Langsung ke konten utama

Potret Psikolog di Indonesia dan Permasalahan Sosial yang Ada


Halo sobat blogger..............

Jumpa lagi dengan saya, Fitria, tentunya dengan tema tulisan yang berbeda, namun tidak kalah menarik dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya.

Selamat membaca Sobat BloggerJJJJJ






 

Sobat blogger, apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata “Psikolog”? Apakah yang sedang anda bayangkan hanyalah orang-orang hebat yang selalu menjadi bagian penting ketika ada permasalahan sosial, seperti: pelecehan seksual terhadap anak, korban pelanggaran HAM, dan kasus bullying? Jika iya, mungkin saja anda belum memahami sepenuhnya mengenai apa sebenarnya fungsi seorang psikolog di dalam kehidupan masyarakat. Permasalahan sosial yang membutuhkan penanganan seorang psikolog sebenarnya bukan hanya seperti contoh-contoh di atas. Melainkan banyak sekali hal-hal kecil yang tidak kita sadari atau bahkan kita lupakan, yang juga membutuhkan kinerja seorang psikolog.

Pernahkah anda mengalami sebuah kemacetan yang terjadi disebuah jalan yang sempit dan hanya bisa dilalui satu buah mobil? Biasanya hal yang terjadi adalah ada mobil yang berpapasan atau ada motor yang parkir di bahu jalan sehingga mengurangi ruas jalan untuk dilalui kendaraan lainnya. Yang akan terjadi selanjutnya adalah kendaraan yang satu dengan kendaraan yang lainnya akan saling membunyikan klakson. Sulit untuk mengalah satu sama lain. karena adanya konsep “mengalah” yang salah pada orang Indonesia. Bagi mereka mengalah berarti kekalahan. Sehingga suasana jalan yang sempit itu akan semakin kacau dan membuat para pengguna jalan stres. Bayangkan jika seorang karyawan kantor sedang terjebak macet seperti itu! Akan seperti apa kondisinya ketika sampai di kantor?

Sadarkah anda bahwa contoh di atas adalah hal kecil yang juga membutuhkan penanganan seorang psikolog. Mengapa harus psikolog, padahal kemacetan tadi bukankah tugas seorang Polantas? Tidak mungkin semua Polantas mengatur lalu lintas di jalan-jalan yang sempit diseluruh Indonesia. Itu tentu bukan solusi utama yang bisa memecahkan kasus seperti di atas. Lalu apa tugas seorang psikolog? Tugas seorang psikolog bukan hanya menyelasaikan kasus-kasus sosial yang berhubungan dengan tindakan asusila atau semacamnya, akan tetapi selain penanganan dari seorang perencana wilayah dan kota, kinerja seorang psikolog juga dibutuhkan untuk membantu masyarakat dalam mengatur tata letak yang baik dan benar. Sehingga segala sesuatunya bisa ditempatkan dengan sesuai. Berapa meterkah jalur khusus mobil? Dan berapa meterkah jalur khusus motor? Dengan begitu, tidak akan banyak tekanan dan faktor yang harus diperhatikan oleh masyarakat Indonesia, yang salah satunya adalah tekanan akibat kemacetan. Kasus di atas seharusnya menyadarkan kita betapa pentingnya seorang psikolog di dalam kehidupan bermasyarakat.

Namun sosok psikolog-psikolog di Indonesia nampaknya tidak menjadikan kasus tadi sebagai sebuah kasus yang memerlukan penanganan dengan ilmu psikologi. Yang saya perhatikan selama ini kasus-kasus yang memerlukan penyelasaian dengan ilmu psikologi hanyalah kasus pelecehan seksual pada anak, kasus penculikan, bullying, ini dan itu. Hal kecil yang menjadi problema kehidupan sehari-hari seperti tadi, seharusnya mendapat penanganan yang serius dari seorang psikolog.

Sebenarnya kondisi ketika para psikolog Indonesia tidak menyadari hal-hal kecil yang kemudian menjadi sebuah kasus yang membutuhkan penanganan, terjadi karena Indonesia tidak mempunyai aliran psikologi sendiri. Karena selama ini yang mereka pelajari adalah ilmu psikologi beraliran Barat. Sehingga mereka memiliki pandangan yang berbeda antara apa yang mereka pelajari dan apa yang menjadi realita kehidupan sosial di Indonesia. Para psikolog tadi seharusnya belajar betul bagaimana pola hidup orang-orang Indonesia. Karena jelas sekali, kondisi sosial Indonesia dengan kondisi sosial negara-negara Barat jauh berbeda. Setiap suku di Indonesia mempunyai pendekatan yang berbeda-beda. Dan inilah yang akan membentuk karakter kita sebagai Bangsa Indonesia.

Jika kita berbicara dengan dasar Pancasila, maka kompetensi dasar masyarakat Indonesia adalah vertikal dan horizontal, yang artinya: vertikal-memiliki hubungan dengan Tuhan dan horizontal-memiliki hubungan yang erat antar sesama. Kedua hal ini yang tercantum di dalam Pancasila sila ke-1 dan ke-2. Maka sebenarnya Indonesia memiliki karakter yang berbeda dengan negara-negara Barat. Kehidupan yang erat antar sesama (misal: gotong-royong) adalah ciri yang paling khas dari bangsa kita. Lalu jika para psikolog Indonesia mempelajari ilmu psikologi beraliran Barat, apakah sama kondisi sosial di Indonesia dan di negara Barat? Apakah sama permasalahan masyarakat Indonesia dengan masyarakat di negara Barat?

Pada sila ke-3 dan ke-4 Pancasila menekankan bahwa manusia itu tidak bersifat individualis. Masyarakat Indonesia terkenal akan gotong-royongnya. Apakah sama antara kondisi masyarakat di Indonesia yang tidak mengajarkan individualisme dengan kondisi di negara Barat yang mungkin saja masyarakatnya masih bersifat individualisme? Lagi-lagi timbul sebuah pertanyaan yang berdasar atas perbedaan Indonesia dengan negara-negara Barat.

Pada sila ke-5 ditegaskan bahwa Pancasila tidak hanya membicarakan masalah keadilan ekonomi. Tetapi membicarakan cita-cita bangsa Indonesia yang hanya merupakan masalah sosial bukan kesejahteraan. Orang-orang miskin di Indonesia tidak akan bisa dihilangkan, tetapi seorang psikolog haruslah berpikir bagaimana si miskin ini tidak merasa miskin? Jika para psikolog Indonesia terus berguru pada Psikolog-psikolog dari negara-negara Barat, lalu bagaimana mereka akan menyelesaikan permasalahan sosial di Indonesia, sedangkan yang mereka pelajari adalah berbagai permasalahan sosial di negara-negara lain? Akan sangat sulit menemukan titik terang untuk menyelesaikan berbagai permasalah sosial di Indonesia jika kondisinya terus berlanjut seperti ini. Untuk itu, seharusnya Indonesia memiliki aliran psikologi tersendiri. Agar kondisi sosial yang buruk di Indonesia bisa dengan mudah dipelajari oleh para psikolog tanah air. Sehingga pemecahan permasalahannya pun akan dengan mudah terlaksana.

“Bangsa kita memiliki problema sosial tersendiri, karenanya belajarlah dari kondisi yang ada pada bangsa ini!” –Fitria-

 


 

Itu saja sobat blogger yang bisa sampaikan hari ini. Terimakasih ya, telah menyempatkan diri untuk membaca tulisan saya. Semoga bermanfaatJ




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den