Langsung ke konten utama

Jeda di antara kita adalah ruang berpikir, untuk tetap pergi atau kembali lagi...


Malam tadi, sekali lagi aku dibuat gelisah. Bayang-bayang itu datang dan kembali meremang. Menghentak-hentakkan perasaan resah yang memabukkan.

Akupun kembali bertanya,

siapa yang sebetulnya ditunggu-tunggu? siapa yang semestinya berhak dinanti-nanti?

Sudah beberapa hari terakhir, aku disibukkan dengan berbagai kegiatan yang sesekali menyesakkan. Meski terlalu sibuk menuntaskan ini dan itu, entah mengapa justru rasa sepi yang pelan pelan membelenggu. Tidak tahu pasti. Namun cukup membuatku terus menggerutu.

Kesibukan yang mendera seharusnya layak menjadi candu, untuk menghilangkan sepi dan rasa rindu karena kesendirian. Sayangnya tak begitu. Aku justru dibungkus berbagai perasaan aneh tak berkesudahan. Perasaan yang memekakan, yang jika dinikmati terus-menerus, kau kan kelelahan dibuatnya. Kau takkan lagi rasakan sesuatu yang bersemi. Kau kan katupkan dirimu hingga tak ada seorangpun yang datang untuk sekadar singgah atau ingin menjadi penghuni yang lama kau nanti-nantikan.

Tak ubahnya manusia biasa, rasa sepi dan kesendirian tentu hadir karena perasaan ditinggalkan. Yang dulunya berdampingan, mungkin saja pelan-pelan tak lagi beriringan. Yang dulunya saling bergurau, ada kalanya terbuai pergi lantas tak pernah kembali lagi. Yang dulunya fasih menebarkan rayu, kemudian menyudahi tanpa sepatah hanya meninggalkan sendu. 

Bukan tugas kita untuk menerka-nerka, namun memang itulah yang sejak lama ada dan tumbuh terbiasa,

apa yang dia rasakan?

apa yang terjadi di antara kami?

kenapa dia tak pernah kembali?

Ada yang bilang bahkan kalian pun belum memulainya. Tapi sekali lagi, kenapa memutuskan untuk tak lagi beriringan. Ah, keliru. Bukan memilih untuk tak lagi beriringan. Sebab yang kurasa hanya sebatas jeda. Tidak perlu dipikirkan terlalu keras. Tidak perlu dirasakan dengan sesak yang dilebih-lebihkan. Itu hanya akan membuat raga menggeliat dalam ketakutan dan ketidakpastian.

Aku ingin sampaikan, kita hanya sedang berada di sebuah ruang. Tidak, bukan untuk duduk bersama apalagi kembali memulai percakapan seperti sedia kala. Ada hal lain, yang penyampaiannya lebih merdu dari hati ke hati.

Semoga yang ingin disampaikan, lekas tersampaikan.

Semoga yang dirasa saling meluka, lekas terpulihkan.


dan sekali lagi,

jeda di antara kita adalah ruang untuk berpikir, untuk tetap pergi atau kembali lagi.

maka, tetaplah begini, sampai kita punya dan temukan jawabnya masing-masing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den