Langsung ke konten utama

ETIKA DALAM PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS

Setiap profesi yang ada memiliki suatu etika yang diharapkan untuk diperhatikan dan dilaksanakan oleh pelaku-pelaku profesi tersebut. Etika digunakan dalam rangka melindungi baik pelaku profesi dan pengguna jasa profesi. Salah satu etika yang ada di Psikologi adalah etika dalam proses tes psikologi, mulai dari administrasi, skoring, interpretasi dan menyampaikan. Praktek tes psikologi yang tepat diatur oleh prinsip-prinsip etika.

A. Kualifikasi untuk Test Users dalam Tes Psikologi
Test users merupakan seseorang yang selama masa peng-administrasian tes dan mereka membuat keputusan penting atau keputusan yang berkkonsekuensi, seperti menentukan giftedness dan mental disability.

Ada dua faktor utama yang harus dimiliki oleh test users, yaitu :
Pengetahuan dan keterampilan mereka dalam :

1.      Prinsip psikometri dan statistika.
a.      Penyeleksian tes dalam hal kualitas teknis mereka, tujuan yang akan mereka gunakan, dan isu-isu yang terlibat dengan budaya, ras, etnik, gender, usia, bahasa, dan ketidakmampuan yang berhubungan dengan karakteristik dari test takers.
b. Prosedur dalam mengadministrasikan dan menskoring tes, begitu juga dalam menginteroretasi, melaporkan, dan menjaga kerahasian dari hasil tes mereka (test takers).
c.    Semua hal yang berhubungan dengan konteks tes psikologi itu dilakukan, apakah itu dalam hal karyawan, pendidikan, karir, konseling penjurusan, health care, dll serta tujuan dari tes psikologi dilakukan.
2.  Hal-hal yang test users dapatkan dari pengalaman-pengalaman yang tepat dalam semua aspek pengetahuan dan keterampilan yang menunjang untuk penggunaan tes secara spesifik. (Urbina, 2014)

B. Hak dan Kewajiban dari Test Takers

HAK

1.  Hak untuk menerima penjelasan terlebih dahulu tentang tujuan diadakannya tes psikologi, tesnya digunakan untuk apa, apakah hasil tesnya akan dilaporkan kepada test takersatau kepada yang lain, hasil tesnya akan digunakan untuk apa. 
2.   Hak untuk mendapatkan hasil tes yang tetap dirahasiakan sesuai dengan hukum yang ada. 
3.  Hak untuk mengetahui jika tes psikologi merupakan suatu pilihan dan mempelajari konsekuensi dari mengambil atau tidak mengambil pengetesan, test takers secara penuh mennyelesaikan pengetesan, atau membatalkan skoring. 
4.  Hak untuk menerima penjelasan dari hasil test didalam waktu yang tepat dan menggunakan istilah yang mudah dimengerti.

KEWAJIBAN 
1. Kewajiban untuk membaca atau mendengarkan hak dan kewajiban yang harus mereka terima dan lakukan.
2. Kewajiban untuk bertanya terlebih dahulu sebelum tes tentang mengapa tes diberikan, bagaimana   tes akan diberikan, apa yang akan mereka (test takers) lakukan, dan apa yang akan dilakukan pada hasil tesnya.

KODE ETIK

Dengan adanya etika ini muncul yang namanya kode etik (code of conduct) yaitu tata cara yang seharusnya diikuti oleh para pelaku profesi dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian kode etik adalah norma dan asas yang diterima oleh kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku.

Biggs dan Blocher (1986) mengatakan ada tiga fungsi kode etik yaitu : 
1.      Melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah.
2.      Mencegah terjadinya pertentangan internal dalam suatu profesi.
3.      Melindungi para praktisi dari kesalahan praktik suatu profesi.

Di Indonesia, Kode Etik Psikologi dikeluarkan oleh HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia). Kode Etik Psikologi merupakan seperangkat nilai-nilai untuk ditaati dan dijalankan dengan sebaik-baiknya dalam melaksanakan kegiatan sebagai psikolog dan ilmuwan psikologi di Indonesia (Kode Etik Psikologi Indonesia, 2010). Tetapi ada beberapa orang dalam kelompok profesi (dalam hal ini adalah profesi psikolog) yang berbuat penyelewengan/penyimpangan terhadap peraturan yang telah ditetapkan.

10 Alasan Untuk Tidak Menggunakan Tes Psikologi
Ada banyak alasan dan dalam banyak situasi penggunaan tes psikologi tidak disarankan, Berikut ini adalah 10 alasan kenapa tes psikologi tidak disarankan untuk digunakan dalam keadaan-keadaan tertentu. (Urbina, 2014)
  1. Tujuan dari tes psikologi tidak diketahui atau tidak jelas untuk test users.
  2. Test users tidak terlalu familiar dengan semua hal yang terkait dengan tes psikologi yang akan dilakukan.
  3. Test users tidak mengetahui hasil tes akan bagaimana atau bagaimana hasil tes tersebut akan digunakan, atau tidak dapat menjamin penggunaan dari hasil tes tersebut.
  4. Informasi tentang segala sesuatu yang dicari dari tes telah ada, atau dapat dikumpulkan dengan lebih efisien melalui sumber-sumber lain.
  5. Test takers tidak bersedia dan tidak bisa berkerja sama dengan pengetesan yang akan dilakukan
  6. Test takers kemungkinan besar dapat melakukan sesuatu yang membahayakan selama proses pengetesan.
  7. Keadaan lingkungan dan kondisi untuk melakukan pengetesan tidak memungkinkan.
  8. Sususan test atau hal-hal yang terkait dengan test takers seperti usia, jenis kelamin, latar belakang budaya/bahasa, status disability, dan lain-lain tidak tepat dan dapat mengakibatkan tes data invalid. 
  9. Norma-norma dalam pengetesan sudah ketinggalan jaman (sudah terlalu lama dan tidak diperbarui), tidak cukup, dan tidak dapat diterapkan untuk test takers.
  10. Reabilitas dan validitas dari alat tes tidak memenuhi syarat

DAFTAR PUSTAKA


Biggs, D.A & Bloacher, D.H. (1986). The Cognitive Approach to Ethical Counseling.
            NewYork: State University of New York at Albany.

Himpunan  Psikologi Indonesia.  (2010). Kode Etik Psikologi Indonesia & Pedoman Pelaksanaan
            Kode Etik Psikologi Indonesia. Jakarta: Himpsi.


                        (Diunduh 16 Mei 2016 pukul 12.10 pm)

                        (Diunduh Senin, 16 Mei 2016 pukul 12.15 pm)


Kaplan, R. M & Sacuzzo D.P. (2012).  Psychological Testing: Principles : Applications, and
            Issues 8THEdition. Canada : Cengage Learning.

Urbina,  Susana  &  Anastasi,  Anne.  (2006).   Psychological  Testing  7th    Edition.  Jakarta:        PT.INDEX.

Urbina, Susana. (2014). Essentials of Psychological Testing 2nd Edition. New Jersey : Wiley




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den