Langsung ke konten utama

Yang Dianggap Selesai, Nyatanya Belum Usai...


Kita, sungguh akan menjadi misteri, jika tak mengenali dan mencintai diri dengan kesungguhan hati.

Memang tak dapat dipungkiri, tak ada hal apapun yang sempurna di dunia ini, termasuk diri kita sendiri. Entah keindahan apapun yang memoles dan membalutnya, sesuatu tak akan pernah sempurna, mungkin hanya akan terlihat sempurna. Semestinya kita bisa memahami, bahwa "sempurna" dan "terlihat sempurna" adalah dua hal dengan makna yang sungguh berbeda. 

Mengenali diri sendiri tentu bukan proses yang begitu instan. Perjalanan panjang perlu dilalui dengan serangkaian pertanyaan yang kerap kali membingungkan. Pertanyaan yang mungkin saja akan buat diri ragu, kemudian memutuskan untuk berhenti perlahan. Untuk sebagian yang tak mampu bertahan, akan kehilangan kesempatan, kemudian menyerah pada keadaan. Mengenali diri sendiri, sungguh bukan proses yang sederhana dalam pandangan juga ingatan, namun ketika mampu melaluinya, semua terasa menyenangkan sekaligus mengharukan.

Selayaknya sebuah perjalanan, jalan yang dilalui untuk kenali diri lebih jauh akan menemukan banyak kesulitan. Medan tak kan semulus lintasan dalam sebuah permainan. Akan kita temukan jalan bebatuan, yang mungkin akan buat diri tersandung hingga muncul keraguan untuk meneruskan perjalanan. Keyakinan hanya akan dirasa saat diri ingin betul-betul memperjuangkan apa yang memang diingin dan telah lama tersemat dalam hati sebagai sebuah tujuan.

Memar, ruam, dan segala luka yang tanpa disadari membalut diri, kerap kali secara tak sengaja membimbing kita untuk tak lagi mengenali "siapa aku?". Luka yang mungkin mengiringi kita saat bertumbuh, memang tak kan nampak begitu saja dalam kedua pandangan mata. Ia tetap ada, meski tak kita rasa. Ia tetap hadir, meski kita meronta dan tak sekalipun meminta. Luka itu, yang terbentuk entah dari pengalaman apa, tak kan sembuh, kalau kita tak mengenali diri dan berkeinginan untuk menyembuhkannya. 

Perasaan sedih, gelisah, kecewa, dan marah yang selama ini dirasa mungkin saja terbentuk karena luka itu tak kunjung sembuh. Luka apapun dari masa lalu yang buat hati remuk begemuruh. Luka yang diam-diam mengusik dan buat pikiranmu lusuh. Luka yang buat perasaanmu gaduh. Luka yang ketika kau tumbuh dewasa buat duniamu seakan runtuh. Aku, kamu, dan kita tak pernah benar-benar menyadarinya. Luka yang dianggap selesai, nyatanya belum usai. Luka yang lahirkan kepedihan, sekali lagi buat diri kelelahan dan mencari-cari kokohnya sebuah sandaran.

Jika hati dan pikiran sudah terasa tak karuan, maka jangan kita sibuk mencari kesalahan. Kenapa bisa demikian? Apa yang buat diri ini terbalut luka tak berkesudahan? Apa yang jadikan diri tumbuh tanpa perasaan yang membahagiakan? Bukan, bukan saatnya mencari tempat yang pantas untuk meletakkan kesalahan. Kita mesti belajar untuk memahami, bahwa semua berawal dari hati dan kemauan untuk mengenali diri lebih jauh lagi. Semua berawal dari keinginan untuk mempertebal perasaan cinta terhadap diri sendiri. Sebab hanya diri kita yang mengulurkan tangan juga yang mampu menjadi sandaran, saat diri tak lagi yakin dengan kehidupan yang terkadang tak cukup menjanjikan.

Perlahan, berikan kesempatan untuk mengenali siapa dirimu sebenarnya, apa maumu sebenarnya, dan bagaimana kamu harus melakukannya? Jangan tergesa-gesa, namun jangan biarkan semua terobati hanya dengan sendirinya. Aku, kamu, dan hanya kita yang mampu membalutnya jika diri terluka. Sampaikan dan yakinkan berulang kali pada hati dan pikiranmu, bahwa sungguh kamu begitu mencintai dirimu, segala kelebihan juga kekuranganmu.

Beri waktu untuk diri bisa bernafas, agar ia tak selalu sesak dalam bayang-bayang luka yang dianggap selesai, namun nyatanya tak sama sekali usai. Tanamkan pada hati, bahwa luka itu, akan segera kamu lalui. Luka itu, akan buatmu lebih kuat untuk bertahan dan hidupkan kembali perasaan yang sempat mati tak bersisa. Kamu sungguh mampu, untuk melawan luka di masa lalu yang dulu buatmu tumbuh dengan perasaan layu.

Luka itu, akan selesai karena kau mampu untuk terus berdiri dan melangkah lagi. Berkemaslah, kita akan temukan kebahagiaan setelah ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den