Langsung ke konten utama

Jatuh cinta sekali lagi pada diri sendiri. Untuk kita yang diminta bertahan dalam kondisi yang tak menjanjikan...


Meminta diri untuk membuang jauh perasaan kecewa di suasana pandemi saat ini agaknya terdengar seperti permintaan yang jauh berbeda. Beberapa bulan lalu, sebagian dari kita mungkin merasa biasa saja. Merasa kondisi ini tak akan berlangsung lama. Berpikir sederhana bahwa yang dialami tak akan menyakiti siapa-siapa. Seperti biasa, yang datang semestinya akan segera berlalu begitu saja. Namun ternyata sebaliknya, sampai hari ini kita masih menerka-nerka. Kapankah hari-hari yang hangat dan menenangkan akan kembali kita temukan seperti sedia kala?

Adakah yang merasa biasa saja? Atau terlena dengan kondisi hari ini yang aku pun tidak tahu harus dijelaskan dengan kata dan kalimat seperti apa?

Aku dengar kondisi ini membuat beberapa dari kita belajar menemukan diri kembali dengan versi terbaru. Mungkin juga mengembalikan hobi-hobi lama yang dulu terbuang dengan buru-buru. Atau kesukaan baru yang muncul saat perasaan sepimu membentuk rindu? Apapun itu,  buatku kita selalu layak untuk dapatkan dan rasakan itu. Semua perasaan kecewa, lelah, sedih dan marah di kondisi saat ini seharusnya tak hanya sekadar menyatu. Lebih dari itu, nampaknya kita harus tetap "terbangun" untuk hilangkan lesu yang menderu. Bukankah seharusnya begitu?

Bicara mengenai diri, jika kita merasakan hal yang sama, tentu bukan hal yang mudah untuk melalui usia seperempat abad dengan amat sederhana. Ditambah dengan kondisi pandemi yang membuat semuanya serba terbatas dan tak leluasa. Kita tidak hanya diminta untuk lebih pandai mengendalikan rasa, lebih dari itu kita diminta untuk mengarahkan diri agar tak sedikitpun putus asa. Sebagian besar dari kita diminta untuk menggantungkan mimpinya sementara. Bohong agaknya jika aku katakan semua ini tidak apa dan baik-baik saja. Tetapi begitulah, aku yakinkan diri bahwa ini hanya soal waktu. Jangan terburu-buru untuk menggerutu. Anggap saja waktu membungkusmu dengan romansa yang sebelumnya tak pernah kau tahu.

Aku membawa diri ini menapaki hal-hal baru yang cukup menenangkan. Setelah berkali-kali jatuh bangun membenahi diri dari perasaan yang tak karuan. Untuk temukan diriku kembali, aku seperti memberi kesempatan diri untuk kembali berjabat tangan. Berkenalan dengan hobi dan kebiasaan yang terlupakan, menyapa mesra mimpi-mimpi yang sudah sejak lama kuperjuangkan, mengizinkan diri untuk kembali berbincang perihal kehidupan yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Tidak apa-apa, aku sama sekali tak keberatan. Sebab aku sedang meminta diri untuk temukan jalannya sendiri. Jalan yang akan mengantarku temukan lagi hari-hari yang lama dinanti.

Sekali lagi, menyelami usia seperempat abad, bukanlah hal yang biasa. Terlebih untuk kita yang sedang mencoba untuk menjadi dewasa. Beberapa mungkin terbiasa dengan suasananya, namun beberapa yang lain justru menemukan krisis dan terus dipenuhi rasa bertanya-tanya:

Apakah aku sudah menebarkan manfaat untuk orang lain?

Kenapa aku masih jauh tertinggal dari mereka? Aku tak pantas sepertinya.

Aku jenuh. Kamu bagaimana?

Kisah romansaku tak tahu arahnya, bagaimana ini?

Aku ingin lanjutkan pendidikan, tapi....

Aku merasa tidak engage dengan pekerjaanku, menurutmu apakah passion-ku sudah sesuai?

