Langsung ke konten utama

Bukan untuk Menyerah, Hanya Menentukan Arah Kemana Sebaiknya Harus Melangkah


"Jika ingin menyerah, maka tengoklah, sudah seberapa jauh kamu melangkah? Sudah berapa banyak jalan yang kau lalui hingga kau abaikan rasa lelah?"

Kalimat di atas, pernahkah menyesap hingga ke relung hati? Atau hanya dibiarkan terbaca berulang kali ketika perasaan lelah benar-benar tak ada yang mampu obati? Aku yakin sekali, beberapa dari kita turut merasakan betapa dahsyatnya sebaris kalimat motivasi. Bukan karena diimingi romantisme kata layaknya puisi, tapi memang patut diyakini bahwa kalimat yang tak sengaja kita jumpai justru terkadang membantu untuk menegakkan kembali hati dan pikiran yang tak beriringan lagi.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita meyakini berulang kali bahwa hanya lewat sederet kata semua keletihan diri bisa menghilang tak bersisa? Jujur saja, aku ragu untuk meyakininya. Buatku, perasaan lelah dan keinginan untuk sesekali menyerah adalah hal yang wajar sekali terjadi. Itu manusiawi. Terlebih kita punya hati yang mampu mengontrol baik buruknya suatu hal yang semestinya terjadi.

Aku berulang kali menata kembali hati, dengan kalimat-kalimat menenangkan yang kuharap bisa teguhkan kembali hati dari segala ruam dan sesak yang seringkali mengiringi. Aku mencobanya, lagi dan lagi. Berdialog dengan diri sendiri agar bisa lalui ini dan mau bertahan sekali lagi. Aku yakinkan diri bahwa bukan ini yang ku mau untuk terjadi. Tetapi bagaimana harus dikatakan lagi. Jika memang diri ini sudah sebegitu lelahnya, kalimat-kalimat menenangkan pun takkan mampu sedikitpun mengobati.

Aku tak memungkiri, segala rasa penat dan letih yang akhir-akhir ini mengusikku, perlahan berubah menjadi kekecewaan yang kuletakkan rapi di dalam diriku. Aku sungguh tak bermaksud membuat diri terlihat dungu. Aku hanya tak ingin segalanya terlihat menipu. Jika aku katakan semua baik-baik saja, itu akan menjadi kenyataan yang palsu. Bukan itu mauku. Aku lelah dan ingin katakan yang sejujurnya pada diriku terlebih dahulu. Kemudian aku hanya perlu mengikuti kemana langkah kakiku menderu, hingga saatnya kuyakini di sanalah sungguhnya aku mencari sesuatu yang dituju.

Haruskah Menyerah? Tidak, Kuatlah!

Buatku, pemikiran untuk menyerah bukanlah sesuatu yang harus aku tutupi dan pura-pura tak ku ketahui. Wajar sekali itu terjadi saat hati dan pikiran tak beriringan langkah. Kalau memang ingin menyerah, cukuplah dengan mengalah pada segala situasi yang membuat resah. Tentukan kembali apa mamumu dan tanyakan pada hati apa yang kan membantumu temukan arah. Jangan terlalu banyak bergelut dengan perasaan gelisah, sebab itu hanya akan membuatmu lebih "berdarah". Jadi, jika ditanya haruskah menyerah? Tidak, kuatlah! Melangkahlah sekali lagi dan tentukan arah. Meskipun bukan lagi berpijak di posisi yang sebelumnya, nyatanya kamu akan tetap melangkah dan temukan kebahagian dengan caramu yang begitu indah.

Singkatnya begini,

saat kita betul-betul ingin menyerah, percayalah bahwa kita sebetulnya hanya ingin berhenti berada di titik itu. Kemudian ingin tempatkan diri pada pijakan lain yang dirasa lebih mampu untuk lahirkan kebahagiaan yang awalnya dirasa semu. Dari panjangnya perjalanan yang mengantarkan kita hingga di titik ini, semestinya kita cukup mampu untuk sekadar menanyakan apa memang di sinilah seharusnya kita berdiri? Semestinya sudah cukup kita renungkan untuk kembali temukan arah yang lain atau tetap mematung merutuki diri sendiri? Jawabannya jelas hanya ada pada diri kita sendiri. 

Sungguh, bukan hal yang begitu sulit untuk bisa buat diri merasa hidup kembali. Cukup katakan yang sejujurnya pada diri dan kenali kemanakah diri semestinya melangkah hingga tak ada lagi keinginan untuk menyerah. Dan sekali lagi, jika semua telah dilalui, maka sesungguhnya kita telah mampu taklukkan kekhawatiran diri:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den