Langsung ke konten utama

Berlian, akan tetap menjadi berlian, di manapun ia berada...


Enam tahun lalu, saya memiliki kesempatan untuk memperjuangkan sesuatu yang sejak lama saya impikan. Terbungkus rapi menjadi harapan dan selalu terlantun dalam doa di selepas ibadah yang saya lakukan. Mimpi itu, bukan hanya diri ini yang sepenuhnya meletakkan harapannya di sana, tapi kedua orang tua dan orang lain yang turut memberikan dukungan.

Saat itu, keinginan terbesar saya adalah menjadi Mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Negeri favorit di Indonesia. Saya mempersiapkan diri sebisa mungkin dengan mengikuti bimbingan belajar, mereview materi yang dipelajari di sekolah saat itu, dan mendoakan yang terbaik mengenai hasilnya akan seperti apa nanti. Saya pasrahkan segala yang saya usahakan dan doakan setiap waktu kepada-Nya. Waktu itu saya percaya Tuhan selalu punya cara terbaik untuk membahagiakan hamba-Nya. Waktu itu juga saya yakin bahwa yang telah saya lakukan adalah yang sebaik-baiknya saya lakukan dengan menyertakan hati.

Namun ternyata takdir Tuhan menggariskan hal lain.

Saya tetap diberikan-Nya kesempatan untuk menjadi Mahasiswi. Sayangnya, bukan di Perguruan Tinggi yang sejak lama saya impikan dan begitu dambakan. 

Kalau ditanya bagaimana rasanya? Jelas saya merasa kecewa, sedih, dan begitu terpuruk. Saya amati teman-teman lain yang mendapatkan Perguruan Tinggi dambaan mereka, betapa senang dan bangganya mereka. Dengan sangat percaya diri menyampaikan pencapaian mereka kepada siapapun yang ditemuinya. 

"Aku diterima di sini. Bersyukur banget."

"Aku dapet kampus X. Seneng banget alhamdulillah."

"Yeay, aku keterima di Kampus Y lho. Kamu gimana?"

Kira-kira itulah beberapa kalimat yang enam tahun lalu rasanya begitu menyesakkan. Jelas sekali menyesakkan, Saya merasa gagal dan tidak berarti. Segalanya yang saya lakukan dan perjuangkan seperti mati sia-sia. Saya malu untuk bertemu teman-teman yang lain. Saya tidak ingin bertemu mereka. Saya tidak ingin mereka bertanya "Kamu diterima di mana?". Saya merasa sangat tidak berguna, terlebih lagi ketika SMA saya mendapatkan penghargaan Juara Umum Program IPA dan Juara Umum Angkatan. Terbayang jelas betapa rasa malu itu sangat menggetarkan hati dan perasaan saya.

Pelan-pelan, saya mulai mengerti. Saya coba tata kembali hati ini. Saya mengikuti beberapa ujian mandiri. Saya yakinkan diri bahwa ini bukan akhir dari segalanya. Namun sekali lagi, saya kembali kurang beruntung. Sekali lagi mengalami kegagalan.

Saya memang mendapatkan undangan dari Politeknik Negeri Jakarta saat itu dan lolos ujian di Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah. Namun keduanya ditentang oleh kedua orangtua. Katanya dua kampus itu kurang berkenan untuk mereka. Saya pasrah, saya terima segalanya yang menjadi keputusan orang tua saya. Keinginan untuk bisa menempuh pendidikan di Kampus Negeri perlahan-lahan sirna. Saya mencoba mencerna segalanya perlahan dan sebisa mungkin menerima kenyataan bahwa semuanya memang harus berakhir seperti itu. Saya menempuh pendidikan di Kampus Swasta, namun tentu saja dengan jurusan yang begitu saya inginkan sejak lama.

Saya memantapkan hati dan pikiran, bahwa tidak apa-apa saya berbeda dari teman-teman yang lain, bahwa saya bisa tetap belajar di manapun saya berada, bahwa saya tetap diberikan kesempatan untuk menimba ilmu. Tidak apa apa, semuanya akan tetap baik baik saja.

Tahun pertama menempuh pendidikan di Kampus Swasta, adalah masa-masa tersulit untuk saya. Perasaan malu, minder, dan tidak ingin bertemu siapapun adalah perasaan-perasaan yang terus menghantui. Saya merasa sangat insecure. Tidak berguna dan tidak memiliki arti apa apa untuk orang di sekitar saya. Saya tidak pernah menghadiri acara SMA yang mengundang alumni dan almamaternya. Saya merasa itu bukanlah sesuatu yang bisa saya banggakan. Saya merasa sangat kecil dan meaningless. 

Hari-hari berikutnya menjadi lebih sulit ditambah saya merasa banyak sekali mata kuliah yang tentu saja menguras waktu, hati, juga pikiran. Saya perlahan-lahan menyesuaikan dan meyakinkan diri, jika saya terus begini maka saya akan terus tertinggal. Saya mulai meyakinkan diri bahwa rasa terpuruk yang dialami jika saya nikmati terus-menerus akan mengubur saya perlahan. Saya akan lebih tidak berarti lagi di mata orang lain.

Saya memantapkan hati.

Saya mengingatkan diri berulang kali.

