Langsung ke konten utama

KEINDAHAN DATANG KARENA KETULUSAN CINTA

Hai bloggers.... ini adalah salah satu cerpen karya Fitria yang pernah diikutsertakan di Lomba Mengarang Tupperware tahun 2012 lalu:)



KEINDAHAN DATANG KARENA KETULUSAN CINTA

 

Hussshhhhhh….

                Semilir angin pagi mengusap lembut wajahku. Mengusik ketenangan pagi dengan irama kesyahduan alam. Hujan yang mengguyur desa tadi malam menyisakan genangan air di lubang-lubang sepanjang jalan.

                Matahari masih bersembunyi di balik peraduannya. Langit Desa Progo masih agak gelap dengan bulan yang samar-samar menghiasinya. Masih pagi memang, namun desaku ini tak pernah kehilangan aktivitas warganya. Sejak mentari datang hingga senja menjelang, selalu saja kutemui warga di sepanjang jalan desa yang letaknya di kaki Gunung Merbabu ini.

                Kukayuh sepedaku agar segera tiba di sawah bapak yang letaknya tak jauh dari rumah. Aku Dayu. Sejak lulus dari bangku SMA, aku memutuskan untuk membantu bapak dan ibu menggarap sawah. Keterbatasan biaya yang menjadikanku seperti ini. Kalau saja bisa ku lanjutkan pendidikanku, aku ingin sekali menjadi seorang sarjana lingkungan hidup, lebih tepatnya aku ingin sekali menjadi seorang duta lingkungan. Karena bagiku bumi ini akan tetap hijau dan indah seutuhnya kalau saja banyak orang yang berniat besar untuk mencintai lingkungan. Tetapi, di zaman seperti ini masih adakah orang-orang yang berfikir kritis seperti itu?

***

                “Pak le, tunggu sebentar!” Kuhalangi jalan sepeda  Pak Tejo.

                Seraya menunjuk ke sekelompok orang bertopi kuning yang berdiri di sepanjang pinggiran Kali Sedayu, “Itu ada apa sih, Pak le? Kok banyak orang?”

                “Aduh, ndok. Pak le kira ada apa. Lah kamu memangnya  ndak tau, kan di situ mau didirikan pabrik minyak ikan?” Pak Tejo menunjuk orang-orang itu sambil membuka caping yang sejak tadi menutupi kepalanya.

                “Yang bener Pak le? Kok Dayu nggak tau ya?” Tanyaku sedikit bingung.

                “Lah wong kemarin kan ada musyawarah dibalai desa. Bapak sama ibumu saja ada kok.”

                “Terus semua warga setuju dengan rencana pembangunan pabrik itu?” Aku semakin penasaran mendengarkan penjelasan dari Pak Tejo.

                “Lah iya. Kata Pak Lurah desa kita ini akan mendapat untung besar kalau pabrik itu ada. Memangnya ada apa, ndok?” Tanya Pak Tejo padaku. Aku terdiam.

                “Ndok? Dayu? Ya uweslah, Pak le mau ngasih makan kambing dulu. Nanti rumputnya keburu kering ini.” Lanjut Pak Tejo sambil menunjuk sekeranjang rumput segar yang diletakkan di boncengan sepeda miliknya. Pak Tejo seketika berlalu.

                Aku masih saja tercengang. Apa lagi ini? 3 tahun yang lalu orang-orang seperti ini juga punya niat yang sama. Bahkan lebih parah dari kali ini. Saat itu mereka berencana untuk mengubah Desa Progo menjadi daerah industri penghasil oli. Ya, lebih tepatnya ingin membunuh desa kami secara perlahan. Tak terbayang jika hal itu benar adanya. Tentu akan banyak asap-asap liar yang menghiasi langit desaku ini. Langitpun tentunya tak akan secerah hari ini. Untungnya itu hanya menjadi wacana belaka. Tapi yang kulihat saat ini apa?

                “Hei, sedang apa kau di sana?” Teriak seorang laki-laki yang tergabung dengan sekelompok orang bertopi kuning di bawah sana. Sepertinya ia sedikit lebih tua dariku.

