Langsung ke konten utama

Bak Arunika, kau kan bersinar dengan caramu sendiri...


Penghujung minggu mesti lah menjadi waktu yang paling ditunggu. Alih-alih mencari ruang untuk bahagia, aku justru diantar pada perasaan yang buatku penuh tanya. Aku mencari kembali arti dari kehadiranku. Dalam bayanganku, aku ingin tumbuh menjadi arunika. yang selalu dirindu ketika hadirnya menggenggam cakrawala, yang pendaran cahayanya selalu menenangkan. Buatku, arunika lebih dari sekadar indah, ia pun pandai menghapus gundah dengan cara datangkan kembali cinta pada ruang hati yang kosong tak terisi.

Di sepasang hari, riak kegelisahan dan garis-garis wajah yang sendu mengolok dan minta sedikit dikasihani. Aku temukan bayang-bayang candramawa dalam pantulan cermin yang mengabu. Hitam putih tak pancarkan apa apa selain perasaan yang kosong tak berarah. Dia seperti ingin berbisik padaku, hanya untuk katakan di bagian mana kau ingin selipkan kebahagiaanmu sendiri? Aku menatap tepat pada pantulan manik mataku sendiri. Mencari-cari sedikit harapan yang mungkin saja mampu membuatku berdiri kembali.

Aku menggeleng perlahan. Mengisyaratkan penolakan yang kubuat sendiri. Aku harus jalani hari-hariku lagi, bisikku pelan. Angkuh sekali hatiku ini sebab berani meletakkan sepenuhnya ketidakberdayaan pada diriku sendiri. Aku bernafas perlahan, memberikan ruang kembali pada hati dan pikiranku sendiri yang selama ini kubungkus dalam perasaan tak karuan. Entah kecewa, marah, sedih, terluka, atau perasaan yang mengantarku tumbuh seperti perempuan yang tak memiliki arti apa-apa. Aku sungguh kecewa dengan pemikiran dan perasaan tidak berdaya yang selama ini kubuat sendiri dan kunikmati dari waktu ke waktu.

Aku melihat orang lain bertumbuh jauh di depanku. Ada yang berlarian mengejar mimpinya, ada yang terengah-engah menuntaskan keinginan dan harapannya, ada yang dipuja sebab pandai menghadiahi kalimat-kalimat menenangkan, ada juga yang menerima kepercayaan lebih sebab mampu meletakkan cinta pada orang-orang yang hatinya sedang diliputi kebimbangan. Aku bertanya-tanya, kemudian apa yang bisa aku lakukan? Kenapa aku begini dan terlihat biasa-biasa saja? 

Aku berharap diriku untuk bertumbuh di setiap kesempatan. Dalam setiap dentingan waktu, aku ingin memberi apa yang bisa aku beri, aku ingin melakukan apa yang mungkin bisa aku lakukan. Meskipun kecil, sederhana, dan tak terlihat siapa-siapa, aku ingin menghadiahi orang lain dengan apa yang aku miliki. Aku tak ingin memukau siapa-siapa. Aku bukan juga ingin menjelaskan bahwa aku tumbuh dengan cara yang sama seperti mereka. Aku bertumbuh, dengan cara apapun yang kucintai.

Kau tahu arunika? Peristiwa semesta saat sisi teratas matahari muncul di atas horizon di timur. Aku selalu  membayangkan diriku untuk tumbuh seperti itu. Aku akan bersinar dengan pilihan dan caraku sendiri, meski harus tertatih-tatih mencari kebahagiaan untuk meramaikan ruang hati yang telah lama tak terisi. Aku sugguh tak ingin samakan diriku dengan siapapun. Sebab caraku menghadiahi dan mencintai diri sendiri jelas bukan sesuatu yang aku dapatkan dari orang lain. Aku adalah aku, dan diriku adalah untukku.


Untuk diriku,

bak arunika, kau sungguh akan bersinar dengan caramu sendiri. Meski datang dan berpendar saat tak seorangpun mau melihat, kau tetap tak kan terlupakan. Sekali lagi aku ingin katakan, layaknya arunika, meski sinarmu datang saat orang asyik terlelap, tapi kedatanganmu sungguh dinanti dan cahayamu memberi kehidupan bagi siapapun yang mungkin tak pernah kau temui sebelumnya. Tetaplah bahagia dan mencintai dirimu apa adanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den