Langsung ke konten utama

Catatan Hati Mahasiswa Psikologi

Psikologi…..
Banyak sekali mahasiswa-mahasiswa lain yang meminta dibaca auranya ketika saya bertemu dengan mereka. Dalam hati saya bingung dan terkadang tertawa dalam hati bahwa Psikologi bukanlah ilmu seperti yang mereka pikirkan selama ini. Kerap kali saya berpikir bahwa mereka menganggap kami, mahasiswa Psikologi sebagai seorang paranormal.

Beberapa mengatakan bahwa tanggung jawab seorang psikolog itu nantinya akan sangat besar, karena yang kami obati adalah jiwa seorang manusia. Ketika ada kesalahan yang tidak disengaja dibuat, maka taruhannya adalah nasib seorang manusia. Menjadi seorang psikolog berarti harus menyerahkan seluruh jiwa dan raga kita terhadap profesi tersebut, karena seorang psikolog melakukan tugas-tugas yang tak seharusnya dilakukan oleh manusia pada umumnya. Kami mengukur, melakukan penegakkan, apakah seseorang sakit/tidak, normal/abnormal, cemas/tidak cemas? Dari pengukuran tersebut, kami melakukan diagnose yang artinya memutuskan nasib seseorang.

Bukan pekerjaan yang mudah sudah tentu. Karena itu, beberapa orang beranggapan bahwa psikolog adalah manusia setengah dewa. Melakukan penentuan terhadap nasib seseorang. Padahal segala urusan nasib dan berkenaan dengan manusia itu sendiri adalah hak dari penciptanya. Karena profesi yang seberat itulah, sikap hati-hati dan peduli terhadap orang lain sangat perlu dimiliki oleh tiap-tiap mahasiswa psikologi. Bayangkan jika mahasiswa-mahasiswa psikologi adalah individu-individu yang careless, sudah tentu nantinya akan menjadi seorang psikolog tanpa kompetensi apapun.

Ingin menjadi seorang psikolog tidak tepat jika alasannya untuk  mencari uang. Itu mungkin alasan yang kesekian. Tapi coba pikirkan, objek dari ilmu psikologi adalah manusia. Jika yang diperbaiki adalah benda namun benda tersebut tidak bisa kembali ke kondisi semula, maka kita bisa saja membuangnya atau melakukan sesuai kehendak kita. Tetapi manusia tidak bisa kita perlakukan dengan hal serupa. Seberat itulah tugas seorang psikolog nantinya. Oleh karena itu, sepenuh hatilah ketika menekuni salah satu bidang ilmu ini! Karena yang menjadi objek ilmu ini adalah manusia, bukan barang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den