasih hatinya melalui sambungan telepon jarak jauh dan lembaran surat.

Kisah cinta antara Makula dengan Smesta memang selayaknya kisah cinta dua orang manusia pada umumnya, namun yang menjadikannya berbeda dan terasa penuh makna adalah kisah cinta dua sejoli ini dikemas dengan romantisme nuansa yang dipenuhi peliknya kehidupan politik kala itu. Ada pesan moral yang coba disampaikan bahwa seberapapun saling mencintainya dua sejoli ini, ada satu garis yang membentang dan turut memisahkan keduanya. Siapapun rasanya takkan sanggup untuk melewatinya, selain Takdir Tuhan yang mungkin saja mampu membalikkan keadaan.


Novel karya Herlinatiens ini memang teramat berbeda. Selain karena jalan ceritanya yang tidak biasa, pemilihan diksinya pun dikemas dengan nuansa puitis yang mempesona. Bagi sebagian orang, mungkin saja perlu beberapa kali membaca agar bisa memahami pesan yang coba untuk disampaikan, namun bagi mereka yang mencintai bait-bait puisi, novel ini bisa menjadi salah satu pilihan yang bisa dijadikan bacaan.

Selain menyaksikan kisah cinta dua sejoli yang cukup mengharuskan, kenyataannya novel ini akan memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita, di antaranya:

  • Bahwa bangsa ini memiliki sejarah kelam yang siapapun tentu tidak ingin hal itu terulang kembali.
  • Mau bagaimanapun kita berusaha, jika Tuhan berkehendak lain, maka kenyataan pun tak akan selalu sama selayaknya harapan yang disematkan.
  • Makula adalah sosok perempuan yang luar biasa, betapa pun dia mencintai Esta, baginya pendidikan adalah hal yang amat penting untuk hidupnya di masa depan.

Begitulah kurang lebih kisah antara Smesta dan Makula yang menggetarkan hati. Mengenai ending dan jalan ceritanya secara lengkap, silahkan membaca novelnya ya. Sungguh kalian tidak akan menyesal apabila menyempatkan diri untuk membaca novel ini :) 

 

Referensi:

Herlinatiens. 2012. Koella [Bersamamu dan Terluka]Jogjakarta: DIVA Press

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den