                Ia lalu menghampiriku yang sedang berdiri mematung di atas jembatan Kali Sedayu, “Kau siapa? Ada perlu apa datang kemari?”

                “Aku Dayu, warga di desa ini. Aku hanya ingin melihat niat jahat kalian. Oh iya, memangnya kamu ini siapa sih?” Tanyaku sambil menyipitkan mata karena sedikit kepanasan akibat terpaan sinar matahari.

                “Perkenalkan, aku Banyu. Niat jahat apa maksudmu?” Tanya laki-laki itu penasaran.

                “Kalian akan mendirikan pabrik minyak ikan di sana, kan?” Aku semakin sinis padanya.

                “Lah, memangnya itu niat jahat? Kamu ini sekolah nggak, sih? Masa mendirikan pabrik dibilang niat jahat. Kamu dan seluruh warga di desa ini harusnya bersyukur dengan kehadiran pabrik ini, karena kalian akan mendapatkan keuntungan yang besar.” Katanya meyakinkanku.

                Aku semakin geram pada laki-laki yang baru kukenal ini, “Keuntungan yang besar hanya untuk kalian. Bukan untuk kami. Lagian kalau bicara itu yang sopan! Aku saja yang hanya lulusan SMA bisa lebih menghargai orang lain dibandingkan kamu yang berdasi seperti ini. Kalian hanya akan membunuh kehidupan di desa ini. Kehadiran kalian malah akan merusak lingkungan bukan memberi keuntungan.” Kataku dengan nada yang ditinggikan. Perempuan kan juga bisa berwibawa, fikirku.

                “Tau apa kamu perempuan desa? Lulusan SMA saja omongannya seperti punya banyak cara untuk mengalahkan kehendak kami.”

                “Aku memang hanya lulusan SMA. Tapi pola fikirku lebih baik dari kalian. Aku yang lebih muda saja bisa menempatkan diri dengan baik di lingkungan desaku ini, tapi bagaimana dengan kalian? Siapa bilang aku tak bisa mengalahkan kalian? Aku punya dua tangan dan dua kaki. Bila Tuhan berkehendak, bisa saja itu melalui kedua tangan dan kakiku. Lihat saja, kupastikan pabrikmu itu tidak akan bertahan lama.” Kataku sambil meninggalkannya.

                Dari kejauhan kudengar Banyu berkata, “Coba saja! Kutunggu janjimu itu, Dayu! Si perempuan desa yang omongannya sejagad.”

                Aku mencoba untuk tetap tenang mendengar kata-katanya dari kejauhan. Panasnya sengatan matahari yang menggelitik ubun-ubunku tak sebanding dengan rasa kesal yang kini menderaku. Mana mungkin aku hanya akan diam melihat keadaan seperti ini. Aku takkan pernah rela jika keindahan Desa Progo hanya akan menjadi kenangan. Manusia memang tak pernah puas dengan apa yang didapatkannya. Padahal Tuhan telah menciptakan alam seindah ini. Sepatutnya mereka untuk bersyukur, karena mereka tentu tidak akan hidup jika berdampingan dengan alam yang kering, tandus, dan kehilangan kesejukan bahkan keindahannya yang jelas-jelas itu sudah tak lagi bersahabat. Tapi mereka malah mengharapkan hal itu terjadi secara tidak langsung demi setumpuk harta.

***

                3 tahun berlalu. Pabrik minyak ikan itu kini berdiri di pinggir Kali Sedayu. Mereka mengeksploitasi ikan-ikan yang banyak hidup di kali itu. Setiap sore menjelang senja, selalu saja kudengar bunyi ledakan yang ketika kutahu ternyata bersumber dari Kali Sedayu. Limbah cair sisa hasil pengolahan minyak ikan di pabrik itu dibuang seenaknya di Kali Sedayu. Tak ayal, jika setiap hari aku dan seluruh warga desa harus rela menghirup udara tak nyaman yang datang dari limbah cair itu. Rasa sesak yang kami rasakan sangatlah mengganggu aktivitas kami. Tak hanya sampai di situ kerugian yang kami rasakan, sebagian warga Desa Progo, seperti : Pak Badrun, bu Fatimah, dan Bu Asri harus rela kehilangan matapencaharian mereka sebagai pencari belut di Kali Sedayu. Keadaan ini membuatku semakin terpukul terlebih setiap sore selalu kulihat mereka di Kali Sedayu menanti limbah cair pabrik yang akan mengalir di sungai itu untuk dijadikan sepeser uang. Aku yang melihatnya menangis dalam hati. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan kehidupan di desa kami. Bagaimana cara mengentikan ini semua, Tuhan?

