Langsung ke konten utama

Resensi Novel "Yogyakarta"


 

Meresensi novel yang berjudul Yogyakarta

 

1.    Pendahuluan

F Judul                   : Yogyakarta
F Penulis                 : Damien Dematra
F Desain sampul     : Hendy Irawan
F Perwajahan isi    : Ayu Lestari
F Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
F Tahun terbit       : 2010
F Cetakan               : Pertama, Juni 2010
F Tebal buku          : 1,7 cm, 262 halaman

 
2.  Isi

Novel ini menceritakan tentang kisah enam anak manusia di rumah kos di lingkungan keratin milik Ananda karmila, seorang muslim yang masih keturunan Mangkubumi. Anaknya bernama Yudhistira Mangkubumi, seorang laki-laki yang selalu bersikap dingin kepada semua wanita akibat luka batin yang dideritanya saat menetap di New York ketika masih bercinta dengan Antonia, gadis yang meninggal karena dibunuh ibu panti asuhannya.

    Seorang anak Kiai madura bernama Tarjo Adikusuma adalah salah satu pemuda yang menghuni kos tersebut. Di sinilah ia mengalami pencarian jalan hidup. Ketika semua orang membebaninya dengan seribu pertanyaan, yang ia lakukan hanyalah mengikuti apa yang menjadi tujuan hidupnya.

    Kesedihan di kos milik Ananda Karmila ini tercipta ketika Gerson Geraldi dan Yahya Tanadi membawa dan menguraikan masalah kehidupan mereka di kos tersebut. Gerson, seorang muslim yang sampai saat ini hatinya masih tersayat luka karena kepergian ayahnya yang terlalu cepat menghadap Illahi akibat konflik Ambon. Begitu juga dengan Yahya, seorang China beragama Buddha keturunan Pontianak ini anak adalah seorang kutu buku yang ternyata masih menyimpan tragedi cinta yang misterius bersama kekasih lamanya, Monalisa, yang ternyata bukan wanita baik-baik.

    Tapi seorang pemuda datang dari Medan dengan terlalu percaya diri menghibur seluruh penghuni kos itu dengan suara emasnya, ialah Karta Parinduri. Sikap percaya dirinya yang melebihi batas normal telah membuatnya sombong.  Tarjo, Gerson, Yahya, dan Karta adalah pemuda yang merantau untuk meneruskan studinya di Yogyakarta.

    Keadaan di rumah kos itu menjadi ramai saat Ananda Karmila memutuskan Olivia Purnakasih, seorang mahasiswa Sosiologi yang cantik dan beragama katholik untuk tinggal di kos miliknya. Olivia adalah perempuan pertama yang menghuni kos itu, hal ini karena Ananda Karmila ingin  sekali mencarikan wanita untuk dijadikan kekasih Yudhistira. Ternyata diam-diam Olivia juga mengalami tragedy cinta yang menyedihkan. Dia akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan laki-laki keturunan bangsawan yang menetap di Jakarta.

    Disinilah persaingan antara Yudhistira, Gerson, Karta, Yahya, dan Tarjo terjadi. Mereka diam-diam bersaing untuk menarik perhatian Olivia. Tapi persaingan itu telah banyak menguak kembali masalah yang dulu sempat terjadi dan mungkin sampai saat ini masih menorah luka yang abadi.

    Pada akhirnya, terbuktilah bahwa cinta yang suci hanya ada pada Yudhistira. Olivia memilih untuk mencintai laki-laki muslim keturunan Mangkubumi itu walau sesungguhnya perbedaan agama melekat diantara keduanya.

    Begitu juga dengan yahya, pemuda itu bersatu lagi dengan kekasih hatinya, Monalisa, setelah sekian lama menanti sebuah kepastian dengan hati yang terluka. Karta kini menghapus sifat sombongnya demi menerima kasih saying dari teman-temannya dan ibu kosnya. Sementara dengan Gerson dan Tarjo, mereka kini mulai menelan masalah-masalah mereka yang penuh dengan kepahitan. Saat ini yang mereka lakukan adalah menerima dan mencoba menjalani kenyataan sepahit apapun itu. Kos milik Ananda Karmila telah banyak menguraikan keindahan dan membawa sejuta perubahan bagi 5 pemuda dan 1 pemudi itu.

* Latar belakang *

        Buku ini terciptakan karena penulis mempunyai hobby menulis. Di samping itu juga penulis membulatkan tekad untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota yang penuh dengan karya dan sebagai kota film, karena novel ini akan difilmkan nantinya.

    *  Tujuan *

        Penulis ingin menjadikan Yogyakarta sebagai kota yang penuh dengan karya. Selain itu juga ingin menciptakan sebuah karya dimana perbedaan menjadi bagian dalam ceritanya.

   * Gaya bahasa *

        Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini sanagatlah baik dan bagus. Banyak kata-kata dengan makna konotasi ditempatkan dalam ceritanya, sehingga akan membedakan kualitas bahasa antara novel ini dengan novel lainnya.
 

3. Penutup

        Kelebihan :
 
        Novel ini sangatlah bagus, baik dari segi cerita yang unik maupun gaya bahasa yang digunakan. Novel ini memberi banyak pelajaran bagi pembacanya bahwa perbedaan etnis, budaya, dan agama bukanlah penghalang untuk menjalin sebuah persahabatan. Novel ini juga memberi kita penjelasan apa arti dari sebuah perbedaan.

 

        Kekurangan :

        Novel berjudul Yogyakarta ini hanya akan tepat bila dibaca oleh kalangan remaja. Juga banyak kata-kata yang tidak baik untuk pembaca yang masih berusia dini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den