Saya Berkata, "Jangan seperti ini. Kamu akan mati perlahan"

dan satu-satunya kalimat yang saya ingat saat itu sampai detik ini adalah perkataan salah satu Tenaga Pendidik ketika saya mengikuti Try Out SBMPTN di 2014 lalu,

katanya "Tidak apa apa kita kuliah di mana saja. Sebab berlian, ada di manapun, akan tetap jadi berlian. Ada di air, di tanah, di lumpur sekalipun. Kalau kita cerdas, maka kita akan tetap menjadi manusia yang cerdas di manapun kita berada."

Kalimat itu yang saya tanamkan berulang kali. Bahwa tidak apa-apa jalan takdir mengantarkan saya di titik ini. Saya tidak perlu kecewa, saya harus yakin bahwa segala sesuatu yang saya lakukan akan terbayarkan.

Dan benar saja, saya bangkit perlahan. di tahun ketiga kuliah, saya berkesempatan menjadi Wakil Ketua Organisasi dan aktif di beberapa aktivitas sosial di kampus. Saya melibatkan diri di beberapa project yang mengharuskan saya bertemu orang lain dengan berbagai karakter. Di tahun keempat, selain disibukkan dengan skripsi dan berbagai penelitian, saya juga memiliki kesempatan menjadi Ketua Organisasi. Dan sekali lagi, saya memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengenal orang lain dari berbagai latar belakang. Saya senang, tentu saja sangat senang dengan pengalaman-pengalaman yang begitu berharga.

Selain aktif di Organisasi dan berbagai kegiatan sosial, aktivitas akademik saya juga terbilang tidak mengecewakan sama sekali. IPK saya di setiap semester tidak pernah kurang dari 3,8. Padahal saat itu, ada salah satu Tenaga Pendidik yang meyakinkan saya bahwa ketika memasuki Organisasi Mahasiswa, maka saya harus korbankan akademik saya. Saya bersyukur, sebab saya patahkan kalimat itu. Saya meyakinkan setiap orang bahwa segala sesuatunya bisa dilakukan dengan begitu seimbang jika kita memang memiliki niat yang besar untuk melakukan segalanya dengan sungguh-sungguh.

Saya banyak belajar mengenai time management, mengenai menjadi diri saya sendiri meskipun orang lain terkadang tidak berkenan dengan tindakan yang saya lakukan. Tidak apa-apa, saya menanamkan dalam hati bahwa itulah hal-hal yang membumbui perjalanan saya untuk terus berkembang menjadi manusia dewasa awal. Saya selalu yakin bahwa apa yang saya jalani dan saya lalui adalah pembelajaran yang berharga.

Sekilas, mungkin orang lain akan menilai saya sebagai kutu buku. Saya tidak begitu pandai bergaul dengan mahasiswa "tongkrongan". Namun stigma itu perlahan saya patahkan. Saya mencoba membaur dengan mereka namun bukan berarti mengikuti gaya dan kebiasaan mereka. Ketika melakukan diskusi bersama, mereka begitu pengertian dengan saya yang tidak begitu menyukai asap rokok. Saya belajar hal lain dari mereka yang terkadang dipandang sebelah mata, toleransi. Beberapa kali juga saya mengajak mereka untuk datang ke Panti Sosial dan mengadakan Bakti Sosial. Syukur, mereka begitu menerima dengan tangan terbuka. 

Sejenak saya merasa bahwa apa yang saya lalui ternyata menuntun saya untuk terus berkembang. Saya diberikan banyak pelajaran hidup yang mungkin ketika berada di tempat lain tidak akan pernah saya dapatkan hal yang sama. Saya mengerti bahwa jalan ini adalah sesuatu yang patut saya syukuri sampai detik ini. Terlebih, ketika lulus, saya memproleh Predikat Lulusan Terbaik Fakultas Psikologi. Perasaan bangga itu datang berkali lipat. Sungguh saya tidak bisa menjelaskannya dengan kalimat apapun. 


dari petikan cerita di atas saya belajar,

bahwa ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan keinginan dan harapan, bukan berarti harus kita simpulkan bahwa itu adalah sebuah kegagalan. Kita jelas tidak pernah tahu, pintu dan jalan apa yang akan terbuka di depan. Kita tidak pernah tahu pasti, setelah melalui perjalanan yang begitu panjang, ke tempat manakah kemudian kita akan diantarkan.

Tidak sekalipun kita dilarang untuk bermimpi. Namun sekali lagi, untuk tetap bahagia kita perlu perpaduan logika dan hati yang beriringan. Tetap yakin pada diri sendiri, bahwa selepas perasaan kecewa, sedih, marah karena kegagalan yang dialami, tidak sekalipun kita berhak menggertak apa yang sudah ditakdirkan untuk kita. Mungkin memang seperti itu jalannya. Kita tidak akan pernah benar-benar tahu seperti apa yang akan kita alami, sebelum betul-betul ditempatkan di sana.

Tetaplah berbahagia dan menikmati apa yang memang seharusnya dijalani. Cukupkan dengan perasaan syukur yang tiada henti. Dengan begitu, maka kita akan tetap mengerti bahwa hidup ini begitu singkat dan sia-sia rasanya jika hanya menggerutu dengan keadaan yang menghampiri.

Semoga kita tetap menjadi manusia yang pandai bersyukur.


Terima kasih sudah membaca.

Selamat malam dan jangan lupa untuk selalu bahagia:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den