 

                Allahuakbar… Allahuakbar…

                Kumandang adzan maghrib membelah kesyahduan di langit desa. Mengisi keheningan yang hadir tatkala mentari berganti senja. Desiran angin malam menggema dalam gelapnya cakrawala, hadirkan kesunyian yang memagari suasana pekat di kaki  gunung. Mentari tak lagi berdiam di langit ataupun sekedar mengintip dari balik garis horizontal savana. Bisikan jangkrik serta gurauan burung memekik merdu hadirkan simfoni keindahan. Langit jingga berlapis gulita telah memutar kehidupan desa.

                Sebuah bangunan kecil kokoh berdiri didekat Kali Sedayu. Dindingnya putih memucat akibat goresan air hujan. Atapnya sedikit berlubang yang memungkinkan hadirnya semburat cahaya mentari. Adalah sebuah surau tua di desaku. Setiap adzan menggema, warga desa selalu menjadikan surau ini sebagai rumah kedua mereka. Begitu pula saat ini. Segala keindahan yang ada di Desa Progo ini tentu hanya akan menjadi sebatas kabut ataupun bayang-bayang belaka jika pabrik minyak ikan itu terus mengembangkan industrinya. Yang paling mengernyitkan hati adalah ketika aku tahu seorang warga desa Progo menjadi korban kenakalan pabrik itu. Dialah Danu. Seorang bocah berusia 6 tahun yang 4 hari lalu meninggal dunia setelah kepalanya terbentur batu besar di Kali Sedayu akibat menginjak limbah cair buangan pabrik minyak ikan itu. Ironis memang. Akan terasa memekakan telinga jika kejadian itu terus menjadi isu yang hangat di desaku. Mengapa harus kami yang menjadi korbannya? Bukankah harusnya mereka yang merasakannya? Karena merekalah yang tak pernah mencintai dan menghargai  alam ini.

                Usaha-usaha yang kulakukan untuk menghentikan industri pabrik minyak ikan selama beberapa tahun ini belum juga membuahkan hasil. Sudah berbagai cara kupergunakan untuk menaklukkan mereka. Bahkan beberapa bulan yang lalu aku mengajukan permohonan pada Dinas Lingkungan setempat untuk menangani kasus pencemaran di Desa Progo. Namun tak ada tanggapan yang serius dari mereka. Ya, itu karena mereka tak merasakan langsung dampak kehadiran pabrik itu, batinku. Pak Lurahpun tak pernah mendengarkan keluh kesah dariku. Pekerjaan ini bertambah berat terlebih tak ada seorangpun yang mendukung usahaku, terkecuali bapak dan ibu yang selalu memberiku saran dan semangat saat aku mulai putus asa dengan keadaan ini. Mereka sangat mengerti apa yang kurasakan sebagai generasi muda yang mengharapkan alam ini tetap terjaga keindahannya.

                “Dayu! Dayu!” Seorang laki-laki mengenakan kemeja putih dengan sarung berwarna coklat menghampiriku. Aku hampir tak mengenalinya.

                “Aku Banyu. Yang dulu pernah bertemu denganmu dan sedikit merendahkanmu. Maaf soal itu.” Ternyata laki-laki itu Banyu. Ia sedikit menunduk ketika aku mencoba untuk mengenalinya.

                “Oh kamu ya? Ada perlu apa sama aku?” Jawabku.

