Langsung ke konten utama

Perempuan, yang Takkan Hilang dan Usai Begitu Saja

“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.”

- Sepenggal Surat Raden Ajeng Kartini kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901.

            Membaca sepenggal surat Raden Ajeng Kartini kepada Nyonya Van Kool berpuluh-puluh tahun lalu rasanya begitu mengingatkan kita betapa sulitnya saat itu untuk memperjuangkan hak perempuan. RA Kartini bahkan menyematkan kalimat pembuka yang seharusnya membuat pembaca merasa begitu haru dan sesak dalam waktu yang bersamaan. Beliau mengatakan bahkan Bangsa ini sendiri akan begitu berbeda jika perempuan diberikan pendidikan yang layak. Bukankah sudah cukup menjelaskan betapa posisi perempuan mesti bersandingan dengan kaum Adam dalam menjemput kelayakan? Menahun, mungkin kesetaraan itu perlahan kita jemput, tetapi nyatanya tidak secara menyeluruh mengubah pemikiran sebagian besar orang untuk menerima pesan yang disampaikan RA Kartini. Dalam persepsi sebagian besar orang, perempuan tetaplah berada di “tempat kedua”.

Rasanya tak banyak hal yang bisa ditampik dari kerasnya pandangan sebagian orang tentang kita, perempuan. Perempuan diwajibkan untuk mampu melakukan hal tertentu, namun tidak dengan lelaki. Perempuan tak memiliki kesempatan sebesar lelaki untuk memperoleh kesetaraan yang mumpuni. Konsep seminim itulah yang hidup sekian lama dalam pemikiran masyarakat kita. Tidak jarang kita mendengar ungkapan-ungkapan yang menurutku begitu menyakitkan mengenai tugas yang harus dipikul seorang perempuan. Bagaimana tidak? Misalnya saja ketika agenda perkumpulan keluarga seringkali terlontar pertanyaan, “Kenapa sekolah terus? Perempuan kan tugasnya hanya di dapur.”. Atau ingin yang lebih menyakitkan? Ada. “Kamu umur segini gak nikah-nikah. Lihat tuh teman-temanmu yang lain sudah pada gendong anak. Lha kamu kok gini-gini aja, malah sekolah aja yang dipikirin, memang niat jadi perawan tua ya?”. Barangkali kita perlu mengingatkan kembali apa yang sekian tahun lalu dikatakan oleh sosok perempuan yang begitu menakjubkan, RA Kartini. Melalui penggalan kalimat di setiap suratnya, RA Kartini sungguh menitikberatkan bagaimana seharusnya perempuan diperlakukan dengan semestinya.

Kerap kali aku bertanya pada diri, sesulit itukah memantaskan diri untuk menjadi perempuan yang mawas diri? Dulu, aku menganggap apa yang dikatakan orang lain, bahkan dalam lingkaran terdekat yakni keluargaku sendiri, adalah hal yang betul-betul harus aku tanamkan dalam hati. Mungkin saja mereka benar, bukankah perempuan harus tumbuh dan berkembang dalam pemikiran ini? Tidak ada peluang untuk kami menjawab segala keinginan hati. Tidak diberi waktu untuk memperluas pikiran dan kemampuan untuk membahagiakan diri. Tidak diberi kesempatan untuk menuai mimpi-mimpi yang lama terpatri. Tidak, aku rasa tidak perlu menuai, sekadar menanamkan mimpi saja rasanya sungguh dibatasi. Sungguh kejam rasanya, sebab hanya sebatas itulah persepsi masyarakat mengurung kita dalam pikiran dan perasaan kerdil yang tak berkesudahan. Rasanya seperti separuh hidupmu berada dalam genggaman orang lain. Jika mereka meremukkannya, maka kamu pun akan remuk bersamanya.

