Langsung ke konten utama

Berbahagialah dengan Sederhana..


Aku tak pernah sekalipun izinkan diriku untuk mengalir pada pikiran orang lain. Perasaan yang mereka miliki, harapan yang mereka sematkan, aku paham betul tak sedikitpun aku bertanggung jawab atas keinginan yang mereka dambakan. Aku hanyalah aku, yang harusnya mengiringi setiap langkah yang ku kehendaki sebelumnya. Orang lain kerap kali mendikte mengenai aku yang semestinya bertumbuh menjadi perempuan seperti apa. Namun ku yakinkan diri, seumpama senja, kau sama sekali tak butuh pengakuan siapapun untuk berpendar atau sekadar memberikan kesan sempurna tentang langit sore. 

Buatku, pemikiran orang lain tentang aku di mata mereka adalah sia-sia. Aku tak menampik bahwa memang sudah saatnya tak lagi menikmati kesendirian, tapi sekali lagi aku tak ingin paksa diri untuk menjamu apa apa yang mungkin saja bukan menjadi sumber bahagiaku. Mauku, biar semua begini saja. Jangan dipaksa dan diberikan kehendak yang buat hati melayu lesu. Jangan buat perasaan gundah jadi menderu. Sesuatu yang dipaksakan takkan pernah melahirkan kebaikan, bukan?

Orang lain yang datang, mereka bukan hanya membisikkan sapaan, tapi juga meletakkan pertanyaan-pertanyaan yang sungguh tak bisa dipahami. Aku membiarkan diri untuk diam dan tak berikan penjelasan apa-apa. Perkiraan mereka aku yang tak mau. Sama sekali keliru. Ada sesuatu yang perlu dibenahi. Ada hal yang harus lebih dulu aku sempurnakan. Untuk menjawab pertanyaan mereka, aku tak perlu memberi jawaban yang mereka mau. Cukup buktikan dengan diri yang tumbuh bersahaja. Maka seharusnya semua kan mengalir baik-baik saja.

Aku ingin jelaskan sedikit, bahwa apa yang ada pada diriku bukanlah untuk memberikan kesan baik bagi orang lain. Mereka boleh saja meminta, tapi aku takkan berikan apapun apa yang mereka suka. Sungguh, rumit sekali rasanya jika harus penuhi hati orang lain dengan keindahan-keindahan yang mereka damba. Takkan pernah cukup. Takkan pernah lengkap. Takkan pernah ada habisnya. Akan ada permintaan kedua, ketiga, hingga kau sadari bahwa kau tak bisa penuhi itu hanya dengan dirimu sendiri.

Aku selalu tanamkan pada hati, bahwa kita hanya perlu berbahagia dengan cara yang sederhana, bersamaan dengan dunia yang sama sekali tidak sempurna. Kalau dibiarkan melarutkan diri dalam pemikiran dan harapan orang lain, maka hari-hari tentu akan mengabu. Kau kan temukan dirimu tenggelam perlahan. Perasaan dan pikiran tak seirama. Semua yang disemai, ditata, dan dirawat sepenuh hati akan hilang dan takkan pernah kau temui sisanya.

Kalau memang saat ini hidup menuntunmu untuk begini adanya, maka tetaplah seperti ini. Jangan dibuat berlebihan seakan-akan ia janjikan 'tuk hapuskan kehampaan. Jangan dibuat seolah-olah kau 'kan segera temukan kebahagiaan yang instan. Beri sedikit ruang, beri sedikit waktu. Jika memang perlu jeda, maka lakukanlah. Biarkan diri mencari dan temukan kebahagiannya sendiri. Tak perlu libatkan siapapun, kecuali Sang Pemilik Semesta. 

Teruntuk dirimu dan diri ini, sungguh takkan ada cara terbaik selain mencintai diri ini terlebih dahulu. Berbahagialah dengan cara-cara paling sederhana. Buatlah semesta mengharu sebab telah kau tuai apa apa yang selama ini dinanti. Biarkan hatimu sembuh dari segala kesakitan. Biarkan penantian panjangmu memilih untuk berlabuh pada seseorang yang meneduhkan, seseorang yang akan menarikmu dari segala ruam dan lebam karena penantianmu seorang diri. Tak usah risau apalagi memendam perasaan gelisah. Bersabar dan yakinlah kau akan temui sosok yang kelak kan mengisi hari-hari, yang akan buatmu tak lagi sendiri, yang akan janjikan segala mimpi, yang akan berikan cintanya sepenuh hati. Tak perlu sibuk mencari apalagi sampai mengutuk diri sendiri. Biarkan waktu mengalir begini adanya. Sampai kau 'kan benar-benar temukan siapa yang sepatutnya menjadi pilihan terbaik untuk menghabiskan sisa hidupmu bersamanya.

Percayalah, kau 'kan segera menemukannya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den