                “Ternyata kamu benar. Harusnya sejak dulu aku mengikuti saran darimu.” Aku sedikit mengernyitkan mata sambil bertanya-tanya dalam hati ketika ia berkata seperti itu.

                “Maksudnya apa sih?”

                “Dayu, aku tau kalau kamu itu gak pernah suka dengan hadirnya pabrik minyak ikan itu. Aku baru menyadari bahwa pekerjaanku itu salah. Dan sekarang aku mau kita bekerja sama untuk menghentikan pengembangan industri pabrik itu. Bahkan aku sangat rela jika pabrik itu bangkrut dan hancur.” Kata Banyu panjang lebar.

                “Tunggu dulu! Gak mungkin hanya itu alasan kamu mau bekerja sama denganku.” Aku mulai curiga padanya.

                “Aku perlu cerita sesuatu sama kamu.” Banyu mengajakku berbincang di depan surau seusai melaksanakan shalat maghrib.

                “Dayu, aku gak bermaksud untuk manfaatin kamu. Tapi, jujur saja aku juga mulai muak atas perlakuan Pak Surya, pemilik pabrik itu, terhadap para karyawannya, termasuk aku. Ia bertindak seenaknya pada kami. Selama 3 tahun bekerja dengannya, tak pernah sekalipun ia menggaji kami.” Kata Banyu.

                “Lalu apa gunanya kau cerita padaku? Pabrik itu tidak akan pernah hancur jika hanya kita berdua yang menyadari betapa dirugikannya kita atas kehadiran pabrik itu. Banyu, aku memang mencintai lingkungan desaku ini. Bahkan sejak SMA aku ingin sekali menjadi seorang duta lingkungan. Tapi, warga desa terlanjur menerima kehadiran pabrik itu. Kita akan sulit menghancurkannya terlebih Pak Lurah memberi izin terhadap pendirian pabrik itu.” Kataku pada Banyu yang berdiri mematung mendengarkan penyampaianku.

                Banyu tertawa kecil lalu menatapku, “Dayu, kau kan yang dulu berjanji padaku untuk menghancurkan pabrik minyak ikan itu? Kau pernah berkata jika Tuhan berkehendak, bisa saja itu melalui kedua tangan dan kakimu. Kita akan semakin mudah untuk menghancurkan pabrik itu karena aku punya bukti tentang ketidasahan pendirian pabrik itu. Lagipula aku kan tidak sendirian. Teman-temanku juga berambisi sama seperti kita ini.”

                “Maksudmu apa? Bukankah pabrik itu berdiri secara resmi?”

                “Tidak, Dayu. Pabrik minyak ikan itu ilegal walaupun sudah mengantongi izin resmi dari Pak Lurah. Tapi surat-surat yang diberikan Pak Surya kepada Pak Lurah mengenai pendirian pabrik itu adalah palsu. Aku juga tak habis fikir, ternyata semudah itu untuk membohongi Pak Lurah.” Kata Banyu padaku.

                “Kau serius, Banyu? Berarti kita akan semakin mudah untuk menghancurkannya, bukan?” Aku menatap Banyu lama dengan wajah berbinar karena terlalu senang.

                “Iya, jadi kau mau kan bekerja sama denganku juga teman-temanku? Lagipula apa kau tega suatu saat nanti desa ini hanya akan menjadi kenangan? Desa ini akan terlelap selamanya jika pabrik itu terus mengembangkan industrinya. Jujur, aku sangat terpukul atas meninggalnya Danu. Aku malah berfikir jika aku terus menjadi karyawan pabrik itu, secara tidak langsung aku malah akan membunuh satu persatu warga Desa Progo. Maaf Dayu, selama ini aku tidak pernah mendengarkan saran darimu dan tak menyadari betapa baiknya Tuhan pada kita. Alam seindah ini malah aku rusak demi sebuah pekerjaan.” Jelasnya padaku dengan nada yang kecewa.