Aku berulang kaki dicecar berbagai pertanyaan, sebagai seorang Sarjana Psikologi, mereka bertanya apa kegunaan ilmuku sebetulnya dalam keseharian. Tetapi bagaimanapun aku menjelaskannya, tetap tidak ada jawaban yang menurut mereka cukup meyakinkan. Aku sungguh merasa - perjuangan emansipasi yang dilakukan RA Kartini tak sedikitpun berharga untuk mereka yang terus menekanku. Namun perlahan aku meyakinkan diri, bagaimana bisa aku menyerah hanya dalam dekapan kata orang lain yang meragukanku? Aku tidak mengizinkan diriku untuk terus-menerus tenggelam dalam sendu. Apapun yang aku yakini, maka aku hanya perlu melakukan itu. Bukanlah tugas kita untuk mengerti apalagi sampai memaksa diri mengikuti keyakinan yang orang lain tuju. Tidak perlu, hanya membuang waktu dan membuat dirimu semakin meredup dalam hari-hari yang mengabu. Dan dari segala perasaan resah yang mendera, aku berulang kali mencoba meyakinkan diriku juga orang-orang terdekatku bahwa aku berhak menentukan pilihan. Aku ingin meneruskan apa yang betul-betul ingin aku lakukan.

Ketika orang lain meragukan kita, apakah itu mendefinisikan bahwa kita telah usai? Tentu saja tidak. Bagiku, kita tak boleh dan takkan pernah usai, hanya karena penilaian yang orang lain berikan untuk kita. Hanya berdiam diri dan menerima begitu saja anggapan orang lain mengenai kita, para perempuan, rasanya sungguh tidak adil, bukan? Maka tunjukkanlah bahwa kita adalah perempuan yang cerdas. Tunjukkanlah bahwa kita memiliki banyak kesempatan untuk memilih dan membangun masa depan seperti apa yang kita mau. Tidak perlu kita menyibukkan diri untuk memberi kesan sempurna bagi orang lain. Sungguh, bukanlah suatu keharusan kita menuntun diri untuk ikuti apa yang orang lain inginkan. Cukup menjadi dirimu yang apa adanya, sederhana, namun keberadaanmu-lah yang akan dianggap begitu bermakna. Tidak perlu menerka terlalu jauh. Lihat dan rasakan apa yang ada di sekeliling kita. Mungkin dari kita pernah sesekali mendengar kisah-kisah perempuan yang meletakkan separuh hidupnya untuk sekadar mengabdi? Bahkan mungkin menapaki sekilas perjalanan hidupnya terasa begitu menggetarkan hati. Tidak perlu menilik jauh ke pelosok negeri, setiap perempuan di sekelilingmu tetap berarti dengan masing-masing kisahnya yang tersimpan rapi.

Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, kemana sebetulnya aku ingin menapak dengan ilmu yang kugenggam saat ini? Hanya sedatar inikah perjalanan yang menungguku? Rasanya ada hal lain yang bisa aku lakukan meskipun harus dimulai dari hal-hal kecil. Sedemikian panjangnya aku bergelut pada pikiran dan perasaanku sendiri, hingga beberapa tahun lalu aku memutuskan untuk mengizinkan diriku melihat jauh lebih dalam dari apa yang ada di sekelilingku. Di tahun 2017 lalu, aku dan beberapa teman pergi mengunjungi perkampungan nelayan di wilayah Muara Kurau, daerah pesisir di Utara Ibukota. Wilayah itu adalah tempat tinggal keluarga nelayan yang terdampak sengketa reklamasi. Aku mendatangi wilayah tersebut bersama dengan beberapa teman mahasiswa Psikologi juga beberapa mahasiswa Kedokteran dari kampus yang berbeda. Kami melakukan pemeriksaan kesehatan gratis dan melakukan fun learning dengan sejumlah anak

Mengajak anak-anak bermain nampaknya sedikit mengobati mereka yang kala itu diselimuti berbagai perasaan sedih, takut, dan resah dalam waktu yang bersamaan. Meskipun cukup sederhana, namun memberikan dampak yang luar biasa. Paling tidak, dalam sepersekian hari kami mengajak mereka untuk berlari dari segala keresahan yang teramat mengekang. Aku belajar untuk memahami bahwa perasaan bahagia memang seharusnya tercipta dari hati dan pikiran kita sendiri, tetapi membahagiakan orang lain adalah sebuah keikhlasan. Dari sanalah kita ‘kan belajar agar ego tak selalu menguasai diri, bukan? Melakukan kegiatan sosial serupa pemeriksaan kesehatan gratis dan melakukan fun learning untuk anak-anak rasanya membangun lagi kepercayaan diriku yang sebelumnya jatuh terpendam. Aku hampir luput dari kesempatan untuk mempercayai diriku sendiri hanya karena asumsi yang orang lain sematkan tentang aku dan ilmu yang aku miliki. Hal kecil yang aku pelajari di hari itu adalah apapun yang bisa kita lakukan, maka lakukanlah. Apapun yang kita miliki, jika ada kesempatan untuk berbagi, maka berbagilah. Tidak perlu menjelaskan bahwa kita begitu menginspirasi. Biarkan orang lain yang menilainya. Cukuplah untuk kita mengabdi hanya dengan setulus hati.

