Langsung ke konten utama

"Mengakhiri" Agustus


Terhitung sejak tahun lalu, ada setumpuk niat yang buatku terus menggerutu. Aku selalu tanyakan pada diri, inikah yang dicari selama ini? Apa ini cukup untuk buatmu bahagia? Aku ragu, bahwa yang kulakukan saat itu tidak sepenuhnya kulakukan dengan cinta. Aku bertanya kembali, lagi dan lagi. TIdak pernah kurasakan seragu itu akan diriku sendiri.

Puncaknya di akhir September tahun lalu. Gerimis selepas maghrib. Langit kelabu menggantung membungkus kota. Perasaanku gundah. Aku betul-betul gelisah di sepanjang perjalanan sepulang kerja dengan bus kota yang begitu padat. Lima belas menit hampir sampai di pemberhentianku, aku menengok tipis ke kiri jendela bus dan kutemukan toko buku utama di kota tempatku tinggal. Aku berdiri, memberi kode ke supir bahwa aku ingin turun di sini, dan menepi mendekati pintu. Iya, aku putuskan untuk berhenti di tempat itu dan mencari jawaban atas segala perasaan gelisah yang menderaku.

Aku sangat suka novel, tapi malam itu aku melewati setumpuk rak berisi novel begitu saja. Aku sama sekali tak berpaling. Dalam hati menyadari, bukan itu yang sedang aku cari cari. Tiba di penghujung ruang toko, aku seperti dititah untuk mendatangi buku-buku yang tersusun rapi di atas meja berukuran besar. Jangan tanya, seingatku aku membeli buku buku semacam itu 5 tahun lalu saat mempersiapkan diri menghadapi ujian tertulis selepas SMA. Aku pilih satu persatu dan yakinkan hati mana yang betul-betul ingin aku pelajari baik baik. Beberapa menit berlalu, kuputuskan untuk membeli satu di antaranya. Dalam hati berharap, semoga ini benar-benar mengobati dan memberi jawaban dari apa yang selama ini kucari.

Aku jatuh cinta dengan apa yang baru saja aku pilih dan kubeli. Sesampainya dirumah, kulapisi dengan sampul dan kububuhi nama serta tanggal di bagian depannya. Aku membolak-baliknya berulang kali. Buku baru dengan kertas ringan wanginya memang selalu menyenangkan, pikirku. Buku itu, benar-benar tak pernah tertinggal di setiap aktivitasku. Setiap pagi dan setiap sore selepas bekerja, aku selalu suka membuka dan mengisinya. Berbulan-bulan, aku lakukan berulang kali. Kalau aku ragu atau betul-betul tak tahu, kuhubungi beberapa kawan yang bisa membantuku menuntaskan soal-soal yang disajikan. Ah, indah sekali rasanya. Aku selalu meyakinkan hati bahwa yang kulakukan tak akan pernah sia-sia. Dengan segala kesibukan yang ada, aku tak mau memulai malam hanya dengan rasa lelah karena pekerjaan. Aku ingin ada hal lain yang bisa buatku tumbuh dan berkembang.

Singkat cerita,
dua bulan lalu, aku letakkan segenggam harapan di penghujung minggu. Setelah mempersiapkan ini dan itu, kuyakinkan diri bahwa sudah tepat untukku perlahan-lahan mengejar apa yang aku mimpikan sejak lama. Jujur saja, aku gugup dan panik. Itu ujian pertamaku setelah beberapa tahun tak lagi melaluinya. Kubisikkan diri sendiri bahwa aku mampu lalui. "Jangan khawatir, kamu sudah lakukan yang terbaik", batinku.

Ujian berlalu. Alih-alih ingin menenangkan diri untuk mengikhlaskan apapun hasilnya, aku justru semakin gugup. Bagaimana jika tidak berhasil? Pertanyaan itu jelas berulang kali berbisik padaku. Aku semakin gelisah dan merasa gagal saat apa yang aku bayangkan ternyata memang benar adanya. Aku belum beruntung. Bagaimana ini?

Tidak ada seorangpun yang mampu menenangkanku selain diriku sendiri. Di penghujung Agustus, aku memang belum dapatkan mimpi yang selama ini mengisi hariku. Aku memang belum beruntung. Tapi Mengakhiri Agustus ini aku justru semakin mengerti bahwa ini adalah bulan pembelajaran untukku. Bahwa ketika kamu menginginkan sesuatu dan kamu sudah usahakan semampumu, namun hasilnya tak seirama, tidak apa apa. Itu bukan sesuatu yang perlu kau sesalkan berlarut-larut. Itu bukan sesuatu yang kemudian akan menghapus mimpi-mimpimu. Kamu tetap diperbolehkan untuk bermimpi. Mungkin bukan hari ini buah dari kerja kerasmu akan kau nikmati, mungkin besok, atau lusa? Akan selalu ada kemungkinan terbaik untuk orang-orang yang baik.

Mengakhiri Agustus, aku lagi-lagi menilik kembali apa yang perlu aku tata dan benahi dari diri. Aku banyak bertanya dan perlahan mengerti mungkin aku diberikan waktu untuk memperbaiki diri lagi dan lagi. Tidak apa apa, aku akan siap pada waktunya. Berulang kali kuyakinkan diri bahwa segala usaha yang dulu pernah dilakukan sungguh tak akan membuatmu mati sia-sia. Kau akan tumbuh dan terlihat elok karena terus memperbaiki apa yang ada pada dirimu. Aku jatuh cinta berkali-kali pada pikiran dan perasaanku sendiri. Iya, aku sungguh bertumbuh dari ketidakberhasilanku beberapa hari yang lalu. 

Agustus telah berakhir, namun mimpi-mimpi yang terselip dalam relung hati takkan pernah berakhir dan mati begitu saja. Kau kan temukan aku dalam versi dan kondisi yang lebih baik. Seperti itulah aku meyakinkan diri. Suatu hari nanti, aku akan katakan sekali lagi, kamu akan selalu bertahan dengan mimpi-mimpi yang selama ini kau perjuangkan. Jangan pernah putus harapan, setelah matahari terbenam akan selalu ada bintang-bintang malam. 

Untuk kalian yang sampai hari ini masih berjuang, mari terus saling mendoakan.
Tetaplah berbahagia dan mencintai apa yang ada pada dirimu sendiri :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den