Langsung ke konten utama

Mencukupkan Rasa Kecewa



"Tidak apa memutuskan untuk kecewa, namun secukupnya saja, jangan sampai diri terlena. Kalau hari ini belum temukan bahagiamu, maka jangan berubah sendu. Ada hari esok yang mungkin lebih menjanjikan. Ada hari esok yang mungkin mampu berikan jawaban atas segala doa dan harapan. Ada hari esok yang mungkin akan kau kenang sebab mimpi-mimpimu terlaksana dengan begitu menakjubkan."

---

Sore kemarin, setelah menunggu sekian lama, ada harapan yang tersemat agar mimpi yang dipunya bisa segera terlaksana dan menjadi wujud nyata. Usaha dan doa diletakkan beriringan, berharap segalanya akan berjalan sesuai keinginan hingga akhir. Sayangnya, harapan sekadar harapan, baik tidaknya hal itu tidak dimengerti dengan baik bahkan oleh diri sendiri. Kesempatan itu belum datang. Ya, usaha dan doa yang dianggap begitu luar biasa disematkan, nyatanya belum cukup untuk meyakinkan sang Pemilik Semesta bahwa diri ini bersungguh-sungguh.

Dua tahun menunggu. Meletakkan banyak harapan yang menggebu. Ternyata penantian panjang belum melahirkan jawaban yang membuat diri penuh rasa haru. Ingin menumpahkan kesedihan, tapi tak tahu untuk memulainya. Ingin sekali pergi menyendiri, tapi ragu tak mampu untuk mengakhirinya. Berat rasanya memang, menemukan mimpi yang diemban sejak lama, jatuh dalam sekejap saja.

Jangan tanya bagaimana kecewanya diri. Jangan pula tanya bagaimana sedih begitu menggerogoti hati yang terbungkus harapan dan cemas dalam waktu yang bersamaan. Bukankah kecewa dan sedih adalah manusiawi? Maka biarkanlah semuanya mengalir begitu adanya. Aku coba biarkan diri untuk menikmati rasanya. Membiarkan diri untuk memahami bahwa apa yang terjadi menciptakan perasaan lain pada hati. 

Tak berselang lama, kegamangan yang dirasa tak ku biarkan mengalir dan berlarut-larut. Buat apa? Bukankah keadaan tak akan pernah berubah jika hanya diratapi dengan kesakitan dan kesedihan yang luar biasa? Lalu apa mau menyerah saja? Seharusnya tidak, sebab menyerah bukanlah pilihan.

Dari segala luka dan lebam yang mengantarkan hingga di titik ini, semuanya tentu tak terjadi hanya karena kebetulan semata. Aku memahami segalanya terjadi sebab alasan yang mungkin aku pun tak memahaminya. Dan perasaan kecewa itu, aku memutuskan untuk mencukupkannya. Aku memantapkan hati untuk memulainya kembali, meminta diri ini agar tak berhenti dan mau untuk berjuang sekali lagi. Meyakinkan hati bahwa segala doa dan usaha akan melahirkan sesuatu yang menjanjikan. Mungkin bukan hari ini, tapi esok atau lusa. Maka tetap bersabarlah, tetap berjuanglah, jangan lelah apalagi lekas menyerah. Sebab berjuang sungguh tak sebercanda itu. Mulailah lagi dan beri kesempatan diri untuk temukan kebahagiaannya kembali. 

Beri pembuktian, bahwa segala perjuanganmu begitu berharga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den