 Menenggelamkan diri dalam banyak pertanyaan, ditambah dengan situasi pandemik sepanjang tahun 2020 kemarin perlahan membuka mataku bahwa ada banyak cara untuk terus menebarkan kebaikan pada orang lain. Tidak perlu mewah, hal sekecil apapun yang mampu kau lakukan, maka lakukanlah. Sebab yang kita anggap sederhana, mungkin saja dinilai orang lain dengan begitu sempurna. Kita tidak pernah betul-betul mengetahuinya, bukan? Berbicata mengenai hal kecil apa yang bisa aku berikan untuk orang lain, maka jawabannya hanya dua: memberikan diri kesempatan untuk berperan sebagai volunteer peer counseling agar turut andil dalam meningkatkan kesejahteraan mental masyarakat Indonesia, dan satu lainnya adalah membangun komunitas yang berfokus pada kesejahteraan anak secara psikologis. Aku aktif sebagai peer counselor di layanan Konseling Psikologi Online @ibunda.id dan aktif membangun komunitas anak bernama @dearchildren.id dengan hashtag kampanye #anaklayakbahagia.

Jika ditanya apa yang membuatku menginisiasi diri untuk aktif sebagai volunteer peer counseling? Maka sungguh jawaban itu adalah refleksi diriku atas segala isu-isu psikologis yang terjadi di sekelilingku. Beberapa kali aku berinteraksi dengan perempuan korban bullying, perempuan yang dinilai negatif karena konotasi dari sebuah kata “perceraian”, perempuan korban pelecehan seksual, hingga perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Aku melihat begitu banyak perempuan yang belum merdeka dari tindak kekerasan. Mereka “terpaksa” hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Mereka “diminta” untuk tetap berjalan dalam balutan luka yang kerap kali menguak lagi kepedihan. Mereka yang ditekan atau bahkan dilecehkan, ada yang berupaya melawan, namun ada juga yang tak berdaya hingga terkurung dalam kegelisahan dan amarah yang tak berkesudahan. Dari sanalah aku belajar untuk memahami bahwa setidaknya mereka butuh seseorang untuk mendengarkan. Dari segala ruam dan lebam yang mereka rasakan, terkadang mereka hanya perlu tempat bersandar untuk menuangkan segala perasaan.

Dalam satu minggu, aku memiliki 3 sesi untuk memberikan layanan konseling secara online. Di mana setiap sesinya akan disediakan waktu selama 1 jam untuk konseling. Aku memahami bahwa memberikan layanan konseling secara online dapat dikatakan sebagai suatu hal yang tidak mudah untukku, terlebih aku menghadapi banyak orang dengan latar belakang kehidupan yang berbeda. Tentu saja banyak sekali tantangan yang harus aku lalui, seperti misalnya: ketika ada klien yang menceritakan kisah hidupnya dengan begitu banyak luka dan trauma, juga mereka yang bahkan merasa sudah tak memiliki alasan untuk bertahan. Aku terkadang merasa begitu teriris meski hanya membaca sepenggal kisah yang harus mereka lalui. Namun, dari sanalah aku justru belajar bagaimana caranya berempati. Aku banyak belajar untuk turut merasakan apa yang sedang orang lain rasakan. Beruntungnya, untuk meningkatkan kemampuan diri menjadi seorang konselor, komunitas @ibunda.id melakukan beberapa kali training bagaimana menjadi seorang konselor yang baik. Selain itu, wadah untuk saling berbagi antar sesama konselor juga disediakan sehingga akupun merasa begitu terbantu.