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang seringkali justru mengkerdilkan diri kita sendiri. Kita mungkin diiringi rasa khawatir ketika pertanyaan itu berulang kali muncul tetapi belum juga ditemukan jawabnya. Tidak mengapa, sebab itulah kita disebut manusia. Seringkali semua terjadi tanpa ada rencana.

Sekian lama aku tenggelam dalam perasaan dan pikiran yang kubangun sendiri, aku kemudian menyadari bahwa bahagia yang selama ini kucari nyatanya disemai sendiri oleh diriku sendiri. Dulu aku merasa sangat hampa dan tak ada satupun dari diri yang buatku bangga. Melihat orang lain begini, aku semakin merasa tak berdaya. Mereka terlihat sangat sempurna. Aku membandingkan diriku berulang kali hingga aku merasa sama sekali tak dibutuhkan dan tak ada artinya. Sekali lagi, aku membungkus diriku dengan kebodohan yang aku ciptakan sendiri dengan tergesa-gesa. Mengkerdilkan diri ternyata membuatku lelah berhari-hari. Aku tak tahu lagi bagaimana cara 'tuk bangun mimpi-mimpi kembali. Semua terlihat rumit dan tak sekalipun kutemui jalan untuk segera akhiri ini.

Hari-hari berlalu dengan kondisi pandemi yang belum kutahu kapan akan diakhiri. Perlahan, aku memberanikan diri untuk menyingkap "tirai" yang selama ini membuat diriku terpisah, yang buatku tak sedikitpun luput dari perasaan gelisah, yang buatku jalani hari dengan perasaan yang amat gundah. Aku tuntun diri ini untuk temukan orang lain yang percaya akan mimpi, yang selalu mengerjakan apa-apa yang mereka cintai. Aku memohon pada diri agar tak lagi memberi kesempatan untuk bandingkan diri dengan mereka yang dirasa lebih mumpuni. Meminta dengan sangat agar tidak memfokuskan diri pada masa lalu yang mungkin saja akan membuatku rumit dan tak enak hati. Aku memintanya dengan hati-hati, agar semuanya bisa segera kulalui.

Aku temukan diriku kembali, melalui kebiasaan dan hobi baru yang sudah sejak lama terlupakan. Beberapa tahun belakangan, menulis bukan lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan, tetapi hari ini bahkan aku merasa tak sedikitpun bisa melepaskan itu sebagai suatu kebiasaan. Aneh bukan? Kebiasaan lain yang baru kutemukan: membiasakan diri untuk "berteman" dengan tanaman, menambah kemampuan diri dengan mengikuti kursus ini dan itu yang sama sekali tak menjenuhkan, membangun lingkungan sosial melalui kegiatan yang menambah wawasan, dan kegiatan-kegiatan lain yang sebelumnya sama sekali tak aku hiraukan. Ternyata aku memberikan kesempatan untuk diri ini bertumbuh dan terus bertahan dalam kondisi yang sama sekali tidak menjanjikan. 

Kita berhak tentukan, untuk segera melepas diri dari krisis yang dialami atau membiarkan diri terlarut dalam perasaan kecewa dan gelisah yang tak berkesudahan. Untuk membangunkan diri kembali tentu bukan proses sederhana yang sangat instan. Kita jelas memahami, bahwa hal-hal yang besar membutuhkan waktu untuk kita datangkan. Kita diminta untuk tidak terburu-buru dengan sesuatu dan tidak menggantungkan harapan pada siapapun, sebab semua ini tentang kita. Percayalah, proses yang dilalui jelas akan membuat kita tumbuh menjadi sosok terbaik versi diri kita sendiri. 

Tidak perlu kecewa dengan kondisi ini. Aku, kamu, dan kita selalu punya kesempatan untuk membenahi diri, dan temukan kembali cara-cara untuk jatuh cinta sekali lagi pada diri sendiri.

Aku bisa. Maka kamu pun bisa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den