Langsung ke konten utama

Sesekali, kita diizinkan untuk "terluka"


"Beberapa dari kita, kerap kali bertegur sapa dengan luka. Beberapa lainnya, memilih untuk lupa."

Aku ingin tanyakan, dari segala lebam dan ruam yang mendera, adakah kau merasa bahwa sesekali memang perlu untuk merasakan luka? Bukan. Maksudku bukan untuk menampilkan selemah-lemahnya dan betapa tidak berdayanya dirimu. Ada kalanya kau perlu anggap luka sebagai hiasan. Bahkan jika itu adalah kepahitan yang menjuntai, kau akan menilik sedikit harapan di dalamnya. 

Luka yang kau rasakan dan kau kumpulkan, tak ubahnya guru yang setia mengajarkan. Kau kan banyak diliputi perasaan ingin bertanya dan menanti jawaban-jawaban yang kau harap bukan bentuk kekecewaan:

Kenapa aku meluka?
Kalau lukaku kembali terbuka, dengan apa ku harus menutupnya?

Kau kan bertanya. Terus-menerus. Berulang kembali. Lagi dan lagi. Hingga kau lupakan hal yang begitu sederhana, bahwa luka lah yang mendewasakan kita.

Satu hari berlalu. Seminggu berjalan. Sebulan terlewati. Hingga bertahun-tahun, ada yang memupuk lukanya dengan perasaan bahagia, ada yang dibuatnya biasa biasa saja, ada yang menatapnya dengan kecewa, ada pula yang menjalaninya dengan perasaan sehancur-hancurnya. Tak apa. Sungguh tak mengapa, Aku mengerti, lukamu takkan begitu saja berubah menjadi derai tawa. Kau perlu waktu. Kau perlu mencari jawaban dari segala perasaan gelisah yang pelan-pelan mengikis ketenangan jiwa.

Luka apapun, luka hati sekalipun, kau tahu akan selalu ada waktu untuk mengakhirinya. Akan selalu ada kesempatan untuk membersihkannya. Kau selalu punya peluang untuk menepiskan percikan-percikan luka yang membuat ruang dalam hatimu. Rasa sakitnya akan hilang, meski akan meninggalkan bekas. Namun kau akan dipulihkan oleh waktu. 

Sesekali, kita diizinkan untuk "terluka". Kita diizinkan untuk menikmati luka yang dihadiahkan untuk kita. Kita tak akan dimautkan oleh luka. Percayalah, kita selalu punya cara untuk bertahan dan kembali menjalani realita. Kita mampu pulihkan diri hanya dengan memberinya jalan untuk kemudian menghilang sendiri. 

Kalau menangis membuatmu lupa, maka menangislah.
Kalau tertawa memulihkan dirimu perlahan, maka lakukanlah.
Kau lah yang memilih. Bagaimana kau harus tetap bertahan dari segala luka yang mungkin saja membuatmu nanar dan hilang kewarasan.

Jangan pernah putus harapan. Kau selalu punya kesempatan untuk memulihkan lukamu, di saat saat terbaik. Boleh jadi hari ini, esok, atau lusa.

Kau kan temukan bahwa luka yang kau terima hari ini adalah cara terbaikmu untuk merayakan kesedihan sekaligus kebahagiaan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den