Selain aktif menjadi volunteer peer counseling, aku juga membangun sebuah komunitas bersama dengan dua orang teman yang berfokus pada kesejahteraan anak. Kami membangunnya dengan kesamaan pikiran dan perasaan kami mengenai kesejahteraan anak-anak di Indonesia saat ini. Berbagai isu, seperti: kelayakan pendidikan, bullying, kekerasan, pelecehan seksual, hingga pembunuhan yang seringkali menempatkan anak sebagai korbannya menggerakkan hati kami untuk membangun komunitas ini. Bagaimana mungkin kehidupan anak terbentuk dengan begitu menyedihkan, sementara di pundak mereka terdapat masa depan bangsa ini sendiri. Anak yang memandang dunia dengan begitu sederhana, tak semestinya turut merasakan dunia dan seisinya yang tak sama sekali sempurna. Seperti yang dikatakan oleh seorang Johann Wolfang Van Goethe, bahwa kita tidak bisa membentuk anak sesuai dengan keinginan kita. Anak-anak harus kita miliki dan kita cintai sebagaimana yang telah Tuhan berikan untuk kita. Dari komunitas inilah aku dan dua orang temanku bertekad saling menautkan genggaman untuk turut membangun generasi yang lebih baik.

Komunitas yang kami bangun melibatkan banyak aktivitas di media sosial, seperti: kampanye, sharing pengetahuan, data-data statistik mengenai kehidupan anak dari Lembaga Pemerintahan, pesan-pesan untuk anak, dan hal-hal lain yang berfokus pada kebahagiaan dan kesejahteraan anak. Sejak didirikannya komunitas ini enam bulan lalu, kami memiliki keinginan untuk bisa terjun langsung mengedukasi masyarakat menengah ke bawah. Sayangnya, situasi pandemik ini secara tidak langsung membuat kami mengurungkan niat untuk melakukan itu sampai dengan situasi benar-benar telah kembali pulih seperti sedia kala. Untuk mengatasinya, kami sementara waktu melakukan edukasi seputar anak hanya melalui media sosial. Sama halnya menjadi peer counselor, aku begitu jatuh cinta terhadap apa yang aku lakukan ini. Di tengah kesibukanku, nyatanya aktivitas inilah yang menjadi salah satu obat untukku bisa membahagiakan diri. Selain bisa berbagi, aku juga merasa ilmu yang kumiliki bisa tersampaikan dengan cara yang lebih sederhana untuk orang lain.

Aku yakin, bahwa suatu hari nanti apa yang telah aku lakukan akan membuat orang lain mengerti bahwa setiap hal kecil yang dilakukan akan selalu memberi makna untuk hidup orang lain. Bahwa apapun mimpi dan cita-cita yang kita inginkan, akan selalu ada jalan untuk menggapainya dan melahirkan bahagia untuk orang-orang di sekeliling kita. Jika orang lain menilai perempuan hanya cukup berdiam diri di rumah, maka buktikanlah bahwa kita bukan bagian dari perempuan seperti yang mereka pikirkan. Jika ingin mengabdikan diri, maka teguhkan hati, dan jangan biarkan asumsi orang lain turut mengiringi. Kamu tak perlu khawatir apalagi sampai merasa rendah diri hanya karena orang lain yang membungkammu dalam penilaian yang mereka buat sendiri.

Kita sungguh mampu menjadi perempuan, yang hadirnya selalu memberi kesan istimewa. Menjadi perempuan yang tak pernah mengeluh meski berulang kali hampir terjatuh. Tidak perlu sempurna untuk menjadi bermakna. Cukuplah melakukan segalanya dengan hati dan pikiran yang ‘kan membuatmu begitu berharga. Tetaplah sederhana dengan dirimu yang apa adanya. Yang kehadirannya terlihat biasa, namun sungguh terasa. Puan, lakukanlah segalanya dengan penuh ketulusan dan keikhlasan, maka sungguh kita takkan pernah mengharapkan imbalan. Tetaplah menebarkan kebaikan, sebab apa yang orang lain pikirkan, sungguh takkan membuat kita hilang dan usai begitu saja.

Penulis: Fitria

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den