                “Bersyukurlah, Banyu! Karena Tuhan memberimu kesempatan untuk menyadari hal itu. Sekarang kau tau bagaimana rasanya dirugikan, bukan? Ketahuilah, aku sangat membenci kehadiran pabrik itu karena aku berfikir bahwa pemilik pabrik itu merasa mudah untuk memperdaya masyarakat desa dengan cara mencemari lingkungan kami. Susah payah kami berupaya untuk tetap menjaga karunia Tuhan, tapi mereka malah merusaknya. Jika datang bencana, selalu saja pemerintah yang disalahkan. Padahal nyatanya itu ulah mereka sendiri. Aku merasa beruntung bertemu orang seperti kamu, Banyu. Kita sependapat dalam berfikir. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk memecahkan permasalahan ini. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menyusun rencana supaya kita bisa lebih cepat untuk menghancurkan pabrik itu. Bagaimana?” Setelah bicara panjang lebar, aku meminta pendapat pada Banyu. Iapun mengiyakan pendapatku. Malam itu kami menyusun rencana bersama teman-teman Banyu. Alunan suara jangkrik mengubah kesunyian malam menjadi kesyahduan alam. Terima kasih Tuhan. Jalan itu akhirnya kau tunjukkan untukku.

***

 

                Rencanaku dan Banyu untuk menghancurkan pabrik minyak ikan itu nyatanya terwujud berkat bantuan warga dan pihak kepolisian setempat. Beberapa minggu yang lalu, aku, Banyu beserta teman-temannya melaporkan Pak Surya pada pihak berwajib mengenai pemalsuan surat-surat keterangan Pendirian pabrik minyak ikan itu. Laporan itu kami lengkapi dengan meninggalnya salah seorang warga Desa Progo. Karena didukung dengan bukti-bukti yang kuat, Pak Surya akhirnya ditahan. Seluruh karyawannya terpaksa kembali ke kota karena pabrik itu kini disegel pihak kepolisian.

                Kebahagiaanku semakin bertambah saat aku ditunjuk sebagai Duta Lingkungan Hidup oleh Dinas Lingkungan Desa Progo. Walau hanya menjadi duta di desa, bukankah sangat mahal untuk mendapatkannya? Tak hanya itu, kini desaku memproduksi minyak ikan secara tradisional. Bahkan kerja keras warga Desa Progo dalam memproduksi minyak ikan selama beberapa bulan terkahir telah membuahkan hasil. Desa Progo kini menjadi desa industri terbesar penghasil minyak ikan di Yogyakarta. Limbah cairnya tak lagi mencemari Kali Sedayu. Namun diolah untuk dijadikan bahan bakar penggerak traktor. Hal ini diciptakan Banyu, yang kini menjadi ketua pengolahan minyak ikan tradisional di Desa Progo, sekaligus menjadi teman baruku. Ternyata dia adalah sosok lelaki yang baik. Saat itu aku hanya belum mengenalnya jauh lebih dalam.

                “Terimakasih, Banyu. Kamu sudah mengubah kehidupan dan pola fikir kami.” Kududuk di samping Banyu seraya menatapnya. Dia membalas tatapanku, lalu tersenyum.

                “Bukankah harusnya aku yang berterimakasih padamu? Kamu yang sudah menyadarkan aku untuk lebih mencintai lingkungan. Dayu, aku suka caramu menghargai karunia Tuhan. Kamu itu perempuan desa, tapi caramu berfikir dan menyikapi segala sesuatu sangatlah berbeda dengan perempuan-perempuan di kota. Aku menyukai kedewasaanmu. Karena hal itulah yang mebuat warga desa mencintai kehadiranmu, termasuk aku.” Dua hal yang disukai Banyu dariku adalah yang membuatku tersenyum saat ini. Aku bahkan baru menyadari bahwa Banyu menganggapku berbeda.

                Hembusan angin sore memainkan beberapa helai rambutku, “Terimakasih Banyu atas pujianmu. Banyu, alam ini adalah karunia Tuhan yang dititipkan pada kita. Jadi, sepatutnya kita untuk menjaganya. Kita tidak boleh tamak ataupun serakah! Agar kelak anak cucu kita bisa ikut menikmatinya. Bumi ini tidak selamanya muda dan bersahabat. Akan ada saat dimana bencana menghujam kita. Jadi, sayangi dan cintai bumi ini! Agar segala keindahannya tak termakan oleh waktu dan zaman.”

                “Kau begitu pintar, Dayu. Dunia ini akan sangat beruntung jika semua penghuninya mempunyai jiwa sepertimu.” Katanya padaku. Langit sore menyaksikan kebersamaan kami. Samar-samar mentari mengintip dari balik awan nan biru.

                Terimakasih Tuhan karena telah memberi alam seindah ini dengan orang-orang di dalamnya yang sangat tulus mencintai kehadiranku. Mereka adalah karunia terindah kedua setelah alam yang indah ini. Terimakasih untuk kedua orangtuaku, kalianlah yang menanamkan semangat untukku setiap kali aku tertunduk pilu. Untuk Banyu, motivasi dan segala pujian darimu yang telah mengagungkan namamu di mataku. Yang sangat aku pahami hingga detik ini adalah bahwa sebuah keindahan yang ada di alam ini datang karena ketulusan cinta dari para penghuninya. Aku takkan pernah menjadi Dayu seperti saat ini tanpa adanya perubahan yang kalian tanamkan pada diriku. Terimakasih untuk segalanya.

 

 

 

SELESAI…………

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review - Why attachment is really important in shaping our lives, especially for our future relationship?

  "Attachment begins in the first relationship of life, the relationship of with the mother. This relationship begins early, even before birth. It can be heavily influenced by the circumstances of birth, including the parents' readiness and desire for the baby, the mothers' mental and emotional state around birth, and birth procedures... Even the levels of mothers' hormones have been found to have an effect, with higher levels of oxytocin supporting more attachment behaviors by mothers..." Continuing my previous review of this book, in this part I will be focused only on the chapter about Attachment with our mother. To be honest, this section is one of my favorite parts of the book with the title The Emotionally Absent Mother. Why? Because attachment has a significant impact on our brain development, mental health, and future relationships. Even research indicates that attachment is created not just from meeting the immediate physical needs of the infant but also

Book Review - The Emotionally Absent Mother

"Few experiences in life are as deep as the feelings we carry about our mothers. The roots of some of these feelings are lost in the dark recesses of preverbal experience. The branches go every which way, some holding glorious, sun-drenched moments, while others are broken off, leaving sharp and jagged edges that we get caught on. Mother is not a simple subject..." Disclaimer: As with any exercise provided by this book, this may bring up uncomfortable feelings, so you will want to pace yourself. If you find yourself feeling overwhelmed, you might let it go for now and come back to read this book again when you are ready. It's 10 PM o'clock here when I write down these few paragraphs. No, this is not only about time but also a matter of decision, because this book is my bibliotherapy. So I involve my logic and also my feelings regarding the contents of this book. I will explain to you not only based on the information that I received from this book but also how this bo

Sepekan Kemarin

Beberapa pekan lalu, kita agaknya terbungkus dalam perasaan yang menggembirakan, ada hal penting yang menakjubkan, sebab kita sedang mempersiapkan pertemuan. Sebagian datang dengan banyak harapan, sebagian yang lain menantikan perjumpaan. Tidak berlebihan rasanya, kalau perjumpaan sore itu, 18 Juni 2023, adalah kenangan yang begitu manis dan tak terlupakan. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan kita dengar cerita-cerita hebat dari gugusan Pulau-Pulau di Indonesia. Jika bukan karena PK ini, rasanya tak akan pernah ada perkenalan yang akhirnya menyisakan memori dan kenangan. Kita datang tak hanya dengan berbekal pakaian dan catatan kecil pelengkap kegiatan, tetapi juga keberanian dan mimpi-mimpi besar yang kemudian saling kita bagikan. Terima kasih sudah menjadi kawan yang menyenangkan selama sepekan kemarin. Ingatlah selalu memori saat kita duduk berhadapan dan tanpa sungkan membangun topik pembicaraan :) Dulu sekali, bahkan sedetik pun tak pernah ada dalam bayangan bisa bersua den