Langsung ke konten utama

Jenuh, berpeluh, tapi bukan untuk mengeluh...


Jujur saja, beberapa minggu terakhir aku merasa tidak pantas untuk mengatakan segalanya baik baik saja. Nampaknya memang terlihat normal dan berjalan seperti apa yang seharusnya terjadi, namun mustahil sekali rasanya untuk menyelaraskan antara perasaan dan pemikiran yang sejatinya memang saling terkoneksi. 

Aku kerap kali dilanda kebosanan. Perasaan jenuh pelan pelan datang bergelayutan. Sepi, sedih, marah, dan perasaan-perasaan tak karuan lainnya saling memeluk-membungkus mesra tubuh yang sedikit demi sedikit dikikis ketidakberdayaan. Bukan hanya sekali aku menanyakan kejenuhan macam apa yang akhir-akhir ini menggelitiki. Berkali-kali, namun tak pernah ada jawabnya. Lagi dan lagi.

Sudah hampir enam bulan hidup dalam balutan gelombang pandemi, tentu saja membuat semuanya semakin tidak baik-baik saja. Aku perlu melakukan penyesuaian untuk setiap kegiatan ini dan itu. Perasaan jenuh itu semakin menjadi jadi. Selalu datang tanpa permisi. Bahkan di satu waktu aku benar-benar merindukan matahari, sebab terlalu banyak berdiam diri, menepi, tanpa mau tahu apa yang sebetulnya menjadi kebutuhan dan keinginan diri.

Aku sungguh kewalahan. Tak mengerti apa mau diri hingga semuanya terasa begitu menekan. Kegelisahan dan kegundahan yang datang terasa begitu memekakkan. Sungguh tak pernah kusadari, bahwa perasaan jenuh yang dirasa begitu mengacaukan hati dan pikiran. Tak main-main, aku lah yang membuat diri sendiri merasa kosong dan tak lagi memiliki apa-apa untuk dibanggakan.

Aku pelan pelan membisikkan hati, menjadi tidak peduli seperti ini terhadap diri sendiri adalah bentuk kelalaian. Atau bahkan bisa dibilang kebodohan yang memerdekakan ketidakwarasan. Kuputuskan untuk tanamkan ini, tidak apa apa sesekali merasa jenuh hingga berpeluh. Tidak apa-apa. Sungguh tidak apa-apa. Tapi jangan sampai segalanya menjadi keruh dan yang dimampu hanya mengeluh. Aku tak mau sedikitpun begitu. Kesadaran dan perasaan ingin kembali bahagia sedikit demi sedikit menyesap. Aku perlahan mengerti, bahwa ada hal lain yang patut aku cintai lagi dan lagi. Kucari apapun yang bisa membuatku tenang dan senang kembali. Menulis. Menanam. dan menyaksikan seni dalam bentuk apapun. Aku kembali memberikan nafas dan angin segar untuk jiwa yang beberapa waktu belakangan terasa bergetar dan memudar.

Jenuh, berpeluh, namun tidak sama sekali kuberi kesempatan diri ini untuk mengeluh.

Dua minggu belakangan, tak lagi kurasakan jenuh apalagi sampai bercucuran peluh tak berkesudahan. Kutemukan jiwa ini kembali terisi, dengan tulisan-tulisan menenangkan yang ku sebut sebagai antologi. Kalau ku baca berulang kali, aku sungguh mampu meresapi dan mengerti pikiran dan perasaan apa yang sedang menggelayuti. Aku sungguh merasa terobati, sebab memberikan nafas dari hati pada setiap tulisan yang ku sampaikan di selembar kertas.

Aku kemudian mengerti. Ah, sungguh mengerti. Tidak apa-apa untuk sesekali merasa jenuh. Tidak apa-apa untuk membiarkan peluh berderai di setiap inci tubuh yang merapuh. Tidak apa-apa. Kau tahu, bahwa Perasaan dan pikiran selalu menyenangkan untuk diselaraskan. Dan perasaan jenuh bisa saja datang karena kau tak temukan keselarasan di antara keduanya. Maka saat peluh menderu, jangan beri kesempatan diri untuk mengeluh. Cukup temukan apa yang membuatmu kembali terenyuh dan merasa teduh. Cukup temukan apa yang membuatmu kembali terisi dan tak mau menepi sendiri. 

Kau perlu berikan waktu, agar diri kembali memiliki arah yang menentu. Tak perlu risau. Biarkan semua mengalir begitu. Sampai kau kan benar-benar temukan bahwa tak ada hal lain yang bisa obati perasaanmu selain dirimu dan keinginanmu sendiri. Dan sekali lagi, kau kan "sembuh" dalam balutan luka yang telah